Yesus Pembawa Keselamatan

Renungan Kamis 21 Januari 2016

Bacaan: 1Sam. 18:6-9; 19:1-7; Mzm. 56:2-3,9-10a,10bc-11,12-13; Mrk. 3:7-12

Dalam Bacaan pertama dikisahkan bahwa ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan katanya “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” ( 1 Sam 18 :6-7). Begitulah dikisahkan bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang raja yang gagah perkasa, pulang setelah menang perang. Wajar jika setiap orang di dunia ini selalu mendambakan seorang raja yang gagah perkasa yang dapat mengalahkan atau membinasakan bangsa lain.

Bagaimana dengan Yesus? Dalam Injil Markus dinyatakan bahwa “ Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Yesus menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya”. (Mrk 3 : 9-10).

Kita masih ingat beberapa tahun yang lalu ada seorang anak bernama Ponari di daerah sekitar Jombang yang katanya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tiba-tiba saja namanya jadi terkenal, sehingga banyak orang berbondong-bondong dari berbagai daerah datang berobat kepadanya. Yesus tidak menghendaki orang-orang datang berdesak-desakan menjamah-Nya yang hanya mau mendapat kesembuhan dari berbagai macam penyakit, dan setelah sembuh lalu mereka pun meninggalkan Dia. Dan bisa jadi mereka pun menyangka bahwa kegenapan Mesianis yang dinubuatkan oleh para nabi, adalah Yesus yang diposisikan sebagai raja yang gagah perkasa penuh kekuatan fisik seperti Daud dan Saul (dalam bacaan pertama) yang bisa membebaskan penderitaan mereka dari penjajahan saat itu.

Oleh sebab itu Yesus menghindar dari himpitan mereka dengan menggunakan perahu bertolak agak ke tengah danau, supaya ada ruang bagi Yesus untuk berbicara. Ia ingin mengajar kepada mereka atas jati diri-Nya sebagai raja yang sangat berbeda sekali dari pandangan dan harapan mereka. Yaitu suatu Kerajaan rohani, Kerajaan Allah, karena itu Yesus tidak mulai dengan menumbangkan raja-raja kerajaan duniawi, tetapi mulai dengan menumbangkan segala sifat kedagingan yang merajai setiap manusia, yang menimbulkan berbagai kejahatan dan dosa. Kehadiran Yesus bukan hanya sebatas memberikan penyembuhan tetapi lebih dari itu Ia mengajak mereka dan kita semua agar memperoleh keselamatan yaitu kehidupan kekal dalam persekutuan bersama-Nya. Maka yang dikehendaki-Nya ialah timbulnya kesadaran setiap manusia untuk percaya dan mengimani Dia sebagai Juru Selamat. Sehingga ketika seseorang telah mengenal Yesus dan selalu berelasi dengan-Nya, di dalam kehidupannya akan mengalami kedamaian yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, walaupun ia menghadapi berbagai masalah, kesulitan, penderitaan, sakit penyakit, dan lainnya, ia tetap mengimani Yesus.

Sekitar akhir Februari 2014 saya menderita gangguan ginjal yang serius, masuk rawat inap di RKZ tanggal 26 Februari 2014. Dari hasil Laboratorium, Creatine saya 8,16 dan dua hari kemudian semakin memburuk menjadi 14,51 dari standarnya 1,3. Oleh dokter diputuskan operasi yang didahului dengan cuci darah. Lalu dinyatakan boleh pulang pada tanggal 18 Maret 2014 untuk berobat jalan. Tidak lama kemudian kambuh lagi dan masuk rawat inap yang kedua kalinya di RKZ mulai tanggal 28 April 2014, menjalani cuci darah dan operasi lagi, dan boleh pulang tanggal 7 Mei 2014 untuk berobat jalan.

Melalui sakitku ini banyak pengalaman iman yang justru menjadikan saya semakin menyadari kerapuhanku, untuk semakin : rendah hati, banyak belajar sabar, tekun berdoa, lebih dapat menghargai kesehatan, bisa mengalami keprihatinan karena ada pasien lain yang lebih parah sakitnya, semakin dekat dengan Tuhan Yesus, dapat berpasrah atas kehidupanku kepada-Nya. Kalaupun sakitku ini membawaku untuk menghadap-Nya, sayapun sudah siap, karena janji keselamatan-Nya sungguh-sungguh saya imani. Maka saya pun sudah menyatakan kepada istriku, kalau pun karena sakitku ini saya dipanggil Tuhan, saya minta proses pemakamanku dilakukan secara tertentu.

Banyak sekali para sahabat dan para guru SEP Yohanes Penginjil Surabaya; handai tolan dan Panitia KEP bersama Romo Paroki Sakramen Maha Kudus Surabaya dan juga dari sanak keluarga, umat lingkunganku serta kelompok pelayanan doa yang berkarya di rumah sakit RKZ yang melayani dan mendoakan saya. Saya sungguh merasakan kehadiran-Nya, seakan berada dalam pelukan tangan-Nya yang masih nampak luka bekas paku, dan Ia bersabda kepadaku secara pribadi “Akulah yang memikul kelemahanmu dan menanggung penyakitmu”. Sabda-Nya menentramkan jiwa dan hatiku, seketika itu juga saya tidak lagi terpusat hanya pada penyakitku saja, tetapi fokus perhatianku hanya kepada Tuhan Yesus yang memberikan pengharapan kedamaian begitu indah yang menyelimuti kehidupanku. Dan melalui doa-doa para sahabat semua dan perawatan dokter dan oleh belas kasih-Nya sayapun secara bertahap mengalami pemulihan. Selepas rawat inap, saya masih harus kontrol seminggu sekali, dan selama 3 (tiga) bulan pertama praktis saya belum bisa melakukan aktivitas fisik seperti biasanya. Bahkan pada tahun 2014 saya mengambil cuti selama satu tahun dari tugas pelayanan sebagai pengajar dari SEP Yohanes Penginjil Surabaya.

Ternyata bukan hanya rahmat pemulihan kesehatan saja yang kuterima (saat ini creatine-ku 1,6 dari standar normal 1,3), tetapi masih diberi bonus lain yaitu toko/tempat usaha, yang mau saya kontrakkan dan barang-barang dagangan di dalamnya yang sudah mengendap tiga bulan tersebut kujual kepada seseorang (menambah biaya pengobatanku), dan pada saat itu juga orang tersebut langsung mau menerimanya tanpa menawar. Perekonomian kami dari penghasilan pensiun dan hasil kontrakan tersebut sampai saat ini dicukupkan-Nya. Saya senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya karena melalui pengalaman sakitku, saya dibentuk-Nya terlebih masih diberikan kesempatan lebih luas lagi mempersembahkan rahmat/talenta yang telah kuterima dari-Nya untuk boleh melayani kegiatan gereja, demi kemuliaan-Nya. Terima kasih Tuhan Yesus, dan terima kasih kepada Tim Doa Syafaat SEP, dan para sahabat semua yang tidak dapat kusebutkan satu persatu, yang telah membantu baik doa maupun finansial dan lainnya. Terima kasih juga kepada istriku dan seluruh keluargaku yang penuh kasih dan perhatian merawatku.

Tuhan Maha Kasih, Tuhanlah yang menyelenggarakan segala kehidupan, Tuhan memandang dan telah mengabulkan doa anak-anak-Nya. Kehadiran Yesus bukan hanya membawa kesembuhan jasmani saja tetapi yang lebih utama Ia membawa “Keselamatan” yaitu hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya Inilah pesan yang mau disampaikan kepada mereka dan juga kepada kita saat ini sampai selama-lamanya.

Sejauh manakah kita menyadari kehadiran Yesus sebagai juru selamat, dan mentahtakan-Nya di hati kita, agar senantiasa Ia yang memerintah, memimpin merajai hidup keseharian kita?
Berkat Tuhan menyertai kita semua.

YHS