Lepaskan

Renungan Minggu 20 Maret 2016

Pekan Suci

HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

Bacaan: Luk 19:28-40. Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14- 23:56 (Luk. 23:1-49)

Hari ini kita merayakan hari Minggu Palma, oleh Gereja kita diajak merayakannya seolah-olah kita adalah umat Yerusalem yang ikut bersorak-sorai menyambut Yesus dengan mengangkat daun palma dan berseru, “Hosana… Hosana…”, lalu beberapa hari kemudian kita ikut berteriak, “salibkanlah dia… salibkanlah dia….” seolah-olah kita juga telah berkhianat kepada Yesus. Yesus dielu-elukan pada awalnya namun dijatuhkan pada akhirnya.

Sering dalam hidup ini kita menjumpai orang-orang yang pada awalnya menurut pandangan kita hebat, baik, pandai, berbakat, lemah lembut, sehingga kita memuji-muji orang tersebut dan mungkin berharap dapat bekerja sama dengan dia ataupun berharap dapat bantuan dari orang tersebut. Namun ujung-ujungnya berakhir dengan kekecewaan, kemarahan atau kebencian setelah kita mendapati tidak lagi sesuai dengan harapan kita. Dan kita mulai menjauhi atau tidak tertarik lagi atau tidak berminat lagi untuk berteman atau berhubungan dengan orang tersebut, bahkan mungkin kita mulai menjauhi orang tersebut.

Sebagai murid Yesus kita harus belajar seperti Yesaya yang tidak mudah patah semangat menghadapi kekurangan dan kelemahan orang lain (Yes 50:4-7). Yesaya selalu memohon agar diberikan perkataan-perkataan yang dapat membangun semangat orang lain yang letih lesu. Orang yang letih lesu adalah orang yang berbeban berat dan biasanya mungkin karena terlalu fokus pada diri sendiri dan masalahnya sendiri sehingga kerap kali tingkah lakunya menjadi menjengkelkan bagi orang lain. Mereka adalah orang-orang yang perlu disembuhkan jiwa raganya, perlu diiingatkan untuk bersyukur, untuk fokus pada berkat-berkat Tuhan yang sudah diterima, mereka perlu dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan, dipulihkan dan dijadikan baru.

Seperti Yesaya, kita juga mau belajar tahan menderita, memberikan punggung kepada orang yang membenci kita (menjengkelkan), mau berkorban demi orang lain. Kita belajar meneguhkan hati, dengan memberikan pengampunan, menerima orang lain tanpa syarat, dengan kasih yang besar seperti Yesus mengasihi umatNya sampai mati di kayu salib.

Dalam pekan suci ini Tuhan Yesus meminta sesuatu kepada kita untuk kita lepaskan (Lukas 19:31) apakah itu pengampunan bagi orang-orang yang tidak memenuhi harapan kita? Apakah itu waktu untuk sesama kita yang perlu kita pedulikan? Ataukah tenaga/kunjungan/tumpangan kepada mereka yang membutuhkan ataukah uang tanpa menghitung untung dan ruginya? Atau pikiran-pikiran yang mana? atau kelekatan-kelekatan terhadap gadget-gadget? Ataukah harga diri gengsi kita?

Lepaskan! Apa yang perlu dilepaskan melalui sakramen tobat, rahmat Tuhan dicurahkan melimpah, semoga kita dapat memasuki pekan suci ini dengan hati yang murni dan berkenan bagi Tuhan. Amin. Tuhan Memberkati.

PPT