Belas Kasih Yang Menyembuhkan

Renungan Kamis 11 Januari 2018

Bacaan: 1Sam. 4:1-11; Mzm. 44:10-11,14-15,24-25; Mrk. 1:40-45

BELAS KASIH YANG MENYEMBUHKAN

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” (Mrk 1:41)

Kusta adalah penyakit yang sangat berbahaya pada saat itu, sehingga setiap penderita kusta tinggal terasing dan dikucilkan oleh masyarakat. Orang yang berpenyakit kusta dianggap najis dan sangat memalukan, tidak boleh ada di tengah masyarakat. Orang kusta dalam kisah ini punya masalah dengan keberadaannya, sampai akhirnya dia berjumpa dengan Yesus yang memulihkan hidupnya.

Melalui perikop ini ada 3 hal yang dilakukan orang kusta ini untuk menyelesaikan masalahnya :

1. Datang dan memohon pertolongan pada Yesus.

Penderita kusta yang datang kepada Yesus itu memang lain dari biasa. Jika yang lain sudah putus asa, menyerah pada keadaan, yang satu ini tidak mau pasrah pada nasib. Ia tidak mau dimatikan oleh situasi masyarakatnya. Ia ingin hidup, tidak hanya lahir, tetapi juga batin. Ia tahu Yesus mampu menolongnya. Berbekal pengetahuan itu, ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Karena itulah, Yesus, yang melihat hasrat terdalam manusia, berkata, ”Aku mau, jadilah engkau tahir.”

2. Sabda Yesus yang penuh kuasa itu telah terjadi dan menyembuhkan si kusta.

Yang menarik dari ayat-ayat ini antara lain jika kita memohon kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengabulkannya. “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku”. Tergerak hati Yesus oleh belas kasihan, Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamahnya: ”Aku mau, jadilah engkau tahir.” Jadi dari ungkapan ini, terjadi komunikasi dua arah, si kusta memohon kepada Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permohonan, hasilnya adalah si kusta menjadi tahir/bersih.

3. Belas kasihan Tuhan harus direspon dengan ketaatan (ayat 44).

Sebab ketidaktaatan akan menghambat kesaksian atau pemberitaan kabar baik, bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (ayat 45). Apalah arti pelayanan kita jika hanya menyentuh kepuasan/kepentingan diri sendiri, tidak pernah menyentuh mereka yang terhilang dan terbuang? Bukankah banyak kali kita gagal dalam hal ini, karena kita tidak memiliki hati yang berbelas kasihan kepada yang terbuang, sehingga kita tidak berani “menyentuh” tetapi justru menghindar dan bahkan mengusir mereka jauh dari kehidupan kita. Ingatlah bahwa sebenarnya kitalah “si kusta”, yang telah terbuang karena dosa. Tetapi Tuhanlah datang mencari kita. Dia menyentuh dan memulihkan hidup kita yang terbuang dan terhilang untuk ditahirkan-Nya, sehingga kita dilayakkan menjadi anak-anak-Nya, diterima menjadi anggota keluarga-Nya. Sebab itu marilah kita membuka hati kita sehingga belas kasihan Tuhan juga memenuhi hati kita, supaya kita dapat juga bertekun dan berjuang dalam perbuatan kasih. Amin.

SWW

Hasil gambar untuk i will be thou clean