Mau Mengampuni

Renungan Selasa 16 Februari 2016

Bacaan: Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19;Mat. 6:7-15

Umat Katolik, baik tua, muda maupun anak-anak TK, pasti bisa berdoa Bapa Kami dan Salam Maria dengan hafal. Bahkan begitu gampangnya dalam mendoakan Bapa Kami tanpa penghayatan sekalipun sebab begitu ringannya mengucapkan doa tersebut. Lalu apa manfaatnya doa yang didoakan hanya dengan hafalan? Padahal doa Bapa Kami adalah salah satu doa yang utama dalam iman Katolik yang penuh makna dan arti. Serta itulah doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri dalam khotbah di bukit (Luk 6:9-13).

Doa Bapa Kami itu adalah pokok doa umat Katolik yang isinya menyembah, memuji dan memuliakan kekudusan Allah Bapa, serta permohonan kita kepada-Nya yang berkaitan dengan kebutuhan kita sehari-hari, sesuai dengan kehendak-Nya. Jujur, karena sangat hafal, dalam berdoa Bapa Kami, tidak didoakan dengan hati sehingga tidak ada manfaatnya bagi yang berdoa alias sia-sia doanya.

Di dalam doa Bapa Kami, ada kalimat “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Luk 6:12). Jadi dalam doa Bapa Kami ada syarat yang harus dipenuhi sebelum mohon ampun atas kesalahan diri, yaitu sudah terlebih dahulu mengampuni orang lain yang bersalah pada dirinya. Pertanyaannya, apakah dalam hati sudah tidak ada rasa jengkel, marah, dengki yang adalah “benih” kebencian terhadap seseorang yang pernah dan masih menyakitkan hatinya? Coba renungkan, kalau ada benci dalam hati (apalagi sampai mendendam), bisakah berdoa Bapa Kami? Begitu sampai pada kata-kata seperti kamipun . . . , tidak bisa melanjutkan doa Bapa kami.

Saudaraku, kalau kita tidak bisa melanjutkan doa Bapa Kami berarti punya dosa/kesalahan, lalu saat menghadiri Misa Ekaristi, apakah masih nekat menerima Tubuh Kristus? Apakah tidak menambah dosa?

Memang, mengampuni adalah hal yang sangat sulit dilakukan, apalagi bila itu benar-benar menyakitkan hati, membuat hidupnya jadi sengsara/menderita bahkan jatuh sakit. Padahal yang membuatnya menderita atau jatuh sakit itu bukan oknum yang menyakitinya, melainkan sakit hati yang dipendam dalam hati itulah yang membuat diri jadi menderita, jadi sakit badan. “Mengampuni”, mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan dan ‘oknum’ yang bisa menyakiti hatinya biasanya “orang dekat”, bisa suami/istri, menantu/mertua, saudara atau keluarga, bahkan anak kandung juga bisa membuat sakit hati. “Mengampuni” tidak hanya butuh niat dan kemauan yang kuat, tetapi juga butuh bantuan rahmat Allah. Proses, waktu serta pergumulan hati harus dikelola, sehingga terlaksana dalam mengampuni. Ingat, orang yang membenci sama dengan pendusta (1 Yoh 4:20), anaknya iblis yang adalah bapak segala dusta, sama dengan pembunuh (1 Yoh 3:15) berarti tidak memiliki hidup kekal.

Saat ini tepat karena adalah masa Prapaskah yang kita jalani dengan pantang dan puasa, mari kita lakukan dengan berani dan mau “mengampuni”, kita bisa menerima Tubuh Kristus dan bersatu dengan-Nya dan yang terpenting kita juga dibebaskan dari pada yang jahat (luka batin, sakit badan) dan merdeka dari “godaan” si iblis hanya dengan mau mengampuni. (peTu)