Hamba Yang Sempurna

Renungan Jumat 8 Desember 2017, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda

Bacaan: Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38

HAMBA YANG SEMPURNA

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:38)

Seperti Bunda Maria yang menyadari dirinya hanyalah seorang hamba, demikian pula kita mau menyadari dalam segala hal yang kita lakukan, kita hanyalah seorang hamba yang melaksanakan apa yang diperintahkan Tuan kita, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. Dipilih menjadi hamba berarti dipercaya untuk menerima berkat dan sekaligus dimampukan untuk memikul tanggungjawab.

Seorang hamba haruslah senantiasa 24 jam berjaga untuk menyenangkan hati tuannya. Kalau hati tuannya senang maka ia pun ikut senang. Tuannya tahu kalau ia melayani dengan tulus atau pamrih, dengan giat atau sekedarnya.

Menjadi seorang hamba berarti ada kepasrahan, ketaatan, kesederhanaan dan kerendahan hati yang total. Tidak menuntut upah apapun jika ia sudah selesai melakukan tugasnya bahkan jika tidak ada yang menghargai segala usahanya, atau ada yang memberikan kritik, ia tidak perlu kecewa, karena ia menyadari bahwa ia hanyalah seorang hamba yang siap menerima segala yang terjadi menurut kehendak tuannya.

Memang tidak mudah menjadi hamba, sebab kedagingan kita seringkali meminta perhatian, penghargaan dan pujian dari manusia. Apalagi di “zaman now” orang berlomba untuk bisa exist”. Kedagingan kita seringkali tidak mau memikul beban, maunya bermalas-malasan dan sering mencari dalih. Oleh sebab itu kita sangat membutuhkan kasih karunia Allah.

Mari setiap hari kita datang duduk bersimpuh di bawah kaki Tuhan Yesus, mohon kerendahan hati, mempersembahkan semua rasa lelah dan menimba kekuatan baru. Sehingga semoga pada akhirnya kita semua dihakimi sebagai hamba yang sempurna yang kudus, tak bercacat dan layak di hadapan-Nya. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

ppt