Kejahatan Menjadi Berkat

Renungan Jumat 26 Februari 2016

Bacaan: Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46

Allah Sanggup Mengubah Kejahatan menjadi Berkat

Dari Injil hari ini , perumpamaan yang dikatakan Yesus kepada imam kepala dan tua-tua Yahudi , tentang tuan tanah dan penggarap-penggarap kebun anggur. Penggarap kebun anggur adalah gambaran bangsa Israel, bangsa pilihan Allah yang telah dibebaskan dari perbudakan Mesir dan dibawa ke tanah terjanji. Allah memberkati mereka dengan limpah, jasmani dan rohani. Namun mereka tidak menghargai semua berkat-berkat Allah ini, mereka lebih mengikuti hawa nafsu ketamakan daripada bersyukur kepada Allah untuk semua berkat dan kasih Allah. Allah yang penuh kasih dan panjang sabar tetap berusaha mengampuni mereka dengan mengutus para nabi-nabi-Nya. Mereka tetap berhati bebal menolak tawaran kasih Allah, utusan Allah para nabi Allah dibunuhnya. Allah tetap mau menyelamatkan dengan mengutus putraNya sendiri. Putra Allah malah dibunuh dengan kejam.

Allah kita luar biasa, dia sanggup mengubah kejahatan menjadi berkat .Dari bacaan pertama, kita tahu kejahatan yang direncakan oleh saudara-saudara Yusuf kecuali Ruben dan Yehuda untuk membunuh Yusuf . Kejadian ini berakhir dengan Yusuf menjadi berkat bagi saudara-saudaranya yaitu ketika Yusuf memberikan mereka makan saat terjadi kelaparan di Mesir. Demikian pula putra Allah yang dibunuh dengan kejam menjadi berkat bagi kita semua.

Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Karena putra Allah yang bernama Yesus mati, Ia dapat hadir di dunia ini sebagai penyelamat bagi umat manusia. Ia hadir dalam Ekaristi Kudus yang kita terima sebagai Tuhan yang hidup dan nyata.

Sharing :
Tahun 1987, dokter melalui mammografi menemukan benjolan di dada kanan saya. Sebagai seorang wanita, saya sedih, takut dan kuatir. Puji Tuhan, pada hari Minggu pagi, 7 Januari 1987, saya mengikuti misa di Ngadireso sebagai pendoa. Pada saat mengikuti misa, “Tuhan Yesus, angkatlah bebanku sementara ini, agar dapat mengikuti Perayaan Ekaristi ini dengan baik.” Hari Senin saya kembali ke dokter ternyata benjolan itu hilang. Kuasa Yesus yang hadir dalam Ekaristi sungguh-sungguh saya alami.

Doa :
Bapa, Engkau telah mengorbankan putra tunggalMu hanya untuk menyelamatkan dan mengampuni kami yang berdosa ini. Bapa, dalam masa Prapaskah, masa Retret Agung ini, kami mohon rahmat dan kasihMu agar kami sungguh-sungguh mau bertobat dan mengubah hidup kami menjadi baru dan indah bagi Engkau dan sesama.

MTIST