Liputan dari Konferensi Internasional Sekolah Evangelisasi Katolik (Roma, 4-8 November 2014)

KEEP THE FIRE BURNING

Konferensi Internasional

Sekolah Evangelisasi Katolik

Berkat kasih dan perkenan Tuhan, saya mendapat kesempatan amat berharga untuk menghadiri konferensi internasional Sekolah Evangelisasi Katolik yang tergabung dalam ACCSE. ACCSE adalah singkatan dari Association of Coordinators of Catholic Schools of Evangelization.

Konferensi internasional ini diselenggarakan di Roma pada tanggal 4-8 November 2014. Bertempat di Casa La Salle, sebuah hotel bekas biara susteran dan sekolah Katolik yang terletak di Via Aurellia.

Ketika Fr. Gino Henriquesss mengundang saya melalui telpon, tidak terbersit sekilas pun pikiran untuk memenuhi undangan tersebut. Namun, dalam peristiwa ini saya kembali menyadari bahwa kehendak Tuhan akan terlaksana jika saya berani menerjunkan diri sepenuhnya ke dalam arus aliran kehendakNya.

Pertemuan ACCSE 2014 ini diadakan dalam rangka perayaan 25 tahun berdirinya. Benih yang telah ditanam 25 tahun yang lalu, kini telah menghasilkan buah berlimpah dalam dunia penginjilan Katolik. Di berbagai negara, telah muncul aktivitas evangelisasi dalam pelbagai bentuk programnya. Lahan evangelisasi ini meliputi seluruh tahap usia. Juga meliputi berbagai lingkup sosial. Seluruh komponen di Gereja Katolik bekerja sama melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus :

…. pergilah, jadikanlah semua bangsa murid- Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. ” (Mat 28:19-20).

Para Uskup, Imam, Biarawan, Biarawati dan kaum awam terlibat aktif melaksankan misi Gereja yaitu evangelisassi kepada dunia. Hal ini tergambar dari para peserta pertemuan di Roma yang terdiri dari 3 orang Uskup (dari Afrika dan Filipina), 8 orang Biarawati, 15 orang Imam dan 63 awam muda dan tua. Semua 5 benua terwakili oleh kehadiran peserta. Ada yang dari Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia.

Meskipun demikian, saya menyadari bahwa Gereja tidak boleh menepuk dada dengan kepuasan dan merasa bahwa evangelisasi sudah tidak perlu mendapat perhatian besar lagi. Evangelisasi tidak akan berhenti dan tidak boleh diabaikan oleh kita semua, mengingat Gereja ada untuk mewartakan Injil (Paus Paulus VI). Hal ini sesuai dengan tema utama konferensi yaitu: “KEEP THE FIRE BURNING” (Jagalah api tetap menyala).

Api semangat evangelisasi tidak boleh dipadamkan oleh apapun dan siapapun. Tema besar ini dijabarkan dalam 10 bagian dengan bentuk pengajaran, refleksi, diskusi sebagai berikut:

  1. The Founding and History of Evangelization 2000 : Fr. Gino Henriquess.
  2. Re-visioning our Schools in the Particular Areas of Formation and Outreach : Michelle Morran.
  3. Open Forum : How will the Schools of Evangelization response and develop to meet the challenges of today? : Michelle Morran.
  4. The Holy Spirit : The Agent of Evangelizers’ Holiness : Fr. Raniero Cantalamessa.
  5. Contemplating The Face of Jesus : Fr. Raniero Cantalamessa.
  6. Going out in the Fire and Power of The Holy Spirit : Fr. Raniero Cantalamessa.
  7. From a Jubilee to the greatest of Jubilees
  8. Reflection : Emaus – Walk with Jesus.
  9. Discussion in Groups.
  10. Intercession Prayers and Prayer Campaigns.
  11. The Role of the Clergy and the Laity.
  12. Reaching the Youth.
  13. Proclaiming the Gospel to the Poor.
  14. Moving Forward with the Evangelization 2033 : Fr. Gino Henriquess.

Setiap siang diadakan Perayaan Ekaristi. Di samping sesi utama, juga dilakukan presentasi pelayanan evangelisasi dari negara-negara yang tergabung dalam ACCSE, malam budaya, audiensi kepada Bapa Paus Fransiskus I di Vatikan (pada hari Rabu 5 Nopember 2014).

Penekanan dalam konferensi ini adalah Evangelisasi 2033 yaitu merayakan 2000 tahun wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Semoga di tahun 2033, setiap orang mengenal atau setidaknya sudah mendengar nama Yesus. Untuk mencapai cita-cita ini, maka amat penting menghidupkan dan membangun program-program evangelisasi secara berkesinambungan.

Program-program tertata dalam melahirkan Duta-Duta Tuhan Yesus Kristus yang sealalu siap memperkenalkan Yesus kepada dunia kehidupan sehari-harinya melalui sikap hidup, tindakan/perbuatan kasih dan kata-kata eksplisit yang dapat didengarkan oleh sesama.

Pertanyaan Yesus kepada para murid: “Siapakah Aku ini ?”, juga menjadi pertanyaan orang-orang yang hidup pada jamannya: “Siapakah Yesus itu?”

Dan para murid Kristus harus bisa menjadi jawaban atas pertanyaan itu.

Inti pewartaan yang sederhana yaitu Yesus wafat, Yesus bangkit dan Yesus naik ke Sorga perlu kita sampaikan/ceritakan kepada semua orang. Wajah Yesus harus tercermin melalui hidup kita, melalui perkataan, perbuatan dan sikap hidup. Dengan demikian pertanyaan tersebut dapat terjawab.

Karena itu metode yang perlu dikuasai dan dihidupi dalam pewartaan ini adalah metode DIALOG. Jaman diktator sudah lewat. Apakah yang dimaksudkan dengan jaman diktator? Aku berbicara, kamu harus mendengarkan baik-baik, kamu harus sepakat dengan pendapatku, kamu harus menerima ide dan pemikiranku, karena aku yang mengerti segala sesuatunya sedangkan kamu tidak mengerti apa-apa. Metode diktator dalam pewartaan sudah tidak aktual, tidak relevan dan perlu ditinggalkan. Sekarang adalah jaman dialog. Kehadiran seseorang yang membawa makna kehidupan bagi orang-orang lain dan kehadiran orang lain juga memberi makna bagi dirinya. Jadi setiap orang akan memberi arti kehidupan bagi dan menerima arti kehidupan dari orang lain. Seorang pewarta Kabar Sukacita tak sepatutnya hanya berpikir tentang apa yang akan kuperoleh dari orang lain, melainkan juga menyadari bahwa keberadaanku akan membawa kebaikan bagi orang lain. Dasar utama dialog adalah mengasihi, menghargai, menghormati sesama sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang berhak mengalami kebahagiaan hidup sesuai rencana Allah, bukan sebagai obyek sasaran terlaksananya tugas pewartaan yang diterima oleh Gereja.

Dialog ini dilaksanakan oleh seluruh Gereja Katolik sambil terus melangkah menuju tahun 2033. Dengan dialog evangelisasi dilakukan bagi seluruh lingkup masyarakat, anak-anak, remaja, dewasa, kaum tua, para profesional, para pebisnis, para petani peternak, para eksekutif, para politikus, kaum papa, kaum religius dan lain-lain. Kehadiran yang bermakna dilakukan dengan pelbagai sarana, misalnya sosial media, dalam pelbagai situasi.

Oleh karena itu semua pengurus sekolah evangelisasi perlu terus belajar membaca bagaimana sistim evangelisasi yang tepat guna bagi kebutuhan manusia pada jamannya. Kadang-kadang zona nyaman dan mantap perlu ditinggalkan, apabila sudah tidak lagi efektif pada suatu ketika. Misalnya, suatu sistem sekolah evangelisasi telah membuahkan perkembangan besar ketika diterapkan 20 tahun silam, namun 20 tahun kemudian sistem yang sama belum tentu sesuai dengan kondisi dan situasi. Bila hal ini terjadi maka para pengurus memerlukan keterbukaan hati dan budi untuk menciptakan sistim yang inovatif.

Isi inti evangelisasi tidak pernah berubah, metode dan sistem yang bisa berubah. Jiwa evangelisasi tidak pernah berubah yaitu Roh Kudus. Sejak jaman Yesus, para Rasul dalam Gereja Perdana dan perkembangan selanjutnya sampai kapanpun, Roh Kudus adalah Penggerak utama penginjilan. Tanpa Roh Kudus, semua usaha akan sia-sia semata. Sistem dan metode sesuai kebutuhan berguna untuk mewujudkan karya Roh di dunia ini.

Fr. Gino Henriquess, Presiden ACCSE Internasional, menegaskan pentingnya melanjutkan pembentukan evangelizers dengan pembinaan pemuridan. Setelah seseorang menerima pewartaan dan dilatih oleh para Trainers untuk mewartakan (tahap Kerygma), dia harus dibina lanjut agar bertumbuh sebagai murid Kristus yang sejati (tahap Didache).

Program dasar Sekolah Evangelisasi adalah :

Pewartaan (Kerygma) – membuat orang mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus (Christ encounter) – dan memasuki jalan pemuridan (discipleship) – kemudian melakukan pewartaan (proclamation).

Catatan : Istilah yang dipakai bagi pengajar di sekolah evangelisasi yang tergabung dalam ACCSE adalah Trainers. Para trainers ini bertugas melatih murid untuk menjadi evangelizer, yaitu orang-orang Katolik yang mewartakan Kabar Baik karena tugas perutusan yang diterima berkat Sakramen Baptis, Krisma dan Ekaristi, melalui cara hidup dan kesaksian iman secara lisan kepada orang-orang yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tambahan Penulis : kerinduan dan kebutuhan umat Katolik di Keuskupan Surabaya untuk melakukan evangelisasi sesuai arah Gereja Katolik dapat terpenuhi dengan cara bergabung di SEKOLAH EVANGELISASI PRIBADI (SEP) “St. Yohanes Penginjil” BPK PKK Surabaya atau di KEP Paroki yang ada.

Pada hari terakhir, secara pribadi saya berterima kasih kepada Fr. Gino yang telah mengingat saya dan berkenan mengundang kami bertiga dari SEP Surabaya (Pak Franky dan Pak Januar) dan dari Komunitas HSM.

Saya berterima kasih karena telah mengalami kobaran semangat evangelisasi setelah mengikuti konferensi ini. Bagi saya, tema utama “Keep The Fire Burning” bukan hanya sekedar slogan pemanis acara, melainkan suatu tema yang lahir oleh inspirasi Roh Kudus, sehingga menjawab kebutuhan saya (dan para peserta lain) agar tetap setia mewartakan Injil dalam kesatuan dan ketaatan sebagai anggota Gereja Katolik.

Selain itu saya juga berterima kasih kepada BPK PKK Surabaya dan SEP St. Yohanes Penginjil BPK PKK Surabaya yang berkenan membukakan jalan untuk menerima berkat dan kasih karunia Tuhan melalui pertemuan di Roma itu.

 Ketika manusia sedang terlelap….

Terlelap dalam gemebyar nikmat yang gemerlap

Terlelap dalam kelam kehidupan yang pengap

Terlelap dalam pengharapan palsu yang hanya sekejap

Keterlelapan yang menyeret ke jurang kehancuran yang tetap …..

 

Berdirilah para Malaikat di depan para gembala

Memberitakan kabar sukacita

Seorang Juru Selamat telah lahir di dunia.

“Temuilah Dia !” Kata Malaikat kepada gembala

 

Perjumpaan pribadi dengan Yesus yang hidup

Membuat para gembala tak lagi bersemangat redup

 

Begitulah keterlelapan dikalahkan

Tak satupun dapat melakukan

Hanya perjumpaan pribadi dengan Yesus Tuhan

Membuat manusia hidup abadi , bebas dari kekalnya kehancuran

Inilah penginjilan

 

Jaga terus kobaran api evangelisasi

Jangan pernah berdiam diri

Ketika menatap kelesuan menerpa hati

 

Come oh Holy Spirit

Help us to keep the fire burning

 

 

Surabaya menjelang Natal 2014.

Judy Nuradi