Liputan Retreat Bersama SEP 2014 Gelombang 2

MADE TO SERVE With a Joyful Heart ( Efesus 2 : 10 )

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Setelah retreat bersama gelombang 1, maka Sentra Evangelisasi Pribadi juga mengadakan retreat bersama gelombang 2 yang hanya selisih satu minggu setelah diadakannya retreat bersama gelombang 1. Retret Bersama ini kembali diikuti oleh siswa Sentra Evangelisasi Pribadi dan KEP. Total peserta sekitar 400 orang, termasuk dari KEP Sidoarjo, KEP Yakobus, KEP Algonz, KEP SMK, KEP Kediri, KEP RM dan KEP Executive.

Seperti Retreat Bersama Gelombang 1, retreat ini berlangsung di Rumah Pertapaan Putri Karmel, Ngadireso, Tumpang dengan pembimbing retreat Rm. Ignasius Budiono O’Carm. Retret Gelombang 2 ini dilaksanakan pada tanggal 12-14 September 2014 dengan tema, “MADE TO SERVE With a Joyful Heart”.

Retret diawali dengan Misa Pembukaan pada pukul 17.00. Misa dipimpin oleh Romo Moderator BPK-PKK Keuskupan Surabaya Romo FX. Otong Setiawan dan Romo Pembimbing Retreat Romo Ignasius Budiono O’Carm. Setelah Misa Pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Sekolah SEP, Bapak FX. Satrio Hutomo dan dari Ketua Umum Retret Bersama Gelombang II, Ibu Felicitas Jonan.

Materi yang dibawakan oleh Romo Ignasius Budiono O’Carm dibagi menjadi 6 sesi, yaitu:

  • Sesi ke-1 dengan sub-tema “Taat Pada Perutusan Tuhan (Belajar dari Kisah Yunus)”.
    • Yunus adalah utusan Tuhan yang berusaha lari dari panggilan Tuhan. Dia tidak ingin hidupnya diintervensi oleh Tuhan.  Ia tidak mau peduli dengan keselamatan orang [bangsa] lain.
    • Namun pada akhirnya, Yunus harus mewartakan berita keselamatan Tuhan. Yunus menyadari bahwa Tuhan mencintai semua orang. Yunus menyadari bahwa setiap manusia sungguh berarti bagiNya, maka akhirnya dia mau masuk pada panggilan Tuhan atas hidupnya. Dia menyadari fungsinya sebagai perpanjangan Tangan Tuhan bagi umat ciptaanNya.
  • Sesi ke-2 dengan sub-tema “Menjadi sarana KeselamatanNya (Mencontoh Pemudi Miryam)”.
    • Miryam dan ibunya, adalah dua perempuan yang sigap melakukan apapun untuk keselamatan Musa. Mereka melakukan apapun yang bisa mereka dilakukan, karena mencintai Musa. Mereka percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Hal kecil yang mereka lakukan akan berguna bagi keselamatan seluruh bangsa karena Musa adalah masa depan dari sebuah bangsa.
    • Kotak pandan yang hanyut di sungai Nil, diambil oleh Puteri Firauan. Ia pun tergerak oleh belaskasihan melihat bayi Musa. Puteri Firaun ini pun menjadi sarana keselamatan Tuhan.
  • Sesi ke-3 dengan sub-tema “Utusan Tuhan dalam segala cuaca (Belajar dari tugas perutusan Nabi Yeremia)”.
    • Yeremia adalah utusan Tuhan dalam “segala cuaca. Walaupun masih muda dan tidak pandai bicara, tetapi dengan penuh semangat dan keberanian mewartakan Sabda Tuhan.
    • Nabi memasuki pengalaman yamg sulit ketika semua menentang dia, bahkan Tuhanpun nampak menjauh dari dia. Namun Yeremia tetap setia, tetap berdoa, dan panggilannya diperbaharui oleh Tuhan.
    • Dengan pengalamannya ini, nabi dipersiapkan Tuhan untuk mendampingi umatNya dalam pengalaman krisis mereka. Supaya tetap teguh dalam iman, juga ketika mengalami krisis yang mendalam.
  •  Sesi ke-4 dengan sub-tema “Hamba Tuhan yang hidup dari SabdaNya (Meneladan Bunda Maria)”.
    • Kita harus “mengevanlisasi diri” seturut teladan Ibu Maria. Maria adalah manusia yang menyediakan seluruh hidup dan dirinya bagi Allah.
    • Teladan istimewa dalam “mengunyah-ngunyah” Sabda Tuhan dalam kesabaran, sehingga menjadi matang pada waktunya.
    • Teladan dalam kesetiaan dalam mengikuti kehendak Tuhan: dalam gembira dan duka. Karena itulah ia menerima mahkota kemuliaan.
  • Sesi ke-5 dengan sub-tema “Menjadi RasulNya sampai akhir (Belajar dari pergulatan Rasul Petrus)”.
    • Perjalanan Petrus adalah perjalanan: Belajar percaya pada Yesus, belajar berani “bertolak ke tempat yang lebih dalam”, tidak takut resiko, tidak takut berkorban……
    • Belajar mengikuti Yesus, bukan hanya karena “suka dan tidak suka”, melainkan siap sedia jika Tuhan membutuhkannya, dalam situasi apapun juga.
    • Akhirnya, Petrus mampu memberikan dirinya sampai tuntas bagi Tuhan, dan bagi domba-domba yang dipercayakan kepadanya.
  • Sesi ke-6 dengan sub-tema “Melayani Tuhan dengan sukacita (Belajar dari Misionaris Agung St. Paulus)”.
    • Itulah “Injil” Paulus, yakni kabar gembira yang dimengerti dan dirasakan Paulus, bahwa Yesus sungguh mencintainya, walaupun ia memusuhiNya. Cinta yang di luar dugaan: Paulus  yang menganiaya Dia, malah Dia pilih sebagai rasulnya!
    • Meluap karena kegembiraan ini,  Paulus memberikan dirinya seluruhnya untuk mewartakan Injil Kristus!  Ia merasa mendapatkan rahmat besar bisa mewartakan Injil. Paulus merasa “celaka” jika tidak mewartakan Injil. “Upahku adalah mewartakan Injil tanpa upah” (1 Kor 9,18). Adalah sukacita besar bisa mewartakan Injil! (Ef 2,10).
    • Inilah puncak dari keseluruhan retreat ini yang membawa pemahaman baru.

Semangat para teladan ini menjadi cermin dan contoh semangat bagi seluruh peserta retreat, sehingga dapat menjawab panggilan Tuhan dalam situasi apapun dengan penuh sukacita. Seluruh peserta retreat belajar merefleksikan kepada diri masing-masing dalam diskusi kelompok pada hari kedua, sehingga terbentuk pemahaman dan komitmen  baru dalam melayani Tuhan.

Marilah kita tetap bersiap menjawab pengharapan yang terkandung dalam panggilan Tuhan bagi setiap kita.

Tuhan Yesus memberkati.

(Surabaya, Oktober 2014, Christina)