Memuliakan Allah dengan Hati dan Tindakan

Renungan Selasa 9 Februari 2016

Bacaan: 1Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13

Injil hari ini menegur banyak di antara kita yang berimankan Yesus, tetapi masih sering hidup berpegang pada adat istiadat nenek moyang serta menerapkan peraturan-peraturan yang wajib dituruti untuk menyatakan kesucian seperti yang dilakukan orang Yahudi.

Tradisi terlalu mementingkan hal-hal lahiriah, sehingga kurang peduli tentang mutu batin. Sering kali kita meributkan masalah lahiriah, seperti orang Farisi yang rajin mengamati Yesus dan murid-muridNYA. Dan menurut mereka Yesus gagal mendidik murid muridNYA, hidup sesuai tradisi bangsa Yahudi.

Yesus menanggapi pertanyaan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dengan dua jawaban.

Jawaban pertama:

ayat 6-8: JawabNYA kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan AKU  dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKU. Percuma mereka beribadah kepadaKU, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah ALLAH kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Jawaban kedua:

ayat 14-15: “Kamu semua, dengarlah kepadaKU dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Jawaban dari Yesus kepada kaum Farisi dan para ahli Taurat bernada keras, dan Yesus langsung menyerang tradisi lisan yang dipaksakan untuk dilaksanakan kepada orang-orang.

Karena tekanan berlebihan pada segala peraturan lahiriah pasti menimbulkan perpecahan. Hukum Allah selalu bertujuan menghimpun dan mempersatukan. Yesus selalu mementingkan hidup yang sesuai perintah perintah Allah.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita hidup sesuai kebenaran Firman Tuhan?

Yesus tidak menghendaki kita bersih dan tidak bercela secara lahiriah, yang berkenan padaNYA kalau hati kita bersih dan hidup dalam kasih padaNYA dan sesama, tidak mencari kesalahan orang lain dan menghakimi sesama.

Beranikah kita memutuskan untuk mengubah cara pandang kita kepada sesama seperti Yesus memandang kita dengan penuh kasih dan tidak mencari kelemahan tetapi mencintai kita apa adanya.

Belajar dari 1 Raj 8: 22-23:

Raja Salomo memuliakan Allah dengan hati dan perbuatannya. “Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba hambaMU yang dengan segenap hatinya hidup di hadapanMU;”

Besok kita akan memasuki retret Agung, masa Prapaskah, kesempatan untuk kita lebih instrospeksi hati dan perbuatan kita selama ini, apakah kita sungguh mengasihiNYA? Kalau kita mengasihiNYA, maukah kita hidup menurut perintah perintahNYA?

DIA yang rela mengorbankan nyawaNYA untuk menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kehidupan kekal bagi setiap orang yang mengasihiNYA dan mau bertobat dengan sungguh sungguh untuk ikut mengambil bagian dalam rencanaNYA.

Sudahkah kita hidup memuliakanNYA dengan mencerminkan kemuliaanNYA melalui kehidupan kita sehari hari?

CSR