Liputan Retreat Bersama SEP 2014 Gelombang 1

JADIKAN AKU TERANG BAGI SESAMA

Bagaikan pelita yang menyala di tengah kegelapan

Dan hidup bercahaya di depan semua orang

Agar mereka lihat dan memuliakan Allah Bapa di surga

Demikian reffrein lagu yang berjudul Jadikan kami berkat-Mu Tuhan yang menjadi theme song Retret Bersama Gelombang I yang dinyanyikan pada setiap awal dan akhir sesi yang disesuaikan dengan tema retret bersama Gelombang I.

Salah satu agenda rutin Sentra Evangelisasi Pribadi adalah Retret bersama. Retret Bersama ini diikuti oleh siswa Sentra Evangelisasi Pribadi dan KEP. Total peserta retret sekitar 900 siswa, termasuk alumni, pendamping kelompok sharing, korektor dan pengajar, yang dibagi dalam 2 gelombang.

Bertempat di Rumah Pertapaan Putri Karmel, Ngadireso, Tumpang, Malang, Retret Gelombang pertama dilaksanakan pada hari Jumat sampai Sabtu, tanggal 5-7 September 2014 mengambil tema, “Jadikan Aku Terang Bagi Sesama”, dengan Romo Friedz Meko, SVD sebagai pembimbing.

Tema yang diambil merujuk pada Injil Matius 5:16 yang berbunyi: Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Retret Bersama Gelombang I ini diikuti oleh siswa kelas Misi Evangelisasi Pribadi dan kelas Pemuridan dari SEP Santo Yohanes Penginjil BPK PKK Surabaya, KEP Kediri, KEP Nganjuk, KEP Gembala Yang Baik, KEP St. Yakobus, KEP St. Marinus Yohanes, KEP St. Yusup, KEP Kristus Raja.

Retret diawali dengan Misa Pembukaan Retret Bersama yang dimulai pada jam 17.00. Misa dipimpin oleh RD. FX. Otong Setiawan dan Romo Friedz Meko, SVD. Pada homili yang disampaikan oleh Romo Otong, beliau berpesan untuk belajar melihat segala sesuatu dari “kacamata” yang benar. Beliau memberi contoh saat kita memakai kacamata hitam, segala sesuatu akan terlihat gelap dan tidak jelas. Sedangkan saat kita menggunakan kacamata yang baik, yang jernih maka segala sesuatu akan terlihat sebagaimana adanya. Baik, buruk, benar, salah semua terlihat dengan jelas.

Setelah Misa Pembukaan, acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Kepala Sekolah SEP, Bapak FX. Satrio Hutomo dan dari Ketua Umum Retret Bersama Gelombang I, Bapak Nikolas Ardianto Kusumawardhana.

Materi yang dibawakan oleh Romo Friedz dibagi menjadi 6 sesi, yaitu:

  • Sesi ke-1 dengan sub-tema “Menyepi Mencari Apa Maunya Tuhan atas Hidup Anda” berdasarkan Injil Matius 4:1-11.
  • Sesi ke-2 dengan sub-tema “Kenal dan Pahami Diri Apa Adanya” berdasarkan Mazmur 8:1-10. Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
  • Sesi ke-3 dengan sub-tema “Keadaan Dunia yang Membingkai Hidupku” berdasarkan 2 Tim 3:1-9 sebagai refleksi.
  • Sesi ke-4 dengan sub-tema “Memperbaiki dan Merawat Hidup yang Telah Hambar” berdasarkan Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia 5:17-23.
  • Sesi ke-5 dengan sub-tema “Dipanggil untuk Memancarkan Cahaya dan Menaburkan Garam” berdasarkan Matius 5:13-16.
  • Sesi ke-6 dengan sub-tema “Diutus untuk Mewartakan Nilai-Nilai Kerajaan Allah” berdasarkan Injil Matius 28:16-

Sebagai kesimpulan dari retret ini, bahwa sebagai seorang Katolik yang telah menerima Kristus dan dibaptis, kita semua memiliki tugas yang sama, yaitu mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah (bdk. I Kor 13:4-7). Kita ditugaskan untuk menjadi terang dan garam bagi sesama kita, bagaimanapun keadaan hidup kita, di manapun kita berada.

Melihat dari pengalaman para martir, baik martir putih maupun martir merah. Jadi, seorang pewarta adalah “Agen” yang siap membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke mana pun dengan tetap sadar bahwa ia harus siap untuk menjadi manusia yang berluka. Untuk menegakkan kebenaran, dibutuhkan pengorbanan.

Sebagai Saksi yang benar di tengah dunia yang banyak menderita karena kepalsuan dan berbagai persoalan yang merampas damai dan sukacita dari hidup banyak orang, maka seorang pewarta perlu memahami nilai-nilai Kerajaan Allah secara baik sebelum ia bertindak dalam pewartaannya.

Seorang pewarta harus selalu memiliki sifat dan sikap sebagai berikut:

  • SUKACITA di dalam dirinya, agar semangat untuk mewartakan tetap terjaga. Seorang pewarta haruslah seorang pendoa, agar sukacita itu tetap tumbuh dan berkembang dalam dirinya sehingga dalam situasi apa pun (suka maupun duka) ia tetap memancarkan sukacita bagi setiap orang yang ia layani.
  • Rasa DAMAI tetap mewarnai hidupnya. Damai menjadi daya psikologis dan rahmat yang membuat seorang pewarta mampu menerima semua kenyataan hidup dengan semangat “memaafkan dan mengampuni”. Damai menjadi jaminan agar seorang pewarta mampu menciptakan KONSENTRASI dan FOKUS dalam hidup dan pelayanannya. Konsentrasi dan fokus mampu menghantar pada pelayanan yang baik dan menghasilkan buah.
  • Seorang pewarta yang sabar tidak akan: gegabah, emosional, tergopoh-gopoh dan mudah mengadili, melainkan ia akan tenang dan penuh pertimbangan dalam menghadapi segala perkara dan persoalan. Seorang pewarta yang sabar adalah dia yang mempunyai pola nilai berdasarkan TEORI SOROT BALIK, “Seandainya saya adalah dia atau dia adalah saya”, karena teori sorot balik inilah, ia menjadi orang yang tidak “tega” tetapi orang yang penuh pengertian dalam pewartaannya.
  • Menciptakan Pewartaan seorang pewarta mestinya mampu menciptakan Kesejahteraan bagi umat yang dilayaninya. Penekanan kesejahteraan di sini adalah kesejahteraan batin. Orang mengalami kondisi batin yang melimpah dengan rasa aman, damai, sukacita, tenang, gembira dan bahagia. Saat orang merasakan kesejahteraan itu, maka orang itu memiliki peluang untuk hidup dengan rasa penuh syukur dan terima kasih.
  • KEMURAHAN HATI. Seorang pewarta yang mempunyai Kemurahan “hati” akan mampu memantulkan suatu pesona belaskasih yang menjangkau siapa pun. Kemurahan “hati” mencerminakan kualitas hati yang dimiliki oleh seorang pewarta. Hati yang melimpah cinta dan belas Kemurahan itu menggerakkan “mata untuk melihat, kaki untuk melangkah, tangan untuk mengulur dan mulut untuk berbicara tentang hal-hal baik dan berguna bagi orang lain.
  • Seorang pewarta yang SETIA dalam pelayanannya, itu dimungkinkan karena ia mempunyai kesadaran bahwa TUHAN telah lebih dahulu setia padanya. Kesetiaan itu mungkin karena seorang pewarta sadar bahwa ia dipanggil untuk menciptakan suatu kondisi hidup yang bermakna bagi orang lain. Hanya dengan kesetiaan, seorang pewarta  akan memandang setiap tugasnya sebagai “AMANAH” yang perlu dijalankan dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Ia tidak akan mengeluh atau mengomel tetapi bersyukur karena ia merasa dipercaya.
  • Sikap lemah lembut itu adalah pancaran kualitas hati yang DAMAI dan PENUH PENGERTIAN. Pewarta yang lemah lembut akan mampu menciptakan pesona yang TEDUH melalui tatapannya, kata-katanya, sikapnya dan perlakuannya. Lemah lembut akan membuat orang mampu melihat Tuhan hadir dalam diri seorang pewarta dan karena itu orang mudah dihantar untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya.
  • PENGUASAAN DIRI. Penguasaan diri itu hanya mungkin kalau orang bertumbuh dalam perasaan-perasaan manusiawi. Seorang pewarta adalah manusia, maka ia pun mudah tergoda untuk bertindak menurut dorongan naluri yang cenderung memudarkan citra diri dan citra panggilannya. Penguasaan diri yang baik dapat memantulkan pesona yang membuat umat mengalami pribadi yang teduh dan nyaman didekati.
  • Sikap MEMAAFKAN. Memaafkan adalah sikap yang mampu memadamkan: kemarahan, kebencian dan dendam. Semua sikap ini adalah racun dalam jiwa yang dapat mematikan cinta dan kasih yang ada dalam hati. Dalam pelayanan seorang pewarta  kadang bertemu dengan berbagai kenyataan yang menyebabkan kemarahan dan  Ini adalah perasaan manusiawi.

Menjadi seorang pewarta harus tetap berusaha hadir sebagai “SOSOK KASIH” seperti YESUS sendiri sang KASIH SEJATI.

Berkat Tuhan menyertai kita semua.

(Surabaya, 24 Sep 2014, Fanny Wijaya)