Belas Kasih Yesus Kepada Orang Terhilang

Renungan Sabtu 6 Februari 2016

Bacaan: 1Raj. 3:4-13; Mzm. 119:9,10,11,12,13,14; Mrk. 6:30-34

Setelah saya membaca Injil Markus 6:30-34 dan merenungkan kembali, saya merasakan betapa besar belas kasihan Yesus terhadap orang-orang yang haus dan rindu akan mendengarkanNya. Murid-murid yang telah diutus oleh Yesus untuk mewartakan Injil dan setelah mereka bertugas, mereka pun tidak ada waktu untuk beristirahat sejenak pun di tempat yang sunyi. Untuk makan pun mereka tak sempat. Sungguh belas kasihan Yesuslah yang menggerakkan mereka untuk melayani.

Yesus adalah PRIBADI penuh kasih. Ketika melihat banyak orang yang tampak lelah dan terlantar seperti domba tidak bergembala, tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka. Bisa dibayangkan betapa menderitanya bila ada domba “tak bergembala”. Ia pasti kelaparan dan kehausan karena kekurangan makanan dan air; pastilah dia juga dalam keadaan bahaya jika ada binatang buas yang hendak menerkamnya, karena tidak ada yang melindunginya.

Domba tak bergembala itu ibaratnya berada di ujung tombak. Demikian juga jiwa manusia akan tersesat jika mereka terpisah dari “Gembala Yang Baik”. Sebaliknya bila kita berada dekat dengan gembala yang baik ini kita akan merasa aman dan tenang. Ini seperti yang dialama Daud dalam Mazmur 23:1-4. Ia berkata: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku; Ia menuntunku di jalan yang benar oleh karena namaNya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku”.

Di dunia ini manusia tak kan menemukan kasih seperti kasih Tuhan. Manusia pada umumnya egois dan tidak peduli terhadap sesama. Sudahkah kita berkorban waktu, tenaga dan punya belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang tersesat? Maukah kita berkorban waktu, tenaga dan materi untuk mengabarkan Injil kepada mereka sehingga mereka diselamatkan?

Di satu sisi banyak daripada kita yang sudah melakukan penginjilan seperti Yesus dan murid-murid. Kita harus selalu dekat dengan Yesus yang adalah gembala kita untuk membimbing kita semua untuk berpartisipasi dalam karya kasih Allah yang meluap dari ketulusan hati.

Seperti Salomo dalam bacaan yang pertama kitab Raja-Raja, dia tidak meminta kekayaan untuk dirinya sendiri tetapi dia meminta hikmat/kebijaksanaan/pengertian untuk mengetahui kehendak Tuhan dalam pemerintahannya sebagai raja di tengah-tengah umatnya yang sangat besar jumlahnya.

Saya berdoa agar Allah Bapa melimpahi kita dengan kebijaksanaan belas kasih, seperti Yesus untuk tak jemu-jemunya melayani jiwa-jiwa yang terhilang untuk dibawa kepada Tuhan. Amin

JH