Melayani Dengan Rendah Hati

Hasil gambar untuk serve with heart

Renungan Minggu 10 Desember 2017, Hari Minggu Adven II

Bacaan: Yes. 40:1-5,9-11; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; 2Ptr. 3:8-14; Mrk. 1:1-8

MELAYANI DENGAN RENDAH HATI

Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Mrk 1:7)

Kerendahan hati yang sejati bukanlah merendahkan diri sendiri, melainkan tidak memusatkan perhatian pada diri. Hal ini pula yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis. Dalam bacaan hari ini, di Markus 1:4 disebutkan bagaimana ia tampil dan menyerukan pertobatan. Meski penampilan dan hidupnya sederhana (memakai jubah bulu onta, ikat pinggang kulit, makan belalang dan  madu hutan), namun orang ini termasuk hamba Tuhan yang hebat. Melalui pemberitaannya, orang-orang seluruh Yudea dan Yerusalem bertobat dan dibaptis.

Kalau Yohanes mau, ia bisa saja membanggakan diri atas keberhasilan dan ketenarannya. Namun ia tidak mengambil kemuliaan itu untuk dirinya (mencuri kemuliaan Tuhan). Ia justru mengembalikan popularitas dan kemegahan itu kepada yang seharusnya menerima. Di tengah popularitasnya, ia  memberitahu kepada orang banyak bahwa ada Pribadi lain yang jauh lebih berkuasa dan lebih mulia, sampai membuka tali kasut-Nya pun  ia tidak layak (Markus 1:7-8).

Ternyata Yohanes Pembaptis bukan hanya  sederhana di dalam penampilan, tetapi juga rendah hati dalam pelayanan. Hal ini disebabkan karena ia menyadari sungguh bahwa dirinya bukanlah tokoh utama, melainkan hanya utusan yang  mendahului kedatangan sang tokoh utama, yaitu Yesus Kristus (Markus 1:2-3).

Ciri iman yang rendah hati:

  1. Sikap sebagai pelayan.
  2. Setia pada Kristus dan tidak menonjolkan diri pribadi.
  3. Melakukan dengan rendah hati dan tulus.
  4. Melayani harus menjadi ungkapan syukur.

Dalam pelayanan, terkadang kita lupa bahwa sesungguhnya diri kita hanyalah utusan. Kita seharusnya menunjukkan kepada orang lain tentang siapakah Yesus yang adalah Juru Selamat kita. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu kita menunjukkan keberhasilan pelayanan agar kita mendapat pujian dari orang lain. Ketika pelayanan kita berhasil dan dikenal banyak orang, masih bisakah kita mengembalikan segala kemuliaan hanya untuk Tuhan?

Tuhan memberkati kita semua. Amin. 

SWK