Kuasa Doa Rosario

Saya mantan pecandu alkohol yang telah dipulihkan oleh KASIH TUHAN. Sejak tanggal 24 Januari 1988 hingga hari ini puji Tuhan saya tetap mampu bertahan untuk tidak menyentuh minuman beralkohol lagi. Semua itu karena kuasa doa Rosario.

Sebagai umat Katolik saya pernah berdevosi terhadap Bunda Maria melalui meditasi dan doa rosario. Sudah lama saya tidak melakukannya lagi. Namun suatu pagi saya memutuskan mengambil rosario dan membersihkanya Rosario itu sudah lama tergantung di lemari hias istri saya. Saya mulai berdoa dengan suatu harapan akan pertolongan Tuhan. Ternyata memang setelah selesai berdoa saya merasa ada damai. Besok paginya saya mengulangi lagi dan tanpa saya sadari saya melakukannya setiap hari. Saya sungguh terkejut dan menyadari betapa kebiasaan berdoa rosario setiap hari ternyata berpengaruh pada sikap dan perilaku saya menjadi orang yang lebih positif.

Berdoa rosario secara efektif memberikan kesempatan kepada saya untuk merenung dan duduk dalam waktu yang lama untuk “mendengarkan” suara Tuhan dalam hati. Kemudian saya mulai merasakan bahwa Tuhan mengasihi dan menghargai saya, yang sebagai pecandu alkohol sering merasa tidak berguna dan tidak dicintai. Kasih Tuhan tidaklah baru, yang baru adalah pendengaran saya tentang kasih Tuhan. Dan doa rosario merupakan sarana yang membuat saya akhirnya dapat mendengarkan suara Tuhan. Melalui meditasi saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Dasar doa rosario adalah kitab suci. Perhatian saya kembali tertuju pada Injil. Di situ saya menemukan kembali penyembuhan ajaib dan berbagai macam mujizat Yesus yang digambarkan dalam perjanjian baru. Saya merasakan realitas cinta tanpa syarat dari Tuhan serta kerahimanNya yang begitu besar.

Yesus selalu menyembuhkan lewat kata-kata dan sentuhan dan Ia telah menyentuh dan menyembuhkan saya sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Cinta Tuhan pada saya tidak mengenal batas, namun apakah iman saya akan kasih Allah mengenal batas? Iman disebut tidak mengenal batas, bila ia melampaui batasan pemikiran manusia, berarti benar-benar membuka diri dalam menerima kasih Allah, tidak meletakkan penghalang-penghalang dan membiarkan Tuhan mencintai sebanyak yang Ia kehendaki.

(Ink – Surabaya)