Guru dan Murid

Siapa yang tidak kenal kata ‘guru’. Semua orang mengenal dan bahkan pernah mengucapkan. Dalam bahasa Sanskerta guru berarti berat. Berbeda dalam bahasa Jawa. Kata guru selalu diartikan dengan digugu dan ditiru. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya, guru adalah orang atau seseorang yang pekerjaannya (profesinya) mengajar. Oleh karena itu muncullah istilah-istilah guru kelas, guru bantu, guru ngaji, guru agama, guru baru, guru SMP, guru SMA, guru SEP, dan sebagainya.

Jika direnungkan secara mendalam profesi guru itu memang berat. Mengapa demikian? Sebelum tampil mengajar di depan kelas, seorang guru harus menyiapkan materi yang akan diajarkan. Persiapan ini penting, agar apa yang diberikan terarah, berbobot, tidak acak-acakan supaya mudah ditangkap dan dipahami para muridnya. Untuk melihat apakah berhasil atau tidak materi yang diajarkannya, seorang guru memberi tes. Hasil tes dibawa pulang untuk dikoreksi. Pekerjaan guru tidak seperti pekerjaan pegawai bank, misalnya. Seorang guru masih dibebani mengoreksi pekerjaan murid. Pekerjaan guru memang berat, belum lagi beban moral yang disandangnya.

Memang benar, seorang guru itu adalah panutan. Paling tidak panutan untuk muridnya. Syukur jika dapat berperan sebagai panutan masyarakat. Oleh sebab itu segala tindak tanduk, tingkah laku, dan perbuatannya serba hati-hati. Jika tidak demikian akan berlaku peribahasa klasik ini “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” (kelakuan seorang murid mencontoh gurunya). Lebih parah lagi, Remi Sillado, salah seorang sastrawan Indonesia, mengubah peribahasa tersebut menjadi “Guru kencing berdiri, murid mengencingi guru”.

Guru yang pantas menjadi panutan adalah guru yang siap, setia pada profesinya, tidak pemarah, tidak cepat tersinggung, mengarahkan, membimbing, mengayomi, penuh belas kasih, datang tidak terlambat, pulang tepat waktu, dan berusaha menyampaikan materi pelajaran dengan serius namun ramah dan mudah ditangkap oleh murid-muridnya.

Murid adalah anak (orang) yang sedang berguru (belajar di sekolah). Tujuan utamanya ialah menimba ilmu yang diberikan oleh guru. Murid yang baik adalah murid yang selalu berusaha berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk bisa berubah
seorang murid harus patuh kepada peraturan yang berlaku, rajin belajar, tidak malu bertanya apabila ada sesuatu yang kurang atau belum dipahami. Murid yang rajin selalu datang tidak terlambat.

Sebagai guru, kita wajib meneladani Guru kita, Tuhan Yesus. Sebagai murid, kita bisa bercermin kepada para Rasul, murid-murid pertama dan utama Tuhan Yesus. Betapa anggun dan berwibawanya Sang guru di mata para murid dan para pengikutnya. Betapa setianya para murid mendengarkan dan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Sang Guru dengan penuh kasih memberikan ilmu-Nya kepada para murid, dengan perumpamaan, keteladanan, dan perbuatan nyata. Dia tidak pernah menghina atau memarahi murid, walaupun sang murid salah. Bahkan Dia sangat mencintai orang-orang bersalah dan berdosa. Sebab motto Dia “seorang dokter tidak mengobati orang waras, melainkan orang sakit”.

Kenyataannya kadang-kadang berbeda. Masih banyak guru yang sok tahu, sok pintar, sok kuasa, sok berwibawa, sok bijaksana. Padahal perbuatannya jauh dari sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Sebagai misal, seorang muridnya datang terlambat seperempat jam setelah pelajaran dimulai. Sang guru tanpa bertanya mengapa dia terlambat, langsung memarahinya habis-habisan. Sang murid tidak diberi kesempatan menjelaskan mengapa dia terlambat. Guru mempermalukan murid di depan kelas. Dan anehnya murid yang lain hanyut dengan khotbah guru, dan bahkan malah menetertawakan. Murid yang menjadi kurban menangis dalam hati. Dan hari berikutnya dan seterusnya …. murid tersebut tak tampak lagi.

Murid yang malang. Dia masuk sekolah untuk menimba ilmu, yang didapat perlakuan yang jauh dari harapan. Dia sudah berusaha mengikuti pelajaran, namun karena sesuatu hal yang terjadi secara tidak diduga di rumah maupun di perjalanan, menyebabkan dia terlambat. Mau datang dan mengikuti pelajaran, sudah bagus. Dia mempunyai itikad baik. Jangan dilukai hatinya.

Hal di atas bisa terjadi di sekolah mana pun, tak terkecuali di SEP. Tetapi, selama penulis menjadi murid SEP hal semacam itu tidak pernah terjadi. Para guru adalah orang-orang yang terpilih. Orang-orang bijak yang penuh kesabaran, penuh pengurbanan, dan penuh pengabdian. Orang-orang terpanggil yang siap mengubah perilaku orang-orang yang haus kebenaran. Viva guru-guru kami. Amin.

EY – Surabaya (2008)