Tuhan, Engkau Dapat Mentahirkan Aku

Renungan Jumat 8 Januari 2015

Bacaan: 1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20;Luk 5:12-16

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepadaNya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Renungan: Sudahkah kita mencari Tuhan Yesus dengan iman yang penuh pengharapan? Sesungguhnya tak seorang pun yang mencari Yesus akan ditolak bila ia meminta pertolongan Yesus. Mereka yang terbuang dan terpinggirkan sekalipun dapat menemukan belas kasih dan bantuan dari Yesus. Jauh berbeda dengan sikap masyarakat pada masa itu, yang pasti akan menyingkir dan meninggalkan orang yang berpenyakit lepra, Yesus justru mendekati bahkan menjamah orang tersebut, menyembuhkan dan memulihkannya. Mengapa kejadian ini sangat menarik? Penyandang lepra adalah orang-orang yang terbuang dan terpinggirkan dari masyarakat. Mereka diusir dari rumah dan juga dikucilkan dari masyarakat dan ditinggalkan untuk mengurus diri sendiri. Kondisi fisik mereka memang terlihat mengerikan karena satu-per-satu jari-jari mereka akan luka hingga membusuk dan akhirnya lepas. Mereka bukan hanya ditolak dan dihindari namun dianggap “sudah mati” oleh anggota keluarganya. Hukum Yahudi yang berlaku melarang siapa pun juga untuk mendekati apalagi menyentuh penderita lepra, jika tidak ingin dianggap bersalah dan dikenakan hukuman.

Akan tetapi penderita lepra yang satu ini melakukan sesuatu yang sangat menarik. Dengan penuh keyakinan ia mendekati Yesus, dan dengan rendah hati ia mengharapkan Yesus dapat dan mau menyembuhkan dirinya. Umumnya, penderita lepra akan dihukum rajam atau dibuang ke tempat yang jauh bila ia berusaha mendekati seorang guru (rabbi).

Lihatlah apa yang dilakukan Yesus – bukan hanya mengabulkan permohonan penderita lepra tersebut, Yesus juga memperlihatkan kasih-Nya secara nyata, belask kasih dan kelemahlembutan Allah dalam sentuhan fisik yang dilakukanNya. Walaupun pada saat itu, sentuhan dianggap sebagai suatu hal yang membahayakan diri karena risiko tertular, Yesus menghadapi keadaan orang tersebut dengan penuh belas kasih dan kelemahlembutan. Yesus menyatakan kasih dan kerahiman Allah dengan suatu perbuatan yang berbicara jauh lebih banyak daripada hanya sekadar perkataan saja. Ia menjamah, menyentuh penderita lepra tersebut dan mentahirkannya – bukan hanya fisik namun juga secara rohani.

Bagaimanakah kita bersikap terhadap orang-orang yang sulit untuk dikasihi, atau kepada mereka yang disingkirkan orang masyarakat karena mereka memiliki kelemahan fisik ataupun mental? Apakah kita akan memperlihatkan kelembahlembutan dan kerahiman Allah serta membantu mereka seperti yang dilakukan Yesus? Tuhan Yesus senantiasa siap untuk menunjukkan kepada kita belas kasih-Nya serta kerahiman Allah dan membebaskan kita dari segala hal yang membuat kita tidak layak, tidak pantas untuk didekati, atau bahkan tidak pantas untuk dikasihi dan dicintai. Bagaimana kita bersikap terhadap orang yang paling hina, direndahkan atau dikecilkan dalam masyarakat dan di sekeliling kita?

Doa: “Tuhan Yesus kobarkan hati kami dengan cinta kasih-Mu, dan jadikan aku bersih serta utuh kembali, jiwa, raga dan pikiran kami. Mampukan aku untuk senantiasa tidak goyah dalam mengimani Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamatku, dan mewartakan cinta kasih, belas kasih serta kerahiman-Mu.”

MBMM