Ikutlah Aku

Renungan Sabtu 13 Februari 2016

Bacaan: Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Luk. 5:27-32

Gangga adalah judul sinetron yang diangkat dari tradisi India. Tradisi menikahkan gadis yang masih belia dengan alasan faktor sosial dan ekonomi. Dalam sinetron itu dikisahkan seorang gadis belia yang dikawinkan karena faktor ekonomi orang tuanya. Namun tragisnya suami dan ayah anak gadis itu meninggal dalam suatu huru-hara. Dalam tradisi yang berlaku di tempat itu, jika suaminya meninggal, wanita itu akan menjadi seorang janda yang kehilangan berbagai hak sosial hidupnya. Dia akan menerima ketidakadilan, hanya boleh mengenakan pakaian putih sederhana, untuk kebutuhan hidupnya ia harus meminta sedekah ke mana-mana, tidak boleh sekolah dan ia hanya bisa jadi budak dan ia menjadi terhukum seperti itu di sepanjang hidupnya.

Dalam paham orang Israel kuno atau gereja Purba, mereka memahami bahwa bumi ini berupa lempengan yang besar dan disangga tiang-tiang yang tertanam dalam laut. Di mana kalau terjadi peristiwa-peristiwa alam, seperti gempa bumi, gelombang tsunami, maka hal tersebut dipahami bahwa Tuhan sedang marah, karena manusia sudah berbuat banyak dosa dan itu adalah hukuman atas dosa.

Dalam Perjanjian Lama, dalam artian harafiah, kita juga akan mendapatkan pemahaman, bahwa Allah yang jauh itu adalah Allah yang pencemburu, Allah yang jahat, Allah yang merampas hak sosial kemasyarakatan, Allah yang menghukum dan membinasakan ketika manusia tidak mau tunduk dan taat pada perintah-Nya. Begitulah Allah digambarkan pada zaman itu, di mana pemahaman dan penggambaran seperti itu lahir dari alam pikir, pengetahuan yang dimiliki manusia saat itu, sehingga akan melahirkan adat istiadat, budaya dan kepercayaan yang digambarkan dalam sinetron Gangga ataupun pemahaman orang-orang Israel kuno.

Seiring dengan perjalanan waktu dan kemajuan manusia dalam berpikir dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai disiplin ilmu, maka peradaban manusia pun juga turut berkembang. Demikian juga pemahaman manusia terhadap Allah juga semakin berkembang, dan itu terwujud dalam diri Yesus sebagai yang menggenapi firman Allah pada era perjanjian baru.

Lukas 5:27-32 menuliskan tentang Yesus memanggil pemungut cukai yang bernama Lewi, Ia mengajak pemungut cukai itu untuk “MENGIKUTI DIRINYA”, kemudian Lewi segera bangkit berdiri meninggalkan segalanya lalu mengikuti Dia. Selanjutnya Lewi sang pemungut cukai itu mengadakan perjamuan besar untuk Yesus yang juga dihadiri oleh banyak pemungut cukai lainnya. Berbeda dengan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, mereka begitu bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, “Mengapa mereka makan dan minum bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang orang berdosa itu?”

Seperti Gangga yang diceritakan dalam sinetron di atas, demikian para pemungut cukai, para penzinah, para sakit kusta, para janda, para anak kecil, para wanita dan orang tua yang lemah dan terlantar. Mereka dianggap sebagai orang berdosa sehingga tidak diberkati Allah, mereka layak dibuang, dihukum, dijauhi dan dikucilkan. Allah dianggap murka terhadap orang-orang seperti itu, sehingga itu pulalah hukuman dari Allah yang patut mereka terima.

Pada era Yesus pandangan seperti itu dijungkir balikkan. Ia diutus Bapa-Nya untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, orang yang kecil, lemah, terpinggirkan, menyembuhkan orang yang sakit kusta, tuli, bisu, lumpuh, mengusir roh-roh jahat dan memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus dan sebagainya. Dengan kata lain Yesus mengatakan, bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, Allah yang pencemburu, Allah jahat, Allah yang menghukum dan membinasakan. Tetapi Allah yang begitu dekat dengan manusia, Allah yang begitu akrab sehingga kita boleh memanggilnya dengan BAPA, Allah yang maha pengampun, Allah yang Maha Rahim dan Allah yang memelihara dan mencintai kehidupan.

Kata Yesus , “bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat dan beroleh keselamatan.” Tahun ini ditetapkan sebagai tahun Jubelium, tahun kerahiman Ilahi, tahun penuh rahmat pengampunan, dan bukan tahun penghakiman dan penghukuman. Jubelium yang diperingati selama 30 tahun atau 50 tahun sekali, adalah perayaan peringatan pembebasan bangsa Israel dari segala perbudakan dan penindasan dari bangsa Mesir. Perbudakan dan penindasan oleh penjajah yang mengakibatkan penderitaan dan kepahitan itulah yang diubah oleh Yesus, oleh gereja, sebagai peringatan atas perbudakan dan penindasan manusia dari DOSA, dosa yang mengakibatkan berbagai penderitaan, kepahitan dan untuk itulah Allah Bapa yang maha rahim itu mengirimkan PutraNya ke dunia untuk membebaskan dan menyelamatkan umat manusia.

Dalam masa prapaskah ini, dalam pantang dan puasa kita semua diajak untuk mengingat kerahiman Allah itu. Ia yang telah rela mengorbankan Yesus Putra-Nya mati di kayu salib, karena cinta-Nya, Ia tidak rela manusia ciptaanNya jatuh dalam penderitaan, kemalangan dan kebinasaan. Ia ingin agar seluruh umatnya menerima kepenuhan rahmat-Nya agar beroleh damai, suka cita dan sejahtera. Mari kita bertobat, mengubah cara berpikir dan mengubah cara pandang kehidupan ini, dengan memandang Sang Cahaya dan menimba air kehidupan itu, dari Yesus Kristus yang tergantung di kayu salib.

FXST