Kepekaan Yang Berbuah Tindakan Kasih

Renungan Selasa 8 Maret 2016

Bacaan: Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16

Shalom,

Pada saat saya membaca Injil ini saya diingatkan bahwa banyak orang di sekitar kehidupan saya yang menderita yang membutuhkan pertolongan. Dan seringkali saya tidak mempedulikannya karena kesibukan saya. Seperti  contohnya saya pernah melihat seorang bapak tua sedang berjualan pangsit mie yang sudah dibungkus di pinggir jalan di sebuah lampu merah. Saya melihatnya dan langsung merasa iba karena melihat kondisinya yang tua, memprihatinkan tapi masih harus berjuang untuk hidup dengan melakukan usaha yang seperti itu. Pada saat saya melewati beliau lampu masih hijau sehingga saya melewatinya saja. Ya, perasaan iba muncul tapi saya biarkan karena sudah lewat dan saya masih punya tujuan lain. Ada penyesalan kenapa saya tidak memutar balik dan membeli barang dagangannya sekedar membantu supaya paling tidak dagangannya laku. Karena dari cara dia menjual pangsit mie yang sudah bungkusan, menurut saya kemungkinan besar tidak akan laku.

Saya termasuk orang  yang kurang peka, dan empati saya sangat kurang. Saya menyadari kelemahan saya ini.

Dalam Bacaan Injil hari ini saya melihat bahwa Allah selalu mengulurkan tangan kasih-Nya untuk membantu dan menyembuhkan orang-orang yang datang mencari kesembuhan di kolam Betesda. Tetapi tidak sedikit yang tidak mampu menggapai pertolongan itu karena ketidakmampuan mereka seperti orang sakit yang diceritakan di dalam Injil tersebut yang sudah 38 tahun sakit menderita dan selalu kalah cepat dari yang lain sehingga menderita begitu lama. Di sinilah kita sebagai anak-anak Allah menjadi sangat dibutuhkan. Seperti Tuhan Yesus yang tergerak oleh belas kasihan karena tahu bahwa orang itu sudah menderita begitu lamanya.

Saya diingatkan bahwa begitu banyak orang yang menderita dan tidak mampu untuk keluar dari penderitaannya dengan kemampuannya sendiri. Mereka butuh pertolongan saya. Mereka butuh pertolongan kita anak-anak Allah yang sudah diberikan berbagai kelebihan oleh Bapa.

Saya menyadari kekurangpekaan saya dan empati yang lemah terhadap penderitaan orang yang ada di sekitar kehidupan saya, tetapi saya masih belum belajar berusaha dengan baik untuk mengubahnya meskipun punya kerinduan untuk mengubahnya. Tuhan ampuni saya.

Doa : Tuhan Yesus Allah yang Maharahim saya mohon kiranya Tuhan membuka pikiran dan hati saya serta memberikan saya jalan dan rahmat yang daripada-Mu, supaya saya dapat mulai membangun kepekaan dan melakukan tindakan nyata kasih akan penderitaan sesama saya yang boleh Tuhan perlihatkan pada saya di sekitar kehidupan yang saya jalani secara langsung dan tidak menunda-nunda, apalagi mengabaikannya. Ampuni saya Tuhan karena kekurangpedulian saya ini dan ubahkan saya Tuhan agar benar-benar layak disebut murid Kristus dan anak-anak Allah. Amin

VSH