Pembawa Perjumpaan

Hasil gambar untuk john 1:35-42

Renungan Kamis 4 Januari 2018

Bacaan: 1Yoh. 3:7-10; Mzm. 98:1,7-8,9; Yoh. 1:35-42.

MUDAHNYA MENJADI PEMBAWA PERJUMPAAN SESAMA DENGAN TUHAN YESUS

Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:41-42)

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP. Damai sejahtera Kristus beserta kita semua.

Bacaan liturgi gereja hari ini mengingatkan kita semua, sudahkah kita menjadi pembawa perjumpaan antara sesama dengan Tuhan Yesus.

Begitu pentingnya tugas perutusan ini, sehingga Gereja melalui Imamnya, setiap hari selesai Misa selalu mengingatkan kita semua, “Pergilah, engkau diutus.” Selalu kita jawab dengan, “Amin.” Sudahkah kita menjadi pembawa perjumpaan antara sesama dengan Tuhan Yesus dalam hidup sehari-hari kita? Kita bisa melakukannya dengan lima langkah ini:
1. Alami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus
2. Percayai Tuhan sepenuhnya
3. Mau bersaksi lewat perkataan dan perbuatan
4. Bawa kepada Tuhan Yesus
5. Terjadi perjumpaan sesama dengan Tuhan Yesus

Seseorang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tidak lagi dengan sengaja melakukan dosa (1Yoh 3:7-10), hidup di dalam kebenaran sebagai anak Allah, tidak lagi mau menjadi anak Iblis, karena mempercayai Tuhannya. Mereka mau bersaksi lewat perkataan dan perbuatan (bdk. Mzm 98:1.7-8.9 ; Yoh 1:35-42) yang membawa orang lain mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Yohanes Pembaptis yang mengalami perjumpaan dengan Yesus saat Yesus dibaptis, mempercayai siapa Dia dan bersaksi tentang Yesus (Yoh. 1:29-34). Keesokan harinya, saat Yesus lewat, Yohanes Pembaptis bersaksi kepada dua muridnya tentang siapa Yesus, sehingga kedua muridnya langsung mengikuti Yesus. Saat kedua orang ini bertanya, Yesus tidak menyebutkan alamat di mana Dia tinggal, tetapi Dia ingin mereka mengalami hidup bersama Dia. Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh. 1:39). Kedua murid ini mengalami suatu perjumpaan yang sangat mengesankan, sehingga mereka ingat waktunya, kira-kira pukul empat sore. Yesus tahu caranya menyentuh hati setiap orang.

Salah satu dari kedua murid itu adalah Andreas, yang keesokan harinya berjumpa dengan Simon saudaranya dan dia bersaksi tentang Yesus dan membawa Simon untuk berjumpa dengan Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” Suatu perjumpaan yang sangat mengesankan bagi Simon. Dia seorang yang emosional dan mudah terombang-ambing, kurang memiliki prinsip yang teguh. Saat pertama kali berjumpa, Yesus memberi nama baru, Kefas/Petrus yang artinya batu karang. Bagi Simon yang tentunya mengenal karakternya sendiri, nama Kefas/Petrus menjadi satu harapan baru. Yesus tahu cara menyentuh hati Simon dan lembaran hidup baru mulai dijalani oleh Simon.

Bagaimana dengan setiap pembaca renungan ini, sudahkah mengalami perjumpaan pribadi yang sangat mengesankan dengan Tuhan Yesus? “Mari, lihatlah dan alamilah, hidup Anda akan berubah total.” Dia Tuhan yang sungguh menginspirasi dan mampu mengubah hidup kita, membebaskan kita dari segala keterikatan dosa dan kelemahan, serta memberikan hidup kelimpahan-Nya tidak hanya di dunia ini saja, tetapi sampai di kekekalan. Kita yang mengalaminya, dengan penuh sukacita akan membagikan hal ini kepada orang-orang yang kita jumpai, sehingga mereka pun mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus dan hidupnya diubahkan dan mereka dengan penuh sukacita akan membagikannya juga kepada orang-orang lain.

Kesaksian:
Keluarga besar kami bukan keluarga Kristiani. Saya yang pertama menjadi pengikut Kristus dengan masuk menjadi orang Katolik. Belasan tahun yang lalu, saat saya ke rumah orang tua, mama marah-marah dan mengatakan, “Jangan bawa semua saudaramu ke gereja, kalau nanti papa mama tidak ada, siapa yang menyembahyangi.” Ada suatu ketakutan akan apa yang terjadi setelah kematian, siapa yang mengirimkan makanan kepada roh yang sudah meninggal. Semula saya bingung, mama kemudian menjelaskan, seorang adik saya baru saja minta tandatangan ke papa mama bahwa dia akan dibaptis di Kathedral.

Saya jadi teringat satu tahun sebelumnya, saya pernah berbicara dengan adik saya ini, “Hidupmu sudah mapan, setelah lulus kuliah sudah punya pekerjaan, apakah tidak mulai memikirkan juga untuk ikut Tuhan Yesus?” Ternyata tanpa memberitahu saya, dia langsung ke Kathedral mencari informasi dan akhirnya ikut katekumen. Mirip dengan kejadian dua murid Yohanes Pembaptis yang langsung mengikuti Yesus. Puji Tuhan. Dalam perjalanan waktu, saudara-saudara ada yang jadi Katolik, ada yang di Gloria, di Bethany, ikut Konghucu dan juga ada yang ikut Budha.

Dulu sebelum ikut Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), saya seorang pembawa Kabar Baik yang sangat buruk. Saya menyampaikan kebenaran dengan cara berkonfrontasi, sehingga justru tidak membawa orang kepada Kristus. Kalau mama sembahyang untuk leluhur dengan memberikan makanan untuk yang sudah meninggal di meja sembahyang, saya katakan mereka kan sudah meninggal, tidak lagi bisa makan, nanti yang datang justru setan-setan. Mama menjadi marah dan semakin tidak suka dengan kekristenan.

Setelah ikut KEP, baru saya menyadari kalau selama ini salah, tidak membawakan kasih, justru permusuhan. Di SEP dan KEP diajarkan langkah-langkah sederhana untuk menjadi saksi Kristus. Setelah mengalami Tuhan, saya belajar untuk mempercayai Tuhan sepenuhnya. Dalam doa harian, saya katakan, “Terima kasih Tuhan firman-Mu di Kisah Para Rasul 16:31 akan Engkau genapi, karena aku percaya kepada-Mu, Engkau selamatkan aku, bahkan seluruh keluargaku, termasuk mama.” Dalam pembicaraan dengan mama, saya mulai masuk dari persamaan, dengan menjadikan teman, bukan musuh. Menjadi saksi Kristus lewat perkataan dan perbuatan. Antara lain saya katakan di Gereja Katolik juga ada Cing Bing, doa untuk orang meninggal, hanya tanggalnya beda, yaitu 2 November. Dari situ mama mulai tertarik, dan perlahan-lahan saya jelaskan perbedaannya doa arwah yang di Cing Bing dengan yang di Gereja Katolik. Orang tua yang semula menjaga jarak dengan gereja, sedikit demi sedikit mulai berubah. Jika diajak ke perayaan Natal, mulai mau ikut. Jika ada masalah, mama selalu datang dan mengatakan, “Doakan pada Tuhan Yesusmu ya, supaya ditolong.”
Setiap sabtu atau minggu, mulai ikut ke gereja untuk Misa.

Mendekati akhir November 2014, atas permintaannya sendiri mama dibaptis. Pelajaran singkat diberikan sebelum dan sesudah pembaptisan. Mama dibaptis Desember tahun 2014 dalam usia 88 tahun. Terima kasih Tuhan.

Doa: “Allah Roh Kudus, pimpinlah hidupku sehingga berkenan kepada Bapa di Surga. Jadikan aku sebagai pembawa perjumpaan antara sesama dengan Kristus dalam hidup sehari-hariku, sehingga Kerajaan Allah dan kehendak Allah terjadi di bumi seperti di dalam Surga. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.”

(HLTW)