Sudahkah Aku Berbelas Kasih?

Hasil gambar untuk compassion

Renungan Rabu 6 Desember 2017

Bacaan: Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 15:29-37

SUDAHKAH AKU BERBELAS KASIH?

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” (Mat 15:32)

Bacaan hari ini mengisahkan beberapa karya ajaib Yesus. Sebelum menggandakan roti untuk ribuan orang yang mendengarkan pewartaan-Nya, Yesus menyembuhkan cukup banyak orang. Membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu, orang-orang tidak berdaya kepada Yesus, bukanlah suatu hal yang mudah karena Yesus sering kali naik ke gunung dan orang banyak mengikuti Dia. Orang-orang ini tentunya memiliki iman dan harapan yang kuat. Kalau tidak, tentu mereka tidak mau melakukannya. Namun ketika Yesus tergerak hatinya oleh belas kasihan memenuhi harapan mereka dengan menyembuhkan yang sakit, sikap mereka terhenti pada heran dan takjub seperti kebiasaan orang Israel kemudian memuliakan Allah tanpa berlanjut pada keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Perikop ini selanjutnya menceritakan ketika Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan kepada para murid dan para murid membagikannya kepada orang lain, ternyata dapat mencukupi kebutuhan sekian banyak orang bahkan masih tersisa. Di sini Yesus memberikan contoh kepada kita, bahwa bersyukur dan berbelas kasih dengan berbagi seperti yang dilakukan para murid, itu membuat orang tidak serakah, tidak mau memiliki untuk diri sendiri, hanya memikirkan masa depan sendiri dan melupakan saudara-saudara lain yang juga membutuhkan keselamatan.

Saat ini kita memasuki minggu pertama Adven. Masa Adven mengingatkan kita untuk melihat diri kita dan perjalanan hidup kita. Dengan kata lain kita diundang untuk melihat ketimpangan, kelumpuhan, kebutaan dan kebisuan kita di kala melihat orang lain membutuhkan bantuan dan dukungan kita. Bukankah kadang kita khususnya saya pribadi, sering enggan melihat penderitaan orang lain. Alasan dibalik itu sebenarnya karena tidak ada sikap rendah hati, mementingkan diri sendiri, malas tidak mau direpotkan yang sumber semuanya itu adalah sifat egois.

Sebagai kepanjangan tangan Tuhan, bagaimana tanggapan kita dalam mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan di masa Adven ini? Apakah kita membiarkan dan berlalu tanpa ada tindakan apa pun ketika rasa belas kasihan muncul saat melihat penderitaan dan kekurangan orang-orang di sekitar kita yang kehidupannya bergantung kepada kita? Sebagai umat beriman, mampukah kita menjadi pribadi yang tahu bersyukur dan berbelas kasih demi keselamatan semua orang tanpa pilih-pilih?

Doa: Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, saya bersyukur akan kebaikan yang telah Kau berikan kepada saya dan memohon agar Tuhan mengampuni jika saya sering mengabaikan rasa berbelas kasih yang muncul tanpa mengambil tindakan seiring bisikan Roh Kudus. Dalam menyambut kedatangan Yesus Tuhan dan Juru Selamat kami, ubahlah hati ini untuk lebih peka mendengarkan bisikan-Mu. Amin. (LKME)