Masih Ada Waktu

Di akhir tahun 2001 ibu membawa tante saya yang tinggal di Bogor ke Surabaya untuk mendapatkan perawatan. Tante di Bogor hanya hidup bersama anaknya. Setelah mengetahui keadaan tante sakit dan tidak ada yang mengurus karena anaknya bekerja di Jakarta, maka ibu saya memutuskan untuk membawanya ke Surabaya.

Setelah diperiksa di Surabaya, ternyata tante menderita kanker payudara stadium 4. Sebenarnya tante sudah tahu tapi diam saja, mungkin dia takut atau kurang mendapat informasi mengenai kanker payudara. Di Bogor tante hanya tinggal dengan anak semata wayangnya setelah ditinggal suaminya setahun lalu akibat kecelakaan.

Tante saya adalah orang yang keras dan tidak begitu ramah, agak ketus sehingga tidak punya banyak teman. Dan sekarang saya harus merawatnya. Suatu hari saya harus menyuapi makan dan tante menolak Perasaan tidak sabar mulai muncul dalam diri saya. Setiap hari saya menemani berdoa dan berusaha menguatkan tante yang tidak bisa tidur pada malam hari. Biasanya saat saya ajak dia berdoa, dia bisa tertidur pulas, dan saat saya selesai berdoa, dia pun bangun. (bosen kale denger doa saya… he..he..he..).

Bulan Januari, ibu saya pergi ke Belanda karena kakak iparnya meninggal dunia, Saya sendirian merawat tante. Tante saat itu dirawat di rumah sakit Dr. Soetomo untuk kemoterapi. Saya sering meneteskan air mata melihat penderitaan tante, Saya coba menguatkan hati kalau berada dihadapannya. Saya menawarkan kepada tante untuk mendapatkan sakramen perminyakan sekaligus sakramen pertobatan. Tante setuju. Romo Ponticelli yang sedang tugas di Kristus Raja datang memberikan kedua sakramen tersebut. Pada saat Romo mau pulang saya sempat dipeluk oleh Romo dan rasanya beban saya terbagi dengan Romo.

Besoknya tante diijinkan pulang untuk dirawat dirumah karena proses kemoterapinya sudah selesai, dan dokter mengatakan harapan hidupnya hanya tinggal beberapa bulan saja. Kemudian tante ingin dirawat di Malang berkumpul nenek yang saat itu berusia 90 tahun tetapi masih sehat. Di Malang, saya melihat ada perubahan hidup tante. Wajahnya kelihatan tidak suram, bisa tersenyum dan tidak ketus lagi. Mungkin ini adalah buah sakramen pertobatan. Dan ajaib! tante hidup terus, tiga bulan telah berlalu, penyakit tante menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Tubuhnya tambah gemuk dan tidak galak seperti dulu. Tuhan benar-benar memberikan waktu bertobat untuk tante.

Setahun telah berlalu, justru yang dipanggil oleh Tuhan secara mendadak adalah oom saya yang sebelumnya sehat walafiat dan akhirnya nenek juga dipanggil Tuhan. Tak lama kemudian, keadaan jasmani tante mulai memburuk tetapi keadaan rohaninya sudah berubah. Saat itu tante berkata bahwa dia sudah siap dipanggil Tuhan. Dan akhirnya tante meninggal pulang ke pangkuan Bapa. Saya sungguh bersyukur sebab Tuhan masih memberikan waktu untuk bertobat buat tante. Semoga tante saya mendapat istirahat kekal di sisi Tuhan YME.

(Ptr – alumni angk. XIX).