Siapa Yesus Bagiku?

Renungan Senin 22 Februari 2016.

PESTA TAHTA ST. PETRUS, RASUL.

Bacaan: 1Ptr. 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19

Shalom saudara-saudaraku dari SEP dan KEP yang dikasihi Tuhan Yesus.

Hari ini Gereja merayakan PESTA TAHTA ST. PETRUS, RASUL.

Di dalam bacaan Injil hari ini, saat Yesus berjalan bersama para muridNya, Yesus mengajukan dua pertanyaan :

Pertanyaan 1. “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Dan para muridNya menjawab berdasarkan apa yang mereka dengar.

Pertanyaan 2. “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Hanya Simon Petrus yang memberikan jawaban, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Oleh hikmat Allah Bapa, Petrus mengenal secara benar siapakah Yesus itu dan Petrus diangkat oleh Yesus menjadi pemimpin gereja Kristiani. Dialah Paus yang pertama. Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus ini tersebar ke seluruh dunia dan masih berdiri hingga saat ini di bawah pimpinan Paus-Paus pengganti Petrus. Gereja itu adalah Gereja Katolik.

Mari kita jadikan Firman Tuhan hari ini sebagai cermin diri kita masing-masing, Firman yang berbicara secara pribadi kepada setiap kita.

Ketika Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan pertama kepada kita, masing-masing kita bisa mengatakan, “Menurut Pewarta A, Engkau adalah…. Menurut Pewarta B, Engkau adalah…, dan seterusnya”.

Ketika Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan kedua kepada setiap kita secara pribadi, apa jawabannya? Banyak orang yang bingung menjawabnya.

Sebetulnya, kita bisa menemukan jawabannya dalam sikap sehari-hari.

– YESUS SEBAGAI ORANG ASING: artinya, bagi orang ini, Yesus tidak punya arti sama sekali di dalam hidupnya. Pusat hidupnya adalah AKU.

– YESUS SEBAGAI HAKIM: artinya, bagi orang ini, Yesus adalah Pribadi yang menakutkan, selalu menjatuhkan hukuman, sehingga hidupnya selalu di bawah bayang-bayang ketakutan, apakah ini berdosa atau tidak, apakah itu berdosa atau tidak, dan seterusnya.

– YESUS SEMACAM MESIN ATM: artinya, bagi orang ini, Yesus tempat dia datang ketika membutuhkan sesuatu, seperti dia pergi ke ATM saat membutuhkan uang. Setelah mendapat yang diperoleh, bye bye, Yesus ditinggal pergi dan baru dicari saat dia butuh lagi sesuatu.

– YESUS PEGAWAI YANG MAHAKUASA: artinya, bagi orang ini, dia selalu datang kepada Yesus untuk memberi tugas melakukan berbagai hal yang dia percaya Yesus bisa melakukan-Nya karena kemahakuasaan-Nya, dan ketika Yesus ternyata tidak melakukan yang dia inginkan, dia marah, Yesus di-PHK (…..sudah, mulai sekarang tidak usah tuhan-tuhanan, tidak usah gereja-gerejaan, percuma, permintaanku juga tidak dikabulkan….)

– YESUS SEBAGAI TUHAN: artinya, bagi orang ini, Yesus adalah TUAN atas seluruh hidupnya. Dia menyadari siapa Yesus yang sungguh sangat mengasihi dia dan siapa dirinya, sehingga dia melepaskan hak-haknya ke dalam tangan Tuhan dan siap melakukan kehendak Tuhan di dalam seluruh hidupnya. Pusat hidupnya adalah YESUS.

– Dan Yesus dalam bentuk-bentuk yang lain.

Kita perlu belajar dari Petrus, oleh hikmat Allah, dia mengetahui dengan benar siapakah Yesus itu. Kita pun perlu memperoleh hikmat Allah untuk bisa mengenal secara benar siapakah Yesus itu. Maka kita perlu membina relasi pribadi, melalui Sabda-Nya yang perlu kita renungkan setiap saat, melalui doa-doa dua arah sehingga kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang hidup.

Gambaran tentang Tuhan sebagai gembala kita semua, dilukiskan dengan begitu indah di dalam Mazmur 23, Gembala yang sangat peduli dengan kehidupan dan keselamatan domba-domba-Nya. Petrus juga diberi tugas penggembalaan oleh Tuhan atas umat-Nya serta diberi kuasa, agar Petrus mampu melaksanakannya. Dan Petrus berhasil melaksanakan tugas ini dengan penuh ketaatan dan kesetiaan, kuasa Tuhan menyertainya.

Tuhan Yesus juga memberikan tugas penggembalaan kepada setiap kita: suami yang menggembalakan istri, istri yang menggembalakan pembantu, orang tua yang menggembalakan anak-anaknya, ketua lingkungan yang menggembalakan umat lingkungannya, anak-anak muda yang menggembalakan adik-adik kelasnya, seseorang yang menggembalakan di kantor, di masyarakat, di mana pun dia berada.

Seperti Tuhan yang memberi tugas kepada Petrus disertai dengan pemberian kuasa, kita pun saat melaksanakan tugas perutusan kita, kuasa Tuhan akan menyertai kita.

Bagaimana kita bisa melaksanakannya?

Kita bisa belajar dari Petrus di dalam bacaan pertama hari ini. Menjadi berkat bagi sesama dengan:

  • Menggembalakan

  • Tidak dengan memaksa

  • Dengan sukarela sesuai kehendak Allah

  • Tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri

  • Sebagai pengabdian diri

  • Tidak seolah-olah mau memerintah

  • Menjadi teladan

Kesimpulan: Setiap orang Katolik benar- benar perlu mengenal Yesus secara pribadi. Ketika mengenal secara pribadi, dia akan tahu apa tugas perutusan yang Tuhan percayakan kepadanya untuk dilaksanakan. Tuhan akan menyertai dengan kuasa-Nya. Seperti Petrus dan pengganti-penggantinya yang taat dan setia sehingga gereja berdiri hingga saat ini, kitapun perlu taat dan setia serta melakukannya dengan karakter seorang gembala. ROH KUDUS akan menolong dan memimpin, sehingga memampukan setiap kita.

Sharing : Ketika dibaptis, tidak ada perubahan dalam diri, saya tetap menjadi orang yang berpusat pada diri sendiri, egois. Tuhan Yesus sebagai orang asing, Pribadi yang jauh di sorga tinggalnya dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari saya. Ketika menikah, saya tidak berubah, sehingga istri dan anak-anak menjadi korban. Sombong, merasa diri yang sudah sarjana mampu mengatasi apapun. Ternyata di satu titik tertentu, sadar saya membutuhkan Tuhan. Mulai mencari Tuhan. Membaca Firman, belajar mempercayai, Tuhan itu ada dan terlibat dalam hidup sehari-hari. Mulai belajar melakukan Firman. Menyediakan waktu pribadi setiap hari berelasi intim dengan Tuhan.

Kehadiran dan kasih Tuhan yang nyata mulai saya alami. Tuhan yang hidup, Tuhan yang bisa diajak bicara dan memberikan jawaban, membimbing, menolong, menguatkan dan juga menegur.

Meskipun telah mengalami hal-hal ini, pusat hidup tetap diri sendiri. Masih bingung bagaimana seharusnya menjadi orang Katolik. Puji Tuhan, dua tahun setelah pertobatan, saya ikut KEP di Sekolah Karitas jalan Thamrin, Surabaya. Di dalam KEP inilah jawaban ditemukan, bagaimana menjadi orang Katolik yang benar, yang pusat hidupnya adalah Tuhan, bukan diri sendiri. Oleh Roh Kudus, pengenalan akan Tuhan sebagai satu Pribadi terus bertumbuh, sehingga terjadi satu perubahan hidup, perubahan karakter.

Bagi saya hal yang paling berharga adalah mengenal dan mengalami Yesus yang bangkit dan hidup, sumber hidup kelimpahan di dalam seluruh sisi hidup saya, sekarang dan sampai di kekekalan. Yesus sebagai Tuhan, Tuan atas seluruh hidup saya. Belajar menjadikan Tuhan Yesus sebagai Pusat hidup. Belajar mengenali panggilan pelayanan-Nya serta menanggapi dengan sukacita dan berusaha memberikan yang terbaik. Belajar taat dan setia. Tuhan memperlengkapi dengan kemampuan-kemampuan sesuai panggilan pelayanan yang diberikan-Nya. Roh Kudus mengubah segala-segalanya. Kekuatiran dan ketakutan disingkirkan. Kasih, sukacita dan damai sejahtera kami alami. Hidup baru ini ternyata sungguh indah ketika saya mulai mengenal dan mengalami Tuhan secara benar. Puji Tuhan. Muliakanlah Tuhan sepanjang masa.

Saudara-saudaraku, selamat menjadi saluran kasih dan berkat Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.

Tuhan mengasihi dan memberkati kita semua.

HLTW