Apa Yang Hilang

Renungan Minggu 6 Maret 2016

Bacaan: Yos. 5:9a,10-12; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32.

Cerita tentang anak yang hilang kiranya menjadi contoh nyata gerakan pertobatan batin yang indah untuk kembali mendapatkan kelimpahan cinta kasih di rumah hati Bapa. Kesadaran si anak akan harta (rahmat) pemberian Sang Bapa yang telah salah digunakan membuat hati tergerak untuk menciptakan niat, datang meminta ampun sekaligus keberanian untuk menerima hukuman dari Sang Bapa atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Tapi, lihatlah reaksi Sang Bapa yang tidak bertanya tentang ke mana harta pemberiannya dan untuk apa semua harta itu telah digunakan, sungguh mendatangkan kembali harkat dan martabat si anak.

Pakaikanlah sandal pada kakinya, pakaian pada badannya dan cincin pada jarinya menunjukkan bagaimana Allah akan mendandani jiwa kita dengan kasih yang tak terbatas dan tak berkesudahan, sehingga bagi yang masih menunda untuk mengaku dosa saat ini, mari kita  renungkan dengan bertanya; “Bukan apakah Allah akan mengampuniku atau tidak, melainkan apakah saya mau bertobat?”

Kalau pengampunan itu seperti air yang ada di dalam bak, sedangkan pertobatan adalah gerakan tangan yang memutar kran air. Air akan tercurah di dalam ember jiwa kita jika tangan pertobatan bergerak memutar kran itu. Dengan demikian, pertanyaan seharusnya bukan “apakah ada air di dalam bak itu atau tidak, melainkan apakah ada tangan yang mau bergerak memutar kran air itu?”

Cerita tentang anak yang hilang sering difokuskan kepada mereka yang berstatus anak, atau setidak-tidaknya semua pembaca atau pendengar merasakan diri sebagai anak yang hilang. Baiklah di saat ini, masing-masing kita merenungkan bacaan ini sesuai dengan status kita masing-masing; Ada orang tua: papa dan mama, ada suami-istri, ada orang orang muda dan anak-anak; ada guru dan murid, ada bos dan karyawan dan berbagai status sosial lainnya, sebab sebenarnya masalahnya terletak bukan pada “siapa yang hilang melainkan apa yang hilang dari diri kita masing-masing.”

Kita sering bertanya ; Berapakah anak yang hilang rasa hormat dan kesetiaannya terhadap orang tuanya sehingga menyebabkan luka di hati orang tua mereka? Berapakah orang tua yang karena egonya telah kehilangan kasih sayang dan perlindungan yang nyata, yang membuat anak-anak merana dan merasa asing di rumah sendiri? Berapakah  guru yang kehilangan sifat bijaknya sebagai guru sehingga membuat murid tidak bisa memahami apa yang diajarkan? Berapakah bos perusahaan yang telah kehilangan rasa kemanusiaan sehingga memperlakukan karyawan/wati dengan tidak adil? Berapakah pekerja yang telah kehilangan jiwa pengabdian dan hanya berpikir tentang uang dan keuntungan? Litaninya bisa diperpanjang sampai buku kehidupan tak mampu mencatatnya, tapi sungguh, bukan manusia yang hilang tapi ada sesuatu yang telah hilang dalam hati kita masing-masing, baik kita sebagai orang tua, anak, guru, karyawan, bos atau apa pun status kita saat ini.

Masa tobat masih terbentang luas sehingga menjadi kesempatan untuk mengembalikan semua nilai Kerajaan Allah yang telah hilang dalam diri kita masing-masing akibat keegoan, kesombongan dan keangkuhan. Baiklah di masa pra Paskah ini hati kita berbalik dari yang sombong menjadi rendah hati; dari yang tidak adil menjadi jujur; dari yang berdosa kepada yang suci dan kudus; serta dari yang tegar dan keras menjadi lembut. Intinya, baiklah di masa yang penuh rahmat ini, setiap hati selalu merindu kelimpahan rahmat di rumah hati Bapa di Surga dengan berkata; “Aku akan pergi kepada Bapa dan mengatakan kepada-Nya; Bapa, aku telah berdosa terhadap Bapa. Aku tak pantas disebut anak Bapa lagi.

Jika kita mau datang dan mengakukan semua dosa-dosa kita kepada Bapa dalam kamar pengakuan, maka kita pun akan merasakan pelukan Bapa yang hangat, mendengarkan kata-kata lembut-Nya, serta melihat senyum kebahagiaan di wajah Sang Bapa di dalam hati kita. Mari kita pergi karena Bapa sedang menanti kita. Setelah itu, datanglah dan kita akan saling berbagi dari hati ke hati bagaimana Bapa memperlakukan kita sebagai putra dan putri kesayangan-Nya.

Jangan biarkan  masa yang penuh rahmat ini berlalu dengan sia – sia. Ingatlah akan yang satu ini, kunci pengampunan itu sedang ada di tanganmu. Allah sedang menanti kunci pengampunan yang diberikan kepadamu, yakni pertobatanmu. Karena pertobatan adalah jiwa yang merindu akan kelimpahan rahmat Allah Bapa.

SWW