Iman Saya Bertumbuh di SEP

Orang bilang bahwa hidup itu indah, karena hal inilah sering timbul pertanyaan dalam hati di mana sih letak keindahannya itu? Pernah hal ini saya bantah, ketika saudara kembar saya (saya lahir sebagai anak kembar) meninggal tahun 1978. Waktu itu saya belum mengenal Roh Kudus, ke gereja pun kalau tidak malas, berdoa juga kalau lagi butuh. Saat itulah saya rasakan bahwa hidup itu tidak indah, tapi membosankan bahkan saya pernah protes kepada Tuhan ; kenapa harus terjadi kematian? Bertahun-tahun hidup dalam ketidak nyamanan dan saya tidak tahu harus berbuat apa.

Untungnya saya waktu itu sudah bekerja sebagai penyiar di sebuah broadcast non pemerintah dan mengisi acara siaran di beberapa pemancar lain juga giat menulis artikel, cerpen maupun puisi untuk majalah, tabloid serta surat-kabar, sehingga tidak larut dalam kekecewaan. Rasa senang memenuhi hati saya karena tenar banyak mendapat surat dari para pendengar, sahabat pena dan fans, tetapi hati ini tidak merasa damai, semuanya semu dan hanya senang sementara sebab membuat saya selalu cemas.

Saya menikah tahun 1980 belum juga ada perubahan, semakin ingin tahu apa arti dan buat apa sebenarnya hidup ini? Tuhan tidak pernah menjawab peranyaan saya ini, tetapi Tuhan masih pedulikan saya dan mengerti apa yang sedang saya alami ini, sehingga pada tahun 1998 ada seorang ibu datang membimbing dan mengajak saya untuk lebih mengenal Yesus Kristus. Mulai saya ikut PD, Seminar Hidup Baru, Penyembuhan Luka Batin. Sejak itulah saya merasa ada perubahan dalam hidup ini walaupun belum seluruhnya, orang bilang masih proses dan banyak tantangan yang saya hadapi. Rupanya Tuhan masih peduli dan mengingatkan saya agar mau menerima tawaran seorang teman untuk mendaftar masuk SEP, pada tahun 2005 akhirnya saya masuk.

Pada bulan ke tiga di kelas ME sempat kebimbangan merambati hati saya, karena banyak kritik yang saya terima, ada kritik membangun ada kritik yang negative dari teman-teman di lingkungan. Saya pikir buat apa saya harus mundur, inikan tidak merugikan mereka atau lingkungan, sebab di SEP ini saya sudah mulai membuka hati menerima Dia, untuk belajar dan untuk pelayanan nantinya.

Barulah kedamaian mulai menyapa ramah hati saya setelah duduk di kelas Pemuridan, baik karena mata pelajarannya yang saya terima maupun para pengajar dan teman-teman saya yang ramah atau iman saya yang mulai bertumbuh? Apalagi setelah ikut dalam kepanitiaan PD bersama dan retret bersama di Bukit Doa Immanuel (2006). Persahabatan dan kekompakan mulai terasa, begitu hangat kasih Tuhan menyelimuti hati ini sehingga hidup ini baru saya rasakan indah, sayang kalau cepat berlalu tanpa saya berbuat sesuatu untuk menyenangkan hatiNya. Saya hanya bisa mengucap rasa syukur dan terima kasih atas anugerah ini.

Ketika saya duduk di kelas Oikos (2007) sempat saya terguncang ditengah-tengah kedamaian, kembali sebuah peristiwa menimpa saya, membuat hati ini berontak tidak percaya; kenapa harus terjadi lagi? Perpisahan tanpa kata dan tanpa ucapan selamat tinggal kembali saya alami, suami saya meninggal 4 Oktober 2007. Apakah dengan berteriak dan protes serta larut dalam kan mengakhiri segalanya? Saya sadar masih ada anak-anak dan tugas saya belum selesai untuk mewartakan kabar baik. Setidak-tidaknya saya harus bisa menyakini bahwa hidup ini penuh arti dan Tuhan punya rencana yang indah buat saya dan anak-anak. Terima kasih Tuhan.

(F.S.Srie R.Pratikto.AGK)