Kesaksian Iman

Renungan 1 Februari 2016

Bacaan : 2Sam. 15:13-14,30; 16:5-13a; Mzm. 3:2-3,4-5,6-7; Mrk. 5:1-20

Bersaksi tentang Yesus itu penting. Kita menyadari hal ini. Namun, ketika kita bersaksi tentang Yesus dan kuasaNya tanpa dilandasi semangat kasih dan kerendahan hati, kita cenderung mengagungkan diri sendiri.

Pentingnya kesaksian pengalaman akan Tuhan diungkapkan dengan tegas dalam imbauan Apostolik oleh Paus Paulus VI tentang pewartaan Injil dalam zaman Modern (Evangelii Nuntiandi, 1975, No 21 dan 41) “ Manusia modern lebih senang mendengarkan kesaksian daripada para pengajar. Dan bila mereka mendengarkan para pengajar, hal itu disebabkan karena para pengajar merupakan saksi-saksi”

Kesaksian merupakan bagian penting dari Gereja yang bersifat misioner, maka aneka pengalaman akan Tuhan hendaknya terus kita renungkan dan dengan bijak kita memaknai setiap pengalaman sebagai pembelajaran hidup serta menjadi sarana mawas diri dan membuat kita lebih bersemangat dalam mengisi hidup ini.

Injil hari ini memberikan pembelajaran hidup yang indah. Orang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan dan tak seorang pun sanggup mengikatnya. Ia dibelenggu dan dirantai tetapi rantainya selalu diputuskannya dan belenggu dimusnahkannya. Sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Orang ini mengalami pembebasan dari Yesus.

Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan. Pertama, roh jahat itu mengenal Yesus “Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkanNya lalu menyembahNya” (ayat 6). Meskipun Yesus mengusirnya dari orang itu (ayat 8), roh jahat itu mohon agar mereka (karena banyak) tidak disiksa Yesus (ayat 7). Pertanyaannya seberapa jauh kita mengenal Yesus, seberapa jauh kita mengandalkan dan mempercayai Yesus, meskipun pengalaman pahit kadang menggoda ketegaran iman kita?

Kedua, adanya perubahan hidup yang dialami orang yang kerasukan roh jahat, “ mereka ….. melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian…” (ayat 15). Ia telah melampaui masa lalunya yang pahit dan kelam. Sekarang ia mulai menapaki hidup baru yang terpampang dengan jelas di depannya. Tuhan Yesus telah mengubah hidupnya menjadi baru. Pertanyaannya ketika kita mengalami pengalaman pahit, dan Tuhan telah campur tangan dalam menyelesaikannya, apakah kita masih berani mengatakan bahwa dengan kekuatan sendiri kita keluar dari persoalan hidup yang pahit itu? Atau apakah kita masih terbelenggu dengan hidup lama kita dan tidak mau berubah? Berkat Sakramen Baptis, kita telah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, kita menjadi milik Allah. Kuasa roh jahat telah direnggut oleh kuasa Allah dari diri kita, maka kita meninggalkan dunia lama dan menapaki dunia baru dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus.

Ketiga, mengikuti Yesus. Pengalaman kasih Tuhan menghantarkannya kepada keputusan radikal untuk mengikuti Yesus (ayat 18). Ia punya niat yang tulus untuk mempersembahkan sisa hidupnya bagi Tuhan. Namun Tuhan meminta kepadanya untuk pulang ke rumah, kepada orang-orang sekampungnya dan membagikan pengalaman imannya akan Tuhan serta mujizat kesembuhan yang dia alami. Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan (ayat 19-20). Janji Baptis harus kita laksanakan dengan penuh syukur. Mewartakan kasih Tuhan dapat kita lakukan di sekitar lingkungan hidup kita sehari-hari. Ketika kita menyaksikan pengalaman iman yang konkrit, kita berusaha menghadirkan Yesus yang hidup dan menghidupi kita. Kita menjadi saluran kasihNya bagi sesama.

Doa : Tuhan, Engkaulah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku, Engkaulah yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepadaMu, dan Engkau menjawab aku dari gunungMu yang kudus. (Mzm 3:2). Tuhan Yesus, aku mohon, Engkau berkenan menyingkirkan segala sesuatu yang memisahkan aku dari Engkau dan Engkau dari aku. Buanglah dariku setiap kejahatan yang menghalangi aku untuk melihat, mendengarkan, mengecap, menikmati, menyembah, mengenal, percaya, mencintai dan mengalami Engkau. Ini aku Tuhan, di dalam nama Yesus pakailah aku menjadi saksi kasihMU. Amin.
(Beato Petrus Faber)

ECMW