Sekarang Saya Percaya dan Tidak Mau Coba-coba Lagi

Punya rumah di dalam kampung memerlukan tenggang rasa dan tindakan mengalah yang besar. Apalagi kalau tetangga kiri kanan termasuk anak-anak mereka membuat keributan terutama pada malam hari.

Suatu hari anak perempuan saya belajar untuk persiapan ujian besok paginya. Namun sampai malam dia tidak bisa belajar karena anak-anak kampung bermain gitar dan ribut smapai malam. Anak saya gelisah dan mengancam saya “Kalau papi nggak mau menyuruh mereka berhenti pukul 10 malam nanti, nonik sendiri yang akan turun dan menegur mereka”. Saya takut juga sebab anak saya ini kata-katanya bisa pedas dan ceplas ceplos. Bagaimana nanti perasaan mereka, bagaimana kalau mereka marah. Saya hanya katakan pada anak saya inilah resiko hidup di kampung. Saya bingung, mau berdoa kok ragu-ragu, apakah Tuhan bisa memberhentikan orang-orang yang main gitar itu. Begini aja kok harus pakai doa. Begini aja kok harus minta tolong sama Tuhan. Keragu-raguan itu terus menghantui saya, tapi kemudian saya berdoa juga dan mengakui ketidakpercayaan saya dihadapanNya. Saya coba ah… siapa tahu bisa dan kemudian saya berdoa.

Tapi anak perempuan saya sudah keburu turun dan menegor mereka. Akhirnya mereka bubar. Dan keesokan harinya, saya melihat wajah-wajah yang tidak senang memandang kami. Benar ini yang saya takutkan sungguh terjadi. Dan sorenya mereka mulai nyanyi-nyanyi lagi di seberang rumah padahal anak saya masih harus belajar. Anak saya mengomel lagi dan mengancam saya lagi. Dan kali ini saya tidak mau coba-coba lagi. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh. “Tuhan, anak saya mau belajar untuk ujian besok dan dia tidak bisa konsentrasi. Tuhan tolong agar anak-anak itu berhenti dan pulang karena memang sudah larut malam, bukan waktunya lagi untuk ramai-ramai seperti ini, kalau saya harus menegor mereka, saya takut mereka akan salah paham terhadap keluarga kami. Tolong Tuhan Engkau tahu kesulitan yang kami hadapi.”

Tepat pukul 10 malam, anak-anak itu berhenti bernyanyi. Saya betul-betul heran. Tuhan sungguh ajaib. Kuasanya sungguh bekerja.

Kemudian selang beberapa minggu ada peristiwa sunatan di rumah tetangga sebelah. Seperti biasanya mereka memutar tape dengan pengeras suara yang keras sekali sampai larut malam. Dan seperti biasanya anak saya juga memberi peringatan lagi pada saya. Maka saya tidak ragu lagi untuk minta bantuan pada Tuhan. Dan sekali lagi Dia menjawab doa saya. Terima kasih Tuhan. Sekarang saya sungguh percaya akan kuasa doa dan tidak mau coba-coba lagi.

(Disaksikan oleh Bpk. Bb, alumni SEP XIX, Mei 2008 – ditulis oleh Redaksi)