Ekaristi dan Kebangkitan Kristus

Renungan Kamis Maret 2016

Bacaan: Kis. 3:11-26; Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9;Luk. 24:35-48

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini, dapat kita lihat kesaksian penuh sukacita yang diberikan kedua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus kepada murid-murid yang lain, bagaimana mereka bertemu Tuhan Yesus yang bangkit, dan mengenali bahwa itu sungguh-sungguh Tuhan ketika Ia memecah-mecahkan roti (Luk 24:35).

Jika kita renungkan para murid ini justru mengenali Kristus yang bangkit, ketika Ia  memecah-mecahkan roti. Demikian juga kita sebagai murid-murid Kristus, kita dipanggil untuk mengenali Kristus yang bangkit melalui pemecahan roti dalam Ekaristi.

Apa yang terjadi pada saat Ekaristi?

Dalam Ekaristi peristiwa sengsara, wafat Yesus di salib dan kebangkitanNya DIHADIRKAN SECARA AKTUAL.

“Ekaristi adalah kenangan akan Paskah Kristus, yang menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban satu-satunya dalam liturgi TubuhNya, yaitu Gereja” (KGK 1362).

Dalam pengertian Kitab Suci “kenangan” tidak hanya mengenangkan peristiwa masa lampau, tetapi dalam perayaan liturgi peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup kembali (bdk. KGK 1363). Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru, setiap kali Gereja merayakan Ekaristi, maka Gereja mengenangkan Paskah Kristus, Paskah ini “DIHADIRKAN” (Bdk. KGK 1364).

Dalam misteri Paskah Kristus, peristiwa penderitaan Kristus, wafatNya di salib dan kebangkitanNya adalah misteri yang tidak terpisahkan.

Oleh karena itu dalam Ekaristi, kurban Kristus di atas salib, yang satu kali untuk selama-lamanya dan kebangkitan Kristus dihadirkan secara aktual (bdk. KGK 1364-1367).

Sungguh suatu rahmat yang sangat besar, kita yang terpisah jarak dan waktu dengan peristiwa kurban Kristus di salib dan kebangkitanNya, tetapi melalui EKARISTI maka peristiwa tersebut “dihadirkan secara aktual”, artinya kita juga dapat mengambil bagian secara aktif dalam kurban Kristus di salib dan kebangkitanNya melalui Ekaristi.

Suatu konsekuensi yang besar, dengan diikutsertakan dalam peristiwa kurban Kristus di salib dan kebangkitanNya, yang dihadirkan dalam Ekaristi, maka setiap doa, pujian penyembahan, pekerjaan, pelayanan, persembahan, suka duka hidup ini, kurban, penderitaan, dan salib hidup kita sehari-hari dapat memiliki nilai penebusan, karena disatukan dengan kurban Kristus.

Inilah satu poin penting yang perlu kita sadari saat persembahan dalam Misa, di mana Imam mencampur anggur yang nantinya akan dikonsekrasi menjadi Darah Kristus, dengan sedikit air (biasanya air diambil dengan sendok yang sangat kecil), air yang melambangkan persembahan diri kita, yang dipersatukan dengan persembahan diri Kristus dalam Ekaristi, dalam rupa anggur.

Ekaristi adalah juga kurban Gereja.

Gereja, tubuh Kristus mengambil bagian dalam kurban Kepalanya. Kehidupan umat beriman, pujian, penderitaan, doa dan karyanya dipersatukan dengan kurban Kristus, sehingga memiliki nilai baru. Kurban Kristus yang hadir di atas altar memungkinkan semua generasi Kristen, untuk bersatu dengan kurbanNya (KGK 1368).

Suatu rahmat besar, apapun yang terjadi dalam hidup kita, bisa dipersatukan dengan kurban Kristus dalam Ekaristi, dan oleh karena penebusan Kristus, maka setiap kurban yang kita persembahkan tidak pernah sia-sia, tetapi berguna untuk keselamatan jiwa dan kepentingan Gereja. Inilah mengapa setiap kali selesai persembahan, kita bersama-sama mengucapkan: “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan, dan keselamatan kita, serta seluruh umat Allah yang kudus”.

Dengan menyadari pengajaran Gereja tentang Ekaristi ini, semoga seperti para murid yang berjalan menuju Emaus, maka mata hati kita juga selalu dicelikkan untuk mengenali Kristus yang telah wafat dan bangkit mulia, melalui pemecahan roti dalam Ekaristi. Amin.

ET