Serbuan Gua Mia (Ramalan) Menjelang Tahun Baru Imlek

SERBUAN GUA MIA (RAMALAN) MENJELANG TAHUN BARU IMLEK

Menjelang tahun baru Imlek, mulai bermunculan segala hal khas Imlek, misalnya hiasan-hiasan khas Imlek, barongsai, kertas angpao, kue keranjang, manisan dan permen Imlek, juga tak lengkap rasanya memasuki tahun baru Imlek tanpa suhu-suhu (tukang ramal) yang memprediksi/meramal tahun baru yang akan dimasuki, mulai dari buku-buku sampai acara talk show di TV.

Bicara soal ramal-meramal, saya jadi ingat jaman SMA dan kuliah, saya termasuk orang yang 1000% percaya dan belajar ramalan itu. Atau lebih jauh, sudah dari kelahiran, Engkong (kakek) saya sudah menulis nasib saya berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran, cap jie shio, berat tulang, dsb. Demikian juga di kalangan keluarga, ada empek-encek (paman besar-kecil) yang saya kagumi karena kepiawaiannya dalam ramalan, kemudian rupanya papa saya juga mengikuti jejak koko (kakak) dan adiknya, belajar gua mia. Sehari-hari, tiap malam saya dengar papa saya belajar dari pelbagai buku ramalan itu, mulai rajah tangan, cap jie shio, zodiac, weton Jawa, dsb.

Hidup di tengah lingkungan yang sangat kental percaya dan belajar ramal-meramal ini, tentunya membawa pengaruh besar bagi saya. Begitu percayanya saya percaya pada ramalan encek (paman kecil) saya, bahkan untuk memilih jurusan kuliah, tapi sayangnya mungkin itu tidak sesuai dengan minat dan kemampuan saya, karena dari SD sampai SMA kelas 1 berprestasi terus, mulai penjurusan SMA kelas 2 sampai kuliah kesulitan terus. ?

Demikian juga saat masa remaja, sudah diramal kamu akan dapat pasangan yang begini-begini… akibatnya dari SMA sampai kuliah, hehe… tidak pernah pacaran, karena begitu tertarik, sebelum pdkt dihitung terus, wetonnya, shionya dsb dsb… ?

Yang paling konyol… saat SMA saya dibaptis menjadi Katolik… tetapi saat memilih Orang Kudus pelindung sakramen Baptis dan Krisma, juga saya hitung berdasarkan ramalan nama… alhasil saya merasa tidak punya ‘chemistry’ dengan pelindung Baptis dan Krisma saya. Semoga Allah yang Maharahim mengampuni dosa-dosa saya ini. Kemudian saya juga belajar ramal-meramal, saya ingat sempat buka praktek juga di antara teman-teman kuliah dulu.

Ada satu titik balik, yang dikerjakan Tuhan dalam hidup saya… pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus, melalui camping rohani mahasiswa dan retret KTM di Pertapaan Karmel, Ngadireso-Tumpang, Malang… dalam pengajaran dan doa-doa di sana, mulai memahami kalau segala hubungan dengan ramalan, magi, okultisme, perdukunan, dsb adalah dosa dan tidak berkenan di hadapan Tuhan.

=======================
Dalam pengertian sekarang, saya coba mencari di Katekismus Gereja Katolik (KGK), yaitu pada bagian “Jangan ada padamu Allah lain di hadapanKu” (KGK no. 2110-2117), berkaitan dengan ramalan ada di KGK no. 2115-2116 :

KGK 2115
Allah dapat mewahyukan masa depan kepada para nabi dan orang-orang kudus yang lain. Tetapi sikap Kristen ialah menyerahkan masa depan dengan penuh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi dan menjauhkan diri dari tiap rasa ingin tahu yang tidak sehat. Siapa yang kurang waspada dalam hal ini bertindak tanpa tanggung jawab.

KGK 2116
Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

====================
Dalam kesempatan camping rohani, saya sempat bertanya dengan seorang frater di sana, berkaitan ramalan, dengan tegas frater itu mengatakan : “ramalan itu menyesatkan”. Saya seperti ditampar, apa yang saya begitu percaya dan sangat menguasai hidup saya, bahkan lebih luas lagi di keluarga besar saya, semua itu menyesatkan… seharusnya bagi kita orang yang sudah dibaptis, Allah saja yang mengatur hidup kita, tetapi ironinya malahan ramalan yang ditunggangi kuasa kegelapan itu yang mengatur hidup kita.

Suatu titik balik untuk bertobat dan berbalik kepada Allah, dan melalui pengalaman dalam Adorasi dan pencurahan Roh, Tuhan memberikan rahmat untuk berjumpa dan mengenal Dia secara pribadi.

Kemudian ketika mulai menghayati hidup berkomunitas dan pelayanan, Tuhan memberi rahmat untuk mendengar sendiri kasus-kasus fatal akibat kepercayaan sia-sia kepada ramalan, misalnya saya pernah mendengar dari seorang ibu di Singapore yang dipaksa oleh suaminya untuk abortus, hanya karena bayi yang di dalam kandungan itu, saat kelahirannya bayi itu “toa jiong” (jiong/kontras besar) berdasarkan cap jie shio, betapa hancur hati ibu itu, selama ini dia tenggelam dalam luka dan penyesalan seumur hidupnya.

Lalu ada orang-orang yang begitu ketakutan dan depressi, karena diramal akan mati dalam waktu dekat, dsb.

Bagi saya pribadi, ada suatu pengalaman, di mana kasih dan kuasa Tuhan yang luar biasa boleh saya alami, yaitu dalam suatu pelayanan retret Intergenerasi di Semarang, waktu itu dalam Adorasi ada sabda pengetahuan yang menyatakan bahwa pada saat itu Tuhan sedang bekerja mematahkan ikatan dengan leluhur atau sanak keluarga yang punya hubungan dengan kuasa kegelapan dalam pelbagai bentuknya : perdukunan, ramalan, dsb.

Pada saat itu, saya juga merasa Tuhan menjamah saya, saya seperti diberi pengertian di tengah keluarga besar saya, betapa mudahnya muncul bakat-bakat gua mia/ramalan itu, dan saat sadar, saya mohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa saya dan dosa-dosa dalam keluarga besar, mendoakan arwah leluhur dan sanak keluarga yang sudah meninggal dunia dan juga tukang ramal, dan mohon Tuhan mematahkan ikatan-ikatan yang ada. Saat itu saya merasa suatu pembebasan yang luar biasa, begitu damai dan penuh kasih jamahan Tuhan Yesus. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Akhirnya melalui sharing ini, saya mengajak kita semua yang percaya kepada Kristus, untuk semakin percaya dan menyerahkan diri hanya kepada Kristus, bukan kepada ramalan yang sia-sia dalam pelbagai bentuknya. Semoga hidup kita semakin “berakar di dalam Kristus dan dibangun di atas Kristus”.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kolose 2:6-7).

ET