Iman Senantiasa Dibangun Dalam Pertobatan

Gambar terkait

Renungan Sabtu 6 Januari 2018

Bacaan: 1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mrk. 1:7-11 atau Luk. 3:23-38

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:9-11)

Nubuat Yesaya di Yes 40:3 berbicara tentang padang gurun Arab yang luas di antara Mesopotamia dan Israel, di situ harus dipersiapkan jalan bagi Tuhan Allah agar Ia segera dapat membawa pulang kaum buangan Babel ke Yerusalem. Selanjutnya nubuat itu oleh Markus diterapkan pada Yohanes Pembaptis yang akan mendahului dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

Yohanes yang tinggal di padang belantara Yehuda di sebelah utara laut mati, mempersiapkan hati, jalan bagi Tuhan Yesus. Ia memberi arti baru (Mrk 1:4) dengan memberitakan pembaptisan pertobatan di tengah wilayah kematian dan setan-setan, Yohanes membawa pembebasan dari kuasa dosa dan hidup baru. Orang hendaknya membiarkan diri ditenggelamkan ke dalam air, untuk menyatakan penyesalannya atas cara hidupnya yang jauh dari Allah. Mereka diajak untuk mengubah haluan hidup dan kembali kepada Allah.
Pemberitaan Yohanes itu tampak berhasil, banyak sekali orang Yahudi datang ke Sungai Yordan untuk mengakukan dosanya dan dibaptis oleh Yohanes, dan pembasuhan dalam air menyatakan bahwa mereka telah dibersihkan dari dosa-dosa dan diampuni.

Lebih dalam Yohanes yang hidupnya seperti Nabi Elia, yang bermati raga (Mrk 1:6) memberitakan, “Sesudah aku datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku, membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku telah membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8).

Yohanes menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyambut Tuhan Yesus yang datang dengan kuasa. Ia mengajak kita selalu bertobat, mengakui dan menyesali kesalahan dan dosa-dosa kita. Kita yang sudah dibaptis, tidak hanya dibaptis dengan air yang membasuh kita dari dosa, tetapi dengan Roh Kudus yang memperbarui dan memberdayakan kita. Kita telah diperlengkapi dengan kekuatan Roh, sehingga bersama Yohanes, kita dapat mendorong pertobatan di tengah dunia dan mengantar orang kembali kepada Tuhan

Yohanes Pembaptis telah menolong kita dengan pelayanan dan sikapnya, ia mempersiapkan jalan bagi Tuhan, ia mempersiapkan kita bagi Dia yang akan datang, ia bahkan membaptis Yesus sendiri. Namun demikian, ia hidup sangat sederhana, ia hidup dengan rendah hati, ia mengakui kelebihan Yesus dan dia merasakan kedinaannya sendiri.

“Zaman Now”, kita hidup di tengah-tengah perubahan arus zaman yang dahsyat, kemajuan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat, yang mengubah peradaban manusia, zaman yang penuh dengan tantangan dan godaan, masihkah kita tetap meneladani Yohanes Pembaptis, bertobat selalu agar iman kita bertumbuh, ataukah kita lebih nyaman dan bahagia dengan AKU, DIRIKU SENDIRI.

Ubi Caritas at amor, Deus ibi est
(di mana ada cinta dan kasih, di situ ada Allah)

FX Santoso Tanudjaja