Membawa Terang Kristus

Renungan Kamis 28 Januari 2016

Bacaan: 2Sam. 7:18-19.24-29;Mzm. 132:1-2.3-5.11.12.13-14;Mrk. 4:21-25

Melalui Injil hari ini Yesus berbicara tentang perumpamaan pelita dan ukuran. Kita menyalakan lampu atau pelita agar terang. Karena itu kita akan menempatkan lampu pada tempat yang strategis, agar setiap orang dalam rumah dapat melihat terang lampu tersebut. Sehingga semua orang dalam rumah itu tidak tersandung pada meja atau benda lain dalam rumah karena gelap. Adalah hal yang tidak masuk akal kalau seseorang menyalakan lampu lalu menyembunyikannya agar orang lain tidak melihat cahayanya. Bila kita telah menyalakan lampu, maka cahayanya pasti akan kelihatan.

Ketika Kristus bersabda: “Kamu adalah terang dunia”, maka Ia mengatakan kepada kita agar terang yang kita peroleh melalui baptisan menerangi orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita harus menjadi terang bagi sesama kita. Terang kita adalah terang Kristus, bukan terang dari diri sendiri. Terang itu diberikan kepada kita oleh Kristus karena itu kita harus memberikannya juga kepada orang lain. Bagaimana kita bisa memancarkan terang pada sesama?

Suatu saat seorang teman bercerita bahwa ia selama ini rajin untuk ikut Ekaristi kudus setiap hari karena malu pada mama saya yang walaupun sudah usia lanjut namun rajin bangun pagi dan ikut misa setiap hari, hal yang dilakukan mama saya ternyata membawa terang atau perubahan sikap sehingga orang lain yang melihat ikut disemangati untuk ikut ekaristi kudus setiap hari dan mengalami sukacita.

Dalam terang Kristus itu “tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada suatu rahasia yang tidak akan tersingkap” [ayat 22]. Sabda ini sungguh hidup dan apa yang tersembunyi dalam dan rapat dalam hati saya akhirnya terbuka.

Pada saat saya ikut Pembinaan Pengajar (Teaching Course/TC) SEP pada hari pertama saya ikut dan saya tahu sarana yang dipakai yaitu laptop dan LCD saya jadi takut karena saya belum mengenal alat itu sama sekali dan tidak dapat mengoperasikannya. Saya takut jika pada saat ujian praktek nanti harus pakai alat tersebut. Dan ketika para peserta yang lain datang saya lebih lagi merasa tambah minder karena beberapa yang saya kenal adalah orang-orang yg sudah terbiasa berbicara di depan orang banyak. Dua hal ini membuat hati saya tambah kecil dan dalam hati saya bertekad minggu depan saya tidak akan hadir lagi dalam TC ini.

Namun pada saat pengajaran Bab 2 oleh almarhum Bapak Donny niat saya yang tersimpan rapat dalam hati untuk minggu depan tidak hadir lagi itu tersingkap lewat kata-kata yang diucapkan Bapak Donny sebelum beliau mengajar yaitu: ”setiap orang yang telah menginjakkan kaki di ruangan ini tidak boleh mundur sebelum dinyatakan tidak lulus”. Saya terkejut sekali bahwa Allah menegur saya melalui Bpk. Donny sehingga akhirnya saya tidak jadi tidak hadir pada minggu berikutnya. Rahasia atau niat yang saya simpan dalam hati saya disingkapkan Tuhan melalui Bapak Donny.

Yesus bersabda : “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan malah akan ditambahkan lagi kepadamu” [Markus 4:24].

Dalam hidup selalu ada suatu keseimbangan. Yang memberi dengan rela hati akan diberi lebih banyak lagi. Yang murah hati terhadap orang lain, akan diganjar oleh Tuhan bahkan lebih banyak lagi. Demikianlah apa yg kita terima dan alami sebenarnya juga tergantung dari apa yang kita lakukan bagi orang lain. Orang yang begitu murah hati juga akan mengalami kemurahan hati dari orang lain. Namun orang yang pelit dan mau cari enaknya sendiri, di mana-mana ia juga akan mengalami kesulitan dalam hidup bersama.

Apakah saya sudah menjadi terang Kristus bagi sesamaku ?

[MLEN]