Anak Bapa di Surga

Renungan Rabu 9 Maret 2016

Bacaan: Yes. 49:8-15; Mzm. 145:8-9,13cd-14,17-18; Yoh. 5:17-30

Suatu ketika dari dalam kamar saya mendengar anak pertama saya membentak adiknya dengan sangat keras. Bentakan tersebut terdengar sangat keras dan spontan membuat saya ingin marah, tetapi ada ada sesuatu yang mengurungkan saya keluar dari kamar karena kata-kata, volume dan nada suara yang ia keluarkan persis sama ketika saya sedang memarahinya.

Injil hari ini memberikan refleksi tersebut kepada saya dalam dua hal:

  • Dalam hubungan saya dengan keluarga dan komunitas, apakah yang saya lakukan telah membuat anak-anak atau orang-orang di komunitas melakukan hal yang baik atau sebaliknya. Seringkali apa yang tidak saya sukai yang dilakukan oleh anak-anak saya ternyata mereka melihat apa yang saya lakukan, mereka melakukan apa yang mereka lihat dari orang tuanya bukan dari apa yang mereka dengar dalam nasehat dan peraturan-peraturan yang saya buat.

  • Ketika membaca perikop ini secara berulang-ulang ada hal yang ditekan oleh Tuhan Yesus, bahwa Dia melakukan sesuatu karena melihat Bapa, Dia menghakimi karena Bapa menyerahkan kepadaNya, sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diriNya sendiri demikian juga diberikanNya Anak hidup dalam diriNya sendiri, semua hal ini dirangkum oleh Yesus dengan kata-kataNya: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri” (ayat 30a)

Yesus yang adalah Putera Allah dalam kemanusiaan-Nya selalu menyadari bahwa Dia tidak dapat berbuat apa-apa dari diriNya sendiri. Ketika merenungkan hal ini saya menyadari bahwa rasa kuatir dan takut yang sering saya alami ketika menghadapi masalah-masalah, terjadi karena saya lebih banyak mengandalkan pikiran dan kemampuan saya. Demikian juga sebaliknya ketika saya berhasil melakukan sesuatu tidak akan ada kesombongan atau kebanggaan yang berlebihan karena Tanpa Allah aku tidak dapat berbuat apa-apa. Tuhan memberkati.

FH