Masa Prapaskah Sebagai Masa Padang Gurun

Renungan Hari Rabu Abu, 10 Februari 2016

Bacaan: Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17;2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18 

Pada hari Rabu Abu ini, Gereja mengajak kita memasuki masa Prapaskah atau masa puasa atau masa retret agung Gereja. Melalui masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mengajak kita mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun (KGK 540, Mat 4:1-11). Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari untuk berdoa dan berpuasa.

Dalam tradisi Gereja, padang gurun merupakan tempat para pertapa jaman dulu untuk menghayati keheningan dan kesunyian di hadirat Allah. Kesunyian dan keheningan padang gurun selalu menarik para pertapa untuk mengalami perjumpaan dan kemesraan dengan Allah, mulai dengan Nabi Elia (Gereja Timur: pelindung para pertapa; Gereja Barat: diangkat sebagai pendiri Ordo Karmel), St.Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus sendiri, hingga tokoh-tokoh pertapa yang terkenal, baik Gereja Barat maupun Timur, seperti: St. Paulus Pertapa, St. Antonius Pertapa, St. Serafim dari Sarov, dsb.

Dalam keheningan dan kesunyiaan padang gurun, selain pertama-tama mengalami perjumpaan dan kemesraan dengan Allah, tetapi juga dijumpai realitas perjuangan rohani menghadapi dunia, daging dan setan. Sehingga Tuhan Yesus di padang gurun, yang walaupun Putera Allah juga mau solider dengan manusia, membiarkan setan menggoda, tetapi akhirnya Tuhan Yesus menang atas godaan itu, dengan kuasa Sabda Allah.

Melalui masa Prapaskah atau masa puasa, Gereja juga mengajak kita selama empat puluh hari ini memasuki masa padang gurun, sebagaimana yang dialami Tuhan Yesus sendiri dan para pertapa. Kita diajak untuk sungguh-sungguh memiliki kerinduan seperti para pertapa ketika memasuki padang gurun, yaitu kerinduan untuk mencari Allah lebih dalam lagi, untuk mengalami perjumpaan dan kemesraan dengan Allah di padang gurun, melalui masa puasa.

Dan dalam pengalaman padang gurun pada masa puasa ini, kita juga dihadapkan dengan realitas perjuangan rohani: menghadapi dunia, daging dan setan, karena itu di masa puasa ini kita diajak hidup dalam pertobatan terus-menerus, berdoa dan merenungkan Sabda Allah, berpantang dan berpuasa.

Bacaan Kitab Suci pada hari mengundang kita untuk mengawali dan menjalani masa puasa, dengan pertobatan batin, bahkan Tuhan Yesus sendiri dalam Injil, juga menekankan pentingnya doa, puasa dan sedekah dilakukan dengan semangat tobat, bukan untuk dilihat orang, bukan supaya dipuji dan dikagumi karena ‘kuat/ hebat puasa-nya’, dipuji karena kesalehannya dalam doa, puasa dan sedekah, tetapi sungguh-sungguh yang diminta Tuhan Yesus adalah doa, puasa dan sedekah yang disertai PERTOBATAN BATIN.

Pengertian tobat batin menurut KGK 1431, adalah :

  • suatu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah berbalik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, penyangkalan terhadap dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan.

  • Sekaligus pertobatan batin membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta berharap akan belas kasihan Allah dan bantuan rahmatNya.

  • Pertobatan jiwa ini disertai dengan kesedihan/ penyesalan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan “animi cruciatus” [kesedihan jiwa] atau “compunction cordis” [penyesalan hati]. 

Panggilan untuk pertobatan batin ini, sesungguhnya bukan hanya pada masa puasa saja, tetapi kita sebagai umat beriman, yang juga mengalami jatuh bangun setiap saat, kita juga dipanggil bertobat terus-menerus. Namun secara khusus pada masa Prapaskah ini Gereja yang adalah bunda/ibu kita mengingatkan kita, pentingnya pertobatan.

“Masa dan pertobatan dalam tahun Gereja (masa puasa, tiap hari Jumat sebagai kenangan akan kematian Tuhan) adalah waktu pembinaan hidup pertobatan Gereja. Waktu-waktu ini sangat cocok terutama untuk retret, upacara tobat dan ziarah pertobatan, untuk pengurbanan secara sukarela melalui puasa dan sedekah, dan untuk berbagi kepada sesama” (KGK 1438).

Melalui masa Prapaskah dan bacaan Kitab Suci pada hari Rabu Abu ini, Gereja yang adalah ibu/ bunda kita, mengajak kembali kita anak-anaknya dengan kasih keibuannya, untuk kembali, untuk berbalik kepada Allah, yang adalah Bapa kita, untuk kembali menimba cintakasih dan kerahiman Allah yang tanpa batas yang selalu mau mengampuni dan menyelamatkan kita para pendosa ini.

ET