Menjadi Orang Tua

Hasil gambar untuk 1 samuel 1:20

Renungan Selasa 9 Januari 2018

Bacaan: 1Sam. 1:9-20; MT. 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Mrk. 1:21b-28

MENDAPAT KESEMPATAN MENJADI ORANG TUA

dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (1 Sam 1:10-11)

Kesedihan yang dialami Hana, pada bacaan pertama hari ini, pernah saya dan istri saya alami. Setelah usia perkawinan lima tahun, kerinduan yang mendalam untuk mempunyai seorang anak benar-benar menyiksa hati kami. Di samping karena banyak pertanyaan; mengapa kami berdua belum mempunyai momongan, kerinduan itu kerap muncul setelah kami melihat banyak kerabat dan teman yang begitu berbahagia bisa bercanda dengan anak-anak mereka.

Di tengah kerinduan yang menyiksa hati kami, banyak kerabat dan teman, yang memberikan saran kepada kami berdua. Ada saran untuk mencoba mendapatkan anak dengan cara-cara duniawi. Ada banyak pula saran untuk semakin mendekat dan melekat kepada Tuhan Yesus Kristus. Kadang kami bingung mendengarkan saran mereka. Iman kami yang lemah, kerap kali membuat kami mengikuti cara-cara duniawi.

Namun kami bersyukur, kami mempunyai orang tua yang senantiasa mendorong dan memberi semangat kepada kami untuk terus berdoa kepada Tuhan Yesus, sambil kami mencoba berbagai usaha ke dokter kandungan. Bahkan ketika doa kami berdua terasa sangat kering, ibu mertua saya terus mendampingi kami untuk bertekun dalam doa permohonan, dengan berdoa Rosario.

Puji Tuhan, permohonan yang kami sampaikan kepada Bunda Maria untuk diteruskan kepada Tuhan Yesus Kristus, Putranya, akhirnya dikabulkan. Pada tahun ke delapan usia perkawinan kami, Tuhan Yesus memberi kami seorang putri. Atas kasih karunia-Nya, kami berdua memperoleh sukacita yang luar biasa. Kami berdua mendapat kesempatan menjadi orang tua. Kami berdua telah dipercaya untuk mengasuh dan mendidik anak kami agar dapat menjadi anak yang takut akan Tuhan dan segala yang diperbuatnya dapat menyenangkan hati Tuhan. Kami dapat menikmati kebahagiaan dipanggil sebagai ‘Papi mami’. Panggilan yang telah lama kami rindukan. Dan sekarang pun kami telah memperoleh cucu, sehingga kami berdua dapat menikmati dipanggil ‘opa oma’.

Bapa yang ada di dalam Surga. Kami mengucapkan syukur dan terima kasih kepada-Mu, karena Engkau telah memberi kami kesempatan untuk menjadi orang tua bagi anak kami. Engkau telah mempercayakan kepada kami untuk mengasuh dan mendidiknya agar dapat menjadi anak yang takut akan Engkau saja dan segala yang diperbuatnya berkenan kepada-Mu. Meskipun ada banyak perbuatan anak kami yang tidak sesuai harapan kami, namun kami percaya Engkau akan selalu mengasihi dan membimbingnya, akan anak kami dapat mengerti, memahami dan mengalami kasih-Mu. Ingatkan kami selalu, Bapa, akan sukacita, kebahagiaan yang telah Engkau berikan kepada kami berdua melalui keberadaan anak kami, agar kami dapat terus mengasihi dan mempunyai harapan bahwa anak kami dapat menjadi manusia yang berguna untuk memuliakan nama-Mu. Kami berdua menyerahkan seluruh hidup anak kami dan juga cucu kami ke dalam naungan kasih dan karunia-Mu, Bapa, karena kami percaya Engkau pasti tidak akan pernah meninggalkan anak dan cucu kami sendirian.

Tuhan memberkati.

Set