Hidup Oleh Percaya

Renungan Rabu 17 Februari 2016

Bacaan : Yun. 3:1-10; Mzm. 51:3-4,12-13,18-19; Luk. 11:29-32.

“….Anak Manusia akan menjadi tanda….” –Luk 11:30

Kebanyakan manusia terlahir dengan lima panca indra yang dapat berfungsi dengan baik. Namun ada saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita, misalnya ada saudara kita yang tidak bisa melihat indahnya pelangi , mendengar kicauan burung di pagi hari ataupun yang tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata waktu mereka sedih dan senang. Tetapi, ada sesuatu yang seringkali tidak kita punyai tapi mereka punya, yaitu kepercayaan. Mereka percaya bahwa pelangi itu indah meski tidak melihatnya. Mereka percaya kicauan burung di pohon pada waktu pagi hari itu merdu walaupun mereka tidak dapat mendengarnya. Kita yang terlahir dengan lima indra yang sempurna ini namun seringkali tidak percaya, seringkali memerlukan bukti atau tanda agar percaya.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang tanda Nabi Yunus. Di mana orang-orang yang kurang percaya selalu menuntut tanda yang dapat ditangkap oleh indra. Padahal mereka telah berulangkali melihat mujizat Tuhan. Firman Tuhan hari ini mau mengingatkan kepada kita bahwa keraguan dan ketidakpercayaan sering melanda perjalanan hidup iman kita. Yesus mengatakan bahwa hanya ada satu tanda bagi angkatan yang jahat yakni tanda Yunus. Kita ingat bahwa pada waktu Niniwe hendak dimusnahkan, Yunus menjadi satu-satunya ‘alat’ yang dipakai Allah untuk menyerukan pertobatan kepada bangsa yang akan dimusnahkan itu. Demikian pula untuk angkatan yang ada di hadapan Yesus saat itu, hanya Anak Manusia saja, yaitu Yesus sendiri yang menjadi satu-satunya tanda untuk mereka (Lukas 11:30). Yunus telah menjadi utusan untuk mempertobatkan Niniwe dengan masuk ke dalam perut ikan tiga hari tiga malam (Yun 1:17). Anak Manusia juga masuk kedalam perut bumi dan bangkit pada hari ketiga. Kebijaksanaan Yesus adalah melakukan seluruh kehendak Bapa dan setia sampai wafat di kayu salib untuk menyelamatkan kita,manusia.

Meminta tanda dapat diartikan dengan menyatakan ketidakpercayaan kita kepada Tuhan dan hal itu tidak seharusnya kita lakukan. Keyakinan-kepercayaan ini penting, karena sebagai orang kristiani yang bertumbuh imannya kita hanya berserah pada kehendak Tuhan dan mengandalkanNya dalam hidup keseharian kita. Dalam Yoh 20:29, Yesus bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’. Dan dalam Lukas 11:28, Yesus menegaskan bahwa, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”.

Pesan yang paling menonjol pada masa prapaskah atau masa retret agung adalah ajakan untuk bertobat. Secara terus menerus kita diajak untuk melakukan pertobatan. Kata “metanoia” diterjemahkan dalam arti ajakan untuk bertobat, menyesal dan memperbaiki kesalahan. Ini berarti bahwa dalam pertobatan, ada perubahan hati yang dilakukan secara nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepadaNya. Inilah yang terungkap dalam perilaku kita sebagai dampak dari karya Roh Kudus yang telah melahirkan kembali kita. Memang pertobatan bukanlah perkara mudah. Yang paling dibutuhkan dalam proses ini adalah kehendak yang kuat untuk berubah dan juga perlunya kesadaran bahwa pertobatan sejati tidak membutuhkan syarat-syarat atau tanda-tanda tertentu.

Dalam masa prapaskah ini, apakah yang harus kita perbaiki dalam hidup iman kita agar pada saatnya nanti kita juga menjadi pemenang seperti Yesus yang menang mengalahkan maut?

Doa : Tuhan Yesus, kasihMu sungguh luar biasa bagi kami. Ajarilah dan mampukan kami untuk selalu percaya dan mengandalkan Engkau sebagai satu-satunya Tuhan dan juru selamat kami. Amin.

Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati kita semua.
VRE