Kepada-Mu Aku Berkenan

Gambar terkait

Renungan Senin 8 Januari 2018, Pesta Pembaptisan Tuhan

Bacaan: Yes. 55:1-11; Yes. 12:2-3,4bcd,5-6;; 1Yoh. 5:1-9; Mrk. 1:7-11

KEPADA-MU AKU BERKENAN

Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:11)

Ada sebuah cerita tentang seorang Romo yang sedang berbincang-bincang dengan rekan seangkatannya:

Romo Yohanes: Selama sepuluh tahun menjadi Romo, kamu telah membaptis berapa orang?

Romo Budi: Belum ada sepuluh orang.

Romo Yohanes: Loh kok sedikit, kalau saya sudah lebih dari seribu orang yang saya baptis. (maklum Romo Yohanes adalah romo paroki jadi banyak yang dibaptis mulai dari bayi, anak-anak sampai lansia)

Romo Budi: Tapi yang saya baptis, saya yakin masuk surga semua, sedangkan yang Anda baptis
belum tentu masuk surga atau lebih banyak dosanya, itu menurut tanggapan saya.

Romo Yohanes: Loh kamu kok yakin?

Romo Budi: Saya yakin masuk surga karena begitu saya baptis tidak lama kemudian meninggal
dunia, yang saya baptis yang sudah sekarat-sekarat itu hampir meninggal dunia.

Dibaptis berarti dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan sehingga orang yang telah dibaptis senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan menghayati iman atau kehendak Tuhan. Untuk mengawali tugas perutusan-Nya Yesus menggabungkan diri dengan orang banyak antara lain minta dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ini menunjukkan bahwa meskipun Yesus lebih besar dari Yohanes, namun Yesus bersedia untuk dibaptis. Ini merupakan tanda kerendahan hatinya. Dengan hal itu maka dimulailah karya Sang Putera. Dan Ia mendapat dukungan dari Bapa. Dan ketika selesai pembaptisan terdengarlah suara dari surga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-MUlah Aku berkenan.

Dibaptis berarti dibersihkan, disucikan sehingga yang bersangkutan bersih dan suci serta berkenan bagi Tuhan maupun sesamanya. Bukankah ketika dibaptis kita juga merasakan atau menghayati pengalaman tersebut?

Ketika saya dibaptis saya tidak mengalami apa-apa dan tidak bisa membayangkan langit terbuka dan Roh Kudus turun atas saya dan seolah-olah mendengar suara Tuhan bahwa dia mengasihi saya. Saat dibaptis saya hanya merasa bahwa sejak itu saya menjadi orang Katolik.

Namun setelah saya mengenal firman Tuhan bahwa Dia mengasihi saya, juga pada waktu membaca perikop ini, saya baru bisa membayangkan bahwa saat saya dibaptis pun terjadi sesuatu yang luar biasa seperti yang dialami Yesus pada saat dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Saat itu saya membayangkan bahwa ketika saya dibaptis terdengarlah suara dari surga: “Engkaulah Maria Yovita Anak-Ku, kepadamulah Aku Berkenan dan sejak saat itu saya mengerti arti pembaptisan yang sesungguhnya.

Sebagai orang yang dibaptis saya mengimani Yesus sebagai Juru Selamat dan sebagai Penyelemat Dunia. Maka dalam rangka merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan hari ini, Saya mengajak Anda sekalian sebagai orang yang telah dibaptis untuk terus mawas diri yaitu dengan melihat kembali ke dalam apakah saya menjadi pribadi yang berkenan bagi Tuhan ,maupun sesama dan saudara-saudara kita dalam kesibukan, dalam pelayanan, pekerjaan, tugas atau hidup bersama sehari-hari?

Sungguh Allah itu keselamatanku ; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. “Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggilah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, mahsyurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN sebab perbuatan-NYA mulia; baiklah hal ini diketahui oleh seluruh bumi! Berserulah dan bersorak –sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Maha Kudus, Allah Israel, Agung ada di tengah-tengahmu (Yes 12:2-6).

Tuhan memberkati kita semua.

(JH)