Gagal Mengenali

Renungan Senin 15 Februari 2016

Bacaan: Im. 19:1-2,11-18; Mzm. 19:8,9,10,15; Mat. 25:31-46

“… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku …” ~ ‎Mat 25:40

“‎… sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku …” ~ Mat 25:45

‎Apakah kita mengasihi Tuhan? Sebelum kita menjawabnya, mari kita perhatikan kedua ayat di atas, ayat pertama ditujukan kepada kumpulan ‘domba,’ sedangkan ayat kedua ditujukan kepada kumpulan ‘kambing.’ Meskipun makna dari kedua ayat tersebut berbeda, tetapi tata cara penyusunan kalimatnya sama, bahkan sebenarnya penggunaan kata-katanya pun sama, hanya saja di ayat kedua ada  penambahan kata ‘tidak’.

Tetapi kalau kita perhatikan lebih seksama, ada satu perbedaan lagi (selain dari penambahan kata ‘tidak’) pada ayat kedua ini, yaitu ada satu kata yang hilang dari kalimat ini, yaitu kita tidak melihat kata ‘saudara’ seperti pada ayat yang pertama.

“… untuk salah seorang dari SAUDARA-Ku yang paling hina ini …” ~ ayat 40

“… ‎untuk salah seorang dari yang paling hina ini…” ~ ayat 45

Apa artinya ini? Artinya kumpulan kambing “gagal mengenali” sesamanya yang kurang beruntung sebagai saudaranya. Lalu, apakah kita mengasihi Tuhan? Karena mengatakan mengasihi Tuhan yang tidak dapat kita lihat itu lebih mudah, daripada mengasihi sesama kita yang “benar-benar ada”.

Masihkah kita gagal mengenali bahwa Tuhan Yesus sendiri, yang juga tinggal di dalam diri sesama kita yang membutuhkan?

Manakah yang lebih penting bagi kita? Meningkatkan kualitas kasih kita atau kualitas gaya hidup kita?

Menginginkan kualitas hidup yang lebih baik itu tidak salah, tetapi‎ kecenderungan manusia moderen saat ini mengangkat nilai dirinya dengan materi yang mereka punya. Semakin banyak dan mewah barang yang mereka punya/pakai, semakin tinggi juga kepercayaan dirinya, dan kenyataan yang paling menyedihkan adalah memang orang-orang yang demikianlah yang dipuja-puja dan kehidupan seperti itulah yang dimimpikan oleh kebanyakan orang.

Bagaimana kita bisa memberi, jika kita sendiri tidak pernah merasa cukup atau bahkan habis kita gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Akhirnya kita gagal mengenali kebutuhan sesama yang membutuhkan, karena kebutuhan kita jauh lebih banyak.

‎Apakah kita mengasihi Tuhan? Masihkah kita gagal mengenali Yesus yang ada di dalam diri sesama kita yang membutuhkan?

Tuhan memberkati kita semua.

VC