KehadiranNya Luar Biasa

Renungan Selasa 2 Februari 2016

Bacaan: Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10;Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32)

Beberapa kali saya terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan orang-orang yang ‘istimewa’. Orang-orang ‘istimewa’ itu ada yang pejabat tinggi pemerintahan, ataupun pembesar-pembesar Gereja.

Biasanya kita akan disibukkan dengan persiapan-persiapan lahiriah : ruang yang ditata bersih dan rapi, bunga-bunga dekor yang semarak, sampai pada penerima-penerima tamu yang berdandan elok dan segar. Belum ditambah dengan suasana hati yang berdebar, penuh semangat dan kadang juga harap-harap cemas.

Rupanya kehadiran Yesus juga membawa dampak seperti itu, paling tidak awalnya bagi Simeon dan Hana, dan kemudian bagi orang-orang Israel dari berbagai kalangan.
Tetapi, Simeon dan Hana telah menubuatkan bayangan suram dibalik kegembiraan menyambut datangnya Sang Bayi yang sangat dinanti-nantikan ini.
Orang-orang di sekitarNya akan merasakan kehadiranNya yang membawa banyak kontroversi. Sebagian akan mengalami timbulnya harapan baru akan sesuatu yang lebih baik, sebagian yang lain malah merasa sedikit terancam.

Mengambil situasi dalam masyarakat Indonesia sebagai perbandingan, kita segera teringat akan AHOK. Keberadaannya sungguh membuat ‘Heboh’, dan tanpa disengaja akan menciptakan dua kubu seperti yang terjadi pada orang Israel pada jaman Yesus.

Yang mau menerima kebenaran yang diajarkan Yesus atau menyambut baik kebijakan yang diterapkan AHOK, pasti disebabkan karena timbulnya suatu harapan baru akan tatanan yang lebih baik atau memberikan solusi yang memuaskan atas suatu kebobrokan yang terjadi.

Tetapi mereka yang kuatir kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini dinikmati, pasti akan merasa sangat terancam, sehingga sebagai reaksinya, mereka mencoba menyingkirkan segala kebijakan yang telah dibuat.

Kini, yang patut dikaji adalah : apakah kita juga menyambut dengan sukacita kedatangan orang-orang baru yang membawa perubahan positif di lingkungan apapun, anggota baru dalam keluarga, komunitas dan masyarakat?

Atau kita menolak karena takut tidak dihargai lagi, mendapat saingan besar atau tidak leluasa lagi mengambil keuntungan atau fasilitas bagi diri sendiri?
Agaknya kita harus selalu mawas diri agar kita tidak menjadi farisi-farisi jaman moderen tanpa sadar!
Semoga kita selalu mampu mengarahkan mata batin kita pada kebenaran-kebenaran Allah.

HLK