Saudara Dalam Iman

Renungan Selasa 26 Januari 2016

Bacaan: 2Sam. 6:12b-15,17-19; Mzm. 24:7,8,9,10; Mrk. 3:31-35

Pada ayat 33, jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” bukan berarti Yesus tidak mengakui Maria sebagai ibuNya namun Yesus ingin menjelaskan pada banyak orang bahwa siapa saja yang melakukan kehendak Bapa juga menjadi saudara Yesus dan juga ibu Yesus, yang jelas tampak pada ayat 35: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Bukankah kita juga ingin menjadi saudara bagi Yesus? Pertanyaannya benarkah kita sudah menjadi saudara Yesus?

Artinya sudahkah hidup kita melakukan kehendak Bapa di Surga, bagi Yesus basis dari persaudaraan adalah iman, dalam kerajaanNya ikatan darah tidak begitu penting seperti yang diajarkan oleh dunia, tetapi yang menentukan ialah ikatan iman dan kasih kepada Allah. Bukan berarti Yesus tidak menghargai Maria ibuNya dan saudara-saudaraNya, tapi Yesus mau mengatakan bahwa hubungan darah dan kekerabatan sangatlah terbatas dan mudah retak, tapi yang diinginkan Yesus adalah ikatan persaudaraan dalam Bapa yang Esa dalam kasih Nya yang saling memaafkan/mengampuni, saling mengasihi, saling menopang/menguatkan, cinta, damai, dst. Persaudaraan yang berlandaskan Allah jauh lebih kuat daripada persaudaraan yang berlandaskan kesamaan darah, maka Yesus mengajak semua orang beriman untuk tidak pernah melupakan Allah di dalam hidupnya, membangun relasi dengan Yesus sungguh menyenangkan dan membahagiakan. Lihat hubungan Yesus dengan para rasul, yang melebihi sekedar hubungan seorang Rabi (guru) dengan murid-muridnya, tapi mengangkat persaudaraan dengan para rasul sebagai satu keluarga (keluarga kerajaan Allah). Dalam gereja kita mengenal kata suster juga broeder yang artinya saudara perempuan dan saudara laki-laki, padahal mereka bukan saudara kandung/sedarah dengan kita.

Pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata saudara berarti orang yang seibu, seayah, adik kakak, orang yang bertalian keluarga, ada hubungan sedarah. Jika Yesus melihat dari pengertian saudara ialah orang yang bertalian keluarga/sedarah, berarti kita tidak layak disebut sebagai saudara Yesus, apalagi masuk dalam keluarga Allah, karena kita tidak sedarah dengan Yesus. Tetapi kita bisa disebut sebagai saudara Yesus, anak Allah hanya oleh karena Anugerah Allah, kemurahan kasih Allah, Rahmat yang dicurahkan bagi kita (Mzm: 145:9). Melalui tatanan sakramental Gereja, kita menjadi saudara dalam Kristus karena telah memasuki perjanjian dengan Allah, lewat pembaptisan kita menjadi anak Allah saudara Kristus, sehingga kita tidak lagi memanggil  “Allah” (yang begitu jauh dengan kita) tapi kita diijinkan memanggilnya Bapa (begitu dekat, hubungan anak dan ayah) (Galatia 4:6; Roma 8:15). Allah telah menjadi Bapa universal bagi kita semua.

Dengan mengasihi sesama seperti Yesus kepada semua orang, bukan hanya kepada orang tertentu (kaya, berpangkat, cantik/ganteng, dll.) namun hingga kepada orang yang paling hina dina (jasmani/rohani) dan tidak memiliki hubungan darah dengan kita sekalipun kita harus belajar dan terus belajar untuk dimampukan mengasihi mereka seperti kita mengasihi Yesus dan seperti Yesus mengasihi kita (Kolose 3: 14), sehingga kita pantas dan layak menjadi anak Allah, saudara Yesus dan sesama. Sebagai anak atau saudara Yesus, bagaimana sikap hidup yang bisa kita perlihatkan sebagai bagian anggota keluarga Allah yang baik, sopan, penuh kasih, sukacita, cinta damai, sabar, murah hati, baik, setia, lemah lembut, penuh penguasaan diri (Gal 5:22-23). Itulah misi Yesus ingin membentuk keluarga Allah bagi semua dan dalam semua yang mau melakukan kehendak Nya.

Yesus mengajak untuk membangun relasi yang lebih mendalam, bukan hanya persaudaraan fisik, tetapi yang lebih penting membangun persaudaraan spiritual, beranikah kita membangun relasi dengan Yesus? Beranikah kita menganggap relasi dengan Yesus lebih penting dari pada relasi dengan saudara sedarah kita? Serahkan hidupmu untuk dijadikan saudara bagi Kristus, memang kita tidak mampu (yang dibutuhkan hanya ke-MAU-an) maka rahmatNya akan memampukan, kita akan dilahirkan kembali dan diselamatkan karena darah Yesus di kayu salib yang akan membawa kita pada kehidupan baru (lahir baru) yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3).

Gunawan Poulden