KehendakMu atau Kehendakku?

Renungan Rabu 27 Januari 2016

Bacaan: 2Sam. 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-20

Tuhan Yesus menceritakan mengenai empat macam orang dalam menerima firman Tuhan, melalui perumpamaan empat macam tanah :
1. Tanah yang di pinggir jalan.
2. Tanah yang berbatu-batu.
3. Tanah yang di tengah semak duri.
4. Tanah yang baik

Tuhan memberikan kehendak bebas kepada kita mau menjadi lahan yang mana dan tentu kita semua ingin menjadi lahan tipe yang ke empat.

Sebagai anggota komunitas kristiani pastilah kita semua telah memilih serta berjuang terus untuk menjadi lahan tipe ke empat yaitu menjadi tanah yang baik berarti menjadi orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.

Namun marilah kita refleksi diri sejenak, adakah buah-buah telah saya hasilkan dan apakah buah-buah itu senantiasa berlipat ganda? Ataukah saya sudah merasa puas dengan buah yang saya hasilkan. Bahkan mungkin menurut perasaan sendiri saya telah berbuah, padahal di mata Tuhan itu bukan buah. Kadang-kadang berada di suatu komunitas kita merasa lebih “baik”, lebih “suci”, lebih “kudus” daripada orang lain, kita merasa sudah “berbuah”.

Apakah segala sesuatu yang saya lakukan memang benar-benar adalah kehendak Tuhan?

Punya ambisi untuk Kerajaan Allah merupakan suatu kewajiban murid Kristus, namun caranya apakah sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita mau belajar dari Daud yang berambisi untuk menyenangkan hati Tuhan dengan mendirikan rumah Tuhan. Tetapi ternyata itu bukan kehendak Tuhan. Tuhan berkehendak bahwa Salomo-lah, keturunan Daud yang akan mendirikan rumah Tuhan. Daud taat tidak memaksakan kehendaknya sendiri tetapi mempersiapkan Salomo, anaknya agar kehendak Allah terlaksana.

Ada seorang bapak yang punya ambisi membangun sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak miskin. Mulailah bapak ini berjuang mencari informasi, survey dan mencari ke sana ke mari siapa-siapa yang bisa membantu “proyek kemanusiaan” ini. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Namun Puji Tuhan, Bapak ini tidak memaksakan kehendaknya, ia selalu mau datang dalam doa, bertanya pada Tuhan, juga mendengar nasehat dari teman-teman di sekitarnya. Dengan berjalannya waktu, sungguh indah, Tuhan menjawab kerinduan bapak ini tetapi dengan cara yang Tuhan inginkan. Bapak ini menemukan sekolah dengan kondisi yang mengenaskan, gedung dan perabotan yang rusak parah sebagian, murid-murid yang tidak bisa membayar uang sekolah dengan latar belakang berbagai kisah pilu orang tua mereka. Juga guru-guru yang mengajar dibayar dengan gaji yang tidak layak. Maka mulailah Bapak ini bekerja dan melaksanakan firman Tuhan, mengasihi mereka, mencari donatur, mencari kontraktor, mencari orang-orang yang punya hati untuk mereka, serta mempersiapkan orang-orang lain untuk melaksanakan kehendak Tuhan ini.

Saudaraku yang terkasih, mari kita mohon bimbingan Roh Kudus dan rahmatNya agar supaya kita benar-benar menjadi tanah yang baik, yang berbuah menurut pandangan Tuhan, melepaskan ego dan kehendak pribadi, tidak mudah putus asa dalam membimbing orang lain sehingga hanya kehendak Tuhan saja yang terlaksana.

Tuhan memberkati.

PPT