Posisi Iman

Renungan Jumat 12 Januari 2018

Bacaan: 1Sam. 8:4-7,10-22a; Mzm. 89:16-17,18-19; Mrk. 2:1-12

POSISI IMAN

Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. (Mrk 2:4)

Iman adalah kemampuan Ilahi yang sanggup melihat apa yang tidak sanggup dilihat mata jasmani. Orang yang beriman percaya dan memiliki keyakinan yang kuat akan Tuhan dan janji-janji-Nya meskipun belum menjadi kenyataan. Orang yang beriman tidak ragu dan bimbang akan segala janji Tuhan, sebaliknya memegang teguh janji itu tanpa mempertanyakannya, terus bersabar dan bertekun menantikan janji Tuhan tersebut, dan menjalani hidup dengan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan hari lepas hari.

Injil hari ini mengajak kita belajar dari iman empat orang penggotong si lumpuh. Keinginan mereka agar si lumpuh sembuh dan iman bahwa Yesus sanggup menyembuhkan, membuat mereka berupaya keras agar si lumpuh bisa tiba di depan Yesus. Namun orang banyak yang berkerumun di depan pintu menjadi penghalang besar. Meski menghadapi tantangan dan ujian yang berat seperti itu, mereka tidak menyerah, mereka terus mengupayakan agar si lumpuh dapat berjumpa dengan Tuhan Yesus. Mereka membawa orang lumpuh tersebut menaiki atap, membongkar atap rumah, serta menurunkan tilam di mana orang lumpuh itu berbaring tepat di hadapan Tuhan Yesus (Mrk 2 :1-12).

Orang lumpuh adalah gambaran dari keadaan setiap manusia di sekitar kita yang terbelenggu dosa, di mana mereka sesungguhnya sangat membutuhkan jamahan Tuhan Yesus. Orang-orang seperti ini menjalani hidupnya dengan letih lesu, keluh kesah, persungutan, omelan dan sebagainya karena fokusnya hanya tertuju pada besarnya masalah dan situasi yang ada dan hidup menurut kehendaknya sendiri, sehingga dengan akal dan kekuatan sendiri berusaha untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapinya. Seperti bangsa Israel yang bersikeras hendak meminta seorang raja untuk memimpin mereka (1 Sam 8: 4-22).

Penggotong orang lumpuh adalah gambaran orang yang selalu berusaha terus mencari untuk menemukan Tuhan setiap hari. Orang-orang seperti ini menjalani hidupnya hanya bergantung dan berharap kepada Tuhan; sumber kemuliaan dan kekuatan (Mzm 89:17) dan selalu mempunyai kerinduan yang besar membawa orang yang lumpuh imannya kepada Tuhan; selalu menunjukkan keberadaan Tuhan yang sejati, yaitu hidup penuh damai, sukacita dan selalu berlaku adil terhadap manusia (Mzm 89:16); artinya tidak pilih kasih. Jika ada seseorang yang pilih kasih (hanya mengasihi orang yang mengasih atau masih memandang muka) dalam berbuat baik kepada orang lain berarti ia tidak menunjukkan keberadaan Tuhan yang adalah kasih; dia tidak beriman kepada Allah atau memberontak atau menolak Allah. Apakah kita masih pilih kasih?

Meskipun berada di tengah tantangan yang berat sekali pun, orang yang memiliki iman takkan pernah menyerah kepada tantangan atau keadaan yang ada, apalagi sampai putus pengharapan, sebab ia berkeyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Tetapi bagi mereka yang tak mempunyai iman yang kuat, keadaan atau situasi berat yang ada semakin mempengaruhi hati dan pikiran mereka, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tergoncang dan menjadi tawar hati. Ada tertulis: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).

Sahabat, di manakah saat ini posisi iman kita? Iman saat ini belum tentu sama dengan iman kemarin atau iman yang akan datang, inilah tantangan kita setiap hari. Semoga kita menyadari hal ini dan selalu berusaha bertemu Tuhan setiap hari supaya kita tidak mudah jatuh ke dalam pencobaan. Pastikanlah hidup kita benar dan kudus supaya kita selalu mendapat pewahyuan dan hikmat dari-Nya sehingga hidup kita dapat selaras dengan kehendak Tuhan, Bapa kita. Amin. (FHM)

Gambar terkait