Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang

Renungan Selasa 5 Januari 2015

Bacaan: 1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44

Setelah seharian Yesus beserta para murid-Nya melakukan pelayanan yang begitu berat dan melelahkan, maka Dia mengajak para murid-murid untuk beristirahat ke tempat yang sunyi. Bertolak ke tempat yang sunyi adalah bagian penting untuk mengembalikan kekuatan fisik dan terlebih agar mereka bisa merefleksikan kerohaniannya dengan cara berdiam diri di hadapan Allah.

Namun hal itu diketahui oleh orang banyak, mereka berbondong-bondong mengikuti Yesus melalui jalan darat. Sesampainya di darat dan ketika Yesus melihat orang banyak itu, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.

Walau rasa lelah sekali akhirnya Yesus mengajar orang-orang tersebut dengan berbagai pengajaran dan tanpa terasa hari telah malam. Para murid bergegas mengingatkan Yesus dengan berkata, “Tempat ini sunyi, dan hari sudah mulai malam, suruhlah mereka pergi supaya mereka dapat membeli makanan di kampung-kampung sekitar sini.” Yesus menjawab, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Manakala kita merenungkan ayat ayat dalam Markus 6:30-44 ini , bahwasanya Belas Kasihan itu adalah suatu perasaan yang menggerakkan hati sanubari orang , perasaan ini bisa membuat orang sedih karena melihat kemalangan dan penderitaan yang dialami orang lain atau sesamanya. Selanjutnya dorongan yang kuat dalam nurani itulah yang mendorong orang untuk menolong.

Seringkali kita merasa kasihan kepada seseorang yang sedang dalam kekurangan dan kesusahan ataupun yang sedang tersesat jiwanya, namun tidaklah cukup kalau kita hanya punya rasa kasihan saja, namun rasa kasihan itu harus digerakkan dan dinyatakan dalam tindakan, dengan demikianlah maka rasa belas kasih itu akan berwujud nyata.

Permintaan para murid itu sepertinya mereka mempunyai perhatian dan belas kasihan akan kebutuhan makan yang dibutuhkan orang banyak itu, apalagi sudah malam dan mereka berada di tempat yang sunyi. Tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai tindakan nyata, malah mereka meminta Yesus untuk menyuruh pergi orang-orang itu. Mereka lupa bahwa selama perjalanan pelayanan, mereka telah melihat bahwa Yesus telah begitu banyak berbuat mujizat yang tentunya dalam hal makan itu pun Yesus tentu bisa berbuat mujizat juga.

Para murid ternyata tidak punya iman yang cukup sehingga mereka meminta Yesus untuk menyuruh pergi orang banyak itu. Dengan pikirannya para murid berpikir bagaimana itu mungkin, hari sudah malam, di tempat yang sunyi dan berapa uang yang diperlukan untuk membeli roti itu, mereka lupa akan unsur kerohanian dan imannya.

Siapakah kita yang mengaku sebagai murid-murid Yesus dalam realita kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak sadar, acapkali juga jatuh dan terbelenggu seperti dua belas murid itu. Ketika menghadapi kelelahan, kejenuhan, tidak jarang yang muncul adalah pikiran-pikiran kita, ego kita, kenyamanan dan kemapanan kita, kepentingan kita, keselamatan kita sendiri. Iman percaya kita ternyata begitu kecilnya sehingga kita tidak punya lagi rasa belas kasihan.

Kisah tentang Nehemia, seorang hamba yang dipercaya menyediakan minuman anggur bagi Raja Artahsasta tentu hidupnya sudah mapan dan nyaman. Namun ketika ia mendengar bahwa tembok Yerusalem telah dihancurkan dan bangsanya banyak yang menderita dan menjadi tawanan, dia terduduk dan menangis, berpuasa dan berdoa di hadirat Allah. Namun kesedihan dan keprihatinannya tidak cukup sampai di situ. Ia menghadap Raja untuk minta ijin pergi membela bangsanya, meninggalkan kemapanan, kenyamanan dan jaminan hidupnya untuk berbela rasa bersama-sama bangsanya membangun kembali Yerusalem yang telah hancur. Ia tidak hanya sedih, menangis, berdoa, tetapi ia melangkah dan bergerak karena belas kasihan.

Bethlehem artinya kota roti, demikian Yesus dilahirkan di Bethlehem agar Ia menjadi roti kehidupan bagi umat manusia yang percaya kepada-Nya. Kita sebagai murid-muridnya juga diutus untuk menjadi Roti Hidup. Perutusan itu hendaklah kita tanggapi dengan iman percaya, cinta kasih dan pengharapan.

Petrus ketika ditanya Yesus, “Agapas – me”. Apakah ia mencintai Yesus secara total, sungguh-sungguh tulus, tanpa batas, sebanyak dua kali, tetapi sebanyak dua kali juga Petrus menjawab, “Kyrie, philo-se.” yang artinya, “Ya Tuhan aku mengasihi Engkau dengan kasih manusiawiku yang penuh keterbatasan.”

Marahkah Tuhan Yesus atas jawaban Petrus itu? TIDAK! Ia sangat memahami keberadaan Petrus. Maka untuk yang ketiga kalinya Yesus bertanya dengan memakai alam pikiran Petrus, “Philies – me”, yang artinya, “Apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih manusiawimu yang terbatas itu?”

Tuhan Yesus menerima kasih Petrus apa adanya seperti Petrus dapat mengasihi-Nya. “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau “Philo – se”.

Penyesuaian ilahi inilah yang memberikan pengharapan kepada Petrus dan murid muridnya yang memang penuh dengan kerapuhan dan kelemahan kemanusiaannya. Tapi Yesus tetap mempercayai dan memberikan perutusan kepada Petrus untuk untuk menggembalakan domba-dombaNya. Hal kepercayaan yang diberikan Yesus itulah yang akhirnya memampukan Petrus untuk menyelesaikan tugas perutusan, menggembalakan domba-domba dengan penuh cinta kasih sampai di penghujung hidupnya.

Kita sering merasa ragu, takut ataupun cemas, apakah bisa menerima tugas perutusan itu, namun dengan iman percaya, cinta kasih dan pengharapan yang sungguh-sungguh, pastilah Tuhan akan membantu dengan mujizat-mujizatnya .

Kita semua dipanggil sebagai agen cinta kasih. Marilah kita berani memiliki “hati yang tergerak oleh belas kasihan”, berdoa, melangkah dan bertindak seperti Nehemia, dengan tidak melakukan hal yang muluk-muluk, hal yang aneh-aneh, hal-hal yang selalu dianggap supranatural. Namun kita berani seperti Simon Petrus, menjawab pertanyaan dan tantangan Tuhan “philo-se” artinya menerima tugas perutusan untuk membawa roti kehidupan yang dengan segala kerapuhan dan keterbatasan manusiawi kita namun kita melakukan sungguh-sungguh, penuh iman percaya, harapan dan cinta kasih sampai di penghujung kehidupan kita.

FX. Santoso Tanudjaja