Karismatik dan Kontemplatif: Apa yang St. Yohanes Salib Katakan?

KARISMATIK dan KONTEMPLATIF: APA YANG ST. YOHANES SALIB KATAKAN?

(Diterjemahkan dari artikel Ralph Martin: “Charismatic and Contemplative: What Would John of the Cross Say?”
http://www.renewalministries.net/…/freeliter…/Char_Cont..pdf)

Pertama kali saya mengenal Yohanes dari Salib adalah setelah lulus SMA di Notre Dame. Membentuk Cursillo (organisasi Katolik yang memberikan semacam retret untuk menjadi pemimpin yang efektif di bidang kerohanian) beberapa bulan terakhir sebelum lulus mempunyai dampak yang sangat besar bagi hidup saya. Dengan rahmat Tuhan, saya yang sebelumnya berada dalam kebingungan dibawa kepada pengenalan yang sangat jelas mengenai realitas kebangkitan Kristus dan memiliki kerinduan yang sangat kuat untuk bersatu denganNya serta melayaniNya. Saya rasa saya diperkenalkan dengan dimensi iman dari kontemplasi dan karismatik tanpa saya bisa menerangkan dengan tepat bagaimana terjadinya. Saya tahu bahwa Yohanes dari Salib memiliki iman yang sangat dalam dan saya memutuskan untuk membaca buku-bukunya. Saya mulai dari buku yang berjudul Mendaki Gunung Karmel dan setelah membaca sekitar 100 halaman saya tutup buku itu walaupun belum saya baca semua karena isinya terlalu “gelap” dan negatif.

Saya melanjutkan pendidikan sarjana saya ke Princeton di bidang Filsafat dan Tuhan menyediakan segalanya untuk meningkatkan kerohanian saya. Setelah tahun pertama di universitas, saya diminta oleh Bapak Uskup untuk mendirikan kantor yang pertama bagi Gerakan Cursillo di Lansing, Michigan. Pada waktu itu, gerakan pembaharuan karismatik di Gereja Katolik sangat berkembang dan saya segera terlibat di dalamnya, membantu mempublikasikannya pertama kali, mendirikan kantor internasional yang pertama dan menyusun struktur kepemimpinan serta membangun komunitas yang pertama. Selama empat tahun isteri saya dan saya dan anggota keluarga yang masih muda tinggal di Belgia, membantu Kardinal Suenens yang diberi mandat oleh Paus Paulus VI dan kemudian Paus Yohanes Paulus II untuk membantu pembentukan pembaharuan karismatik di dalam gereja. Pada akhir tahun 1989 dan awal tahun 1990 banyak komunitas karismatik katolik yang mengalami perubahan mendasar dan reformasi yang sekalipun sulit, namun tetap diperlukan.

Saat itu saya mengambil kursus teologi dalam bidang Eklesiologi (artinya studi mengenai Gereja) di Seminari Hati Kudus Keuskupan Agung Detroit, karena issue yang banyak muncul dalam komunitas-komunitas berkenaan dengan Eklesiologi. Dekan seminari mendorong saya untuk mengambil master teologi dan berjanji memberi kredit sebagai insentifnya atas banyak tulisan yang telah saya buat. Saya mulai membaca lagi buku Yohanes dari Salib ketika mengambil mata kuliah Sejarah Spiritualitas. Bacaan wajibnya berjudul “Madah Rohani”. Saya teringat bahwa saya membaca buku itu, ketika menunggu pesawat untuk kembali ke Amerika dari Zurich, Swiss (saya kuliah part-time untuk Teologi sehingga harus sering bepergian dengan pesawat).

Ketika membaca buku “Madah Rohani”, jiwa saya seolah-olah dibanjiri oleh cahaya. Semua yang pernah saya alami, harapkan, inginkan, impikan, baik dalam kehidupan natural maupun supernatural, telah dinyatakan oleh St. Yohanes Salib dengan jelas dan dalam sehingga buku itu membuat saya begitu terpesona. Saya tidak dapat membuka mata saya, saya sulit untuk berbicara, cahaya itu terus membanjiri jiwa saya.

Pengalaman ini membuat saya mempunyai keinginan yang sangat besar untuk membaca semua buku Yohanes Salib, semua buku Teresa Avila, semua buku Theresia Lisieux dan untuk benar-benar mengerti apa yang mereka terima dari Tuhan dan kemudian ajarkan kepada orang-orang lain. Buku-buku itu menjadi penuntun yang sangat penting bagi kehidupan rohani saya.

Suatu hari, secara tak terduga, saya menerima telepon dari Universitas Franciscan di Steubenville yang menanyakan apakah saya bersedia mengajar Evangelisasi untuk mahasiswa Teologi program MA di musim panas. Saya katakan bahwa saya tertarik dan bertanya apakah mungkin saya bisa tambahkan ajaran dari Yohanes Salib dan Teresa Avila. Ketika dijawab ‘ya’, hal itu merupakan babak baru dalam hidup saya.

Ketika melanjutkan pekerjaan saya sebagai ketua di komisi pembaharuan (organisasi yang bergerak dalam bidang Pembaharuan Katolik dan Evangelisasi, serta banyak terlibat di media dan pekerjaan misi di lebih dari 20 negara (http://www.renewalministries.net/), saya mulai mengajar di bidang Teologi Spiritual secara tetap.

Dalam 4 tahun terakhir saya mengajar di Universitas Franciscan untuk program musim panas mereka, mengambil bidang Spiritualitas Katolik saat kuliah teologi di Ave Maria College, Michigan, dan selama beberapa tahun terakhir mengambil kuliah bidang Pengenalan Spiritualitas untuk kalangan seminari serta membantu tugas uskup di Seminari Hati Kudus, Detroit dan belakangan ini mengikuti kuliah di seminari bidang Evangelisasi dan Spiritualitas. Orang-orang Kudus Karmel sangat menonjol dalam beberapa kuliah yang saya ikuti.

Pada waktu itu saya aktif sebagai pembicara dalam pertemuan-pertemuan yang berhubungan dengan pembaharuan di mana saja di seluruh dunia termasuk konferensi dan retret Karmelit. Secara berkala, saya bertemu dengan orang-orang yang mengatakan seperti ini : “Dulu saya seorang karismatik, tapi sekarang saya telah menjadi kontemplatif.” Atau, dari sudut pandang yang lain “Saya lebih menyukai doa kontemplatif yang tenang dan tidak akan pernah menjadi seorang karismatik.” Atau : “Mengapa kamu mendorong orang agar mempraktekkan karunia karismatik? Tidakkah kamu baca apa yang Yohanes dari Salib katakan mengenai kegiatan rohani semacam itu?”

Kelihatannya orang-orang berpikir bahwa kontemplatif dan karismatik adalah dua hal yang saling bertentangan, bukannya saling melengkapi dan Yohanes Salib seolah mengutuk penggunaan karunia karismatik.

Saya ingin menjelaskan bahwa pemikiran-pemikiran orang-orang di atas adalah salah dan tidak mencerminkan pendapat Yohanes Salib yang sebenarnya maupun kebenaran injil dan magisterium yang diajarkan oleh Gereja.

Ada banyak isu yang perlu dijelaskan, mari kita fokus ke hal yang sederhana sekarang. Apakah Yohanes Salib mengutuk penggunaan karunia karismatik? Dengan membaca buku-bukunya, kita tahu bahwa Yohanes Salib sangat prihatin, jika ada sesuatu yang mengurangi hormat kita terhadap Tuhan sendiri.

Penglihatan rohani (atau bentuk-bentuk komunikasi spiritual tertentu) dapat menjadi penghalang, rintangan, menghambat, membelokkan kita dari tujuan utama yaitu bersatu dengan Kristus.

Satu dari sumbangannya yang sangat penting adalah pengertiannya mengenai bagaimana pengalaman rohani dapat menghambat persatuan manusia dengan Kristus apabila orang itu mencari atau melekat pada pengalaman itu. Yohanes menyatakan bahwa Tuhan memberikan pengalaman rohani ini untuk berbagai macam alasan termasuk karena manusia itu lemah.

Namun, Tuhan menginginkan agar kita tidak melekat kepada pengalaman itu melainkan agar iman, harapan, dan kasih kita semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Adalah hal yang penting untuk membedakan pengalaman rohani yang kita alami demi pertumbuhan iman kita sendiri (hiburan pada waktu berdoa, pengalaman suka cita spiritual, berbagai penglihatan, berbahasa roh, perasaan gembira, dll) dan pengalaman rohani di mana kita dipakai Tuhan sebagai perantara untuk membangun jemaat, atau untuk pekerjaan evangelisasi (sabda pengetahuan atau kebijaksanaan yang diperuntukkan bagi orang lain, karunia penyembuhan, mujizat, nubuat, bahasa lidah dan penafsirannya, karunia memberi dengan suka cita, karunia untuk memimpin, karunia mengajar dan berkhotbah, karunia untuk menolong, dll.). Walaupun kedua pengalaman rohani itu bisa saling tumpang tindih namun perbedaan di antara keduanya penting untuk dimengerti.

Bentuk kedua dari pengalaman rohani adalah karisma atau karunia dalam Perjanjian Baru. Injil Perjanjian Baru tidak memberikan suatu daftar yang lengkap mengenai karisma atau pekerjaan Roh Kudus yang berguna bagi sesama, tetapi menyediakan beberapa daftar sebagai indikator karya Roh Kudus yang beraneka ragam dan sangat kaya melalui orang-orang Kristen demi kepentingan orang lain. Beberapa daftar karisma yang utama dan ajaran kitab suci mengenai karisma dapat ditemukan pada 1 Kor 12-14 dan Roma 12:1-8.

Walaupun tidak bermaksud untuk menulis keseimbangan dan keseluruhan positifnya teologi pekerjaan-pekerjaan karismatik dari Roh Kudus yang berguna bagi sesama, Yohanes mengungkapkan hal itu di dalam Buku Mendaki Gunung Karmel Ketiga bab 30-32. Di dalam buku ini, Yohanes menerangkan bagaimana kehendak dapat melekat pada benda-benda yang fana sehingga mencegah persatuannya dengan Tuhan. Di dalam bab ini, dia menerangkan realitas dari benda-benda supernatural dan bagaimana kehendak dapat melekat pada benda-benda itu, golongan ke 5 dari 6 golongan benda-benda yang diterangkan Yohanes.

Jadi, walaupun tujuan Yohanes menulis adalah untuk menerangkan berbagai kemungkinan bahayanya, dia tetap menganggap karunia-karunia karismatik dari Roh Kudus sebagai suatu realitas dan berguna (meminjam terminologi Thomistic, dia menyebutnya gratiae gratis datae/ karisma) dan secara khusus menyebutkan karunia karismatik yang terdapat dalam 1 Kor 12:9-10 sebagai jenis-jenis pekerjaaan Roh Kudus yang akan dia bahas. ”Contoh dari karunia-karunia ini adalah hikmat dan pengertian yang diberikan Tuhan kepada Salomo (1 Raj 3:7-12) dan karunia yang disebutkan oleh St. Paulus : iman, karunia untuk menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, karunia untuk membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh, dan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Yohanes meneguhkan pengajaran injil atas karunia-karunia tersebut. Tuhan menganugerahkan karunia itu kepada orang dengan tujuan untuk kepentingan orang lain seperti yang dikatakan oleh St. Paulus : kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama (1 Kor 12:7). Hal ini tertulis dalam Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 30, paragraf 2.

Dia kemudian menerangkan dua keuntungan Tuhan memberi anugerah melalui karunia-karunia ini. Yang bersifat sementara termasuk menyembuhkan orang sakit, mencelikkan orang buta, membangkitkan orang mati, mengusir setan-setan, bernubuat agar orang lebih berhati-hati dan karunia-karunia lain semacamnya. Yang bersifat rohani dan kekal ialah pengetahuan dan kasih Allah melalui pekerjaan-pekerjaan itu bagi orang yang melakukan atau orang yang menerima karunia itu (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 30, paragraf 3).

Berkaitan dengan orang yang dipakai sebagai perantara untuk karunia itu, Yohanes menasehati agar ia bersuka cita bukan karena memiliki karunia itu dan berhasil melakukannya, tapi hanya karena dia melakukan kehendak Tuhan dengan motivasi melakukan suatu perbuatan amal kasih. Yohanes mengutip pernyataan penting dan peringatan yang terdapat dalam injil 1 Kor 13:1-2 untuk memiliki kasih di atas segalanya, dan Lukas 10:20 Yesus menasehati agar kita bersuka cita untuk hal yang benar-benar penting, jangan bersuka cita, karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersuka citalah karena namamu terdaftar di sorga (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 30, paragraf 4-5).

Sedangkan untuk orang yang menerima keuntungan dari karunia itu, Yohanes menjelaskan bahwa memang baik jika tubuh disembuhkan, setan-setan terusir, dan nubuat diberitahukan sehingga orang itu bisa berjaga-jaga, namun suka cita yang timbul dari karunia sementara itu tidaklah lebih besar (“kebaikan yang bersifat sementara, pekerjaan supernatural, dan mujizat yang dialami hanya mendatangkan sedikit atau bahkan tidak sama sekali kebahagiaan bagi jiwa”) jika dibandingkan dengan bersatu dengan Tuhan atau persatuan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Seperti yang Yesus katakan, ada sukacita besar di sorga ketika seseorang bertobat. Sukacita penuh adalah sukacita karena berpaut dengan nilai-nilai kekal seperti pertobatan sungguh-sungguh dan berbalik kepada Tuhan. Yohanes dengan brillian menjelaskan bahayanya bila jiwa-jiwa yang melakukan karunia itu bersukacita secara berlebihan atas karunia-karunia sementara yang diperolehnya. Dia menerangkan bahwa kelekatan terhadap karunia itu atau kesenangan karena merasa karunia itu berasal dari kekuatannya sendiri akan menyebabkan ia dapat jatuh kepada praktik yang tidak tepat dan bahkan tidak otentik. Yohanes mengatakan : Orang yg mempunyai kelekatan kepada karunia itu, akan merasa karunia itu dapat dia gunakan kapan saja, bahkan memaksa karunia itu muncul pada waktu yang tidak sesuai dengan waktu Allah (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 31, paragraf 2). Ini akan menyebabkan orang bisa mengada-ada akibat kelekatannya kepada karunia yang diberikan Allah itu.

Bahaya yang lebih besar lagi bisa terjadi karena membuka kesempatan bagi setan untuk memanipulasi praktik-praktik seperti itu. “Bila setan tahu bahwa seseorang mempunyai kelekatan terhadap perbuatan-perbuatan yang ajaib, maka setan akan banyak sekali menggunakan media yang ada untuk turut campur dalam praktik orang itu” (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 31, paragraf 4). Kelekatan pada karunia-karunia itu, bila terbuka kesempatan bagi manipulasi setan, akan menjerat orang pada persekutuan iblis yang mengakibatkannya menjadi tukang sihir atau tukang sulap.

Kejahatan lain yang bisa timbul akibat mempraktikkan karunia itu tanpa didasari ketulusan hati atau ketaatan pada Tuhan dan dorongan Roh Kudus adalah menjelek-jelekkan karunia otentik yang berasal dari Allah. Praktek yang tidak berhasil untuk melaksanakan karunia itu, karena bukan kehendak Tuhan, menyebabkan ketidakpercayaan dan penghinaan kepada Tuhan di hati orang-orang yang terlibat di dalamnya. Iman menjadi semakin lemah di hati orang yang melakukan praktik itu (karena kelekatannya) dan di hati orang yang menerima karunia yang tidak otentik itu. Yohanes juga menerangkan adanya godaan yang sangat jelas yaitu orang yang memperoleh karunia itu bisa menjadi angkuh dan gila hormat karena motivasinya bukan demi kemuliaan Allah dan kebaikan bagi jiwa-jiwa yang dilayaninya.

Selain menjelaskan secara brillian akan bahaya penggunaan karunia apabila orang melekat padanya – yang merupakan tujuan utama dari pengajarannya – Yohanes juga menerangkan, seolah-olah sambil lalu, bagaimana caranya agar karunia karismatik itu dipraktikkan secara benar.

Yohanes menjelaskan pentingnya menggunakan karunia itu pada “waktu” dan “cara” yang tepat. ”Pada waktu Tuhan menganugerahkan karunia-karunia itu, Tuhan juga memberikan hikmat dan dorongan kepada mereka untuk melakukannya dengan cara dan waktu tertentu (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 31, paragraf 2). Yohanes menerangkan : agar karunia itu dapat dipakai secara tepat maka orang tidak boleh terikat kepada idenya sendiri dan pemikiran bagaimana karunia itu seharusnya bekerja melainkan percaya kepada Tuhan serta menyerahkan diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus. ”Oleh sebab itu, mereka yang mempunyai karunia supernatural tidak boleh bernafsu atau terlalu gembira menggunakannya atau mempunyai kelekatan untuk melakukannya. Tuhan, yang mengijinkan rahmat supernatural ini bagi kepentingan Gereja atau anggotanya, akan menggerakkan hati orang bagaimana seharusnya menggunakan karunia itu dan kapan waktunya. Karena Tuhan memerintahkan muridNya agar tidak perlu khawatir mengenai apa dan bagaimana harus berkata-kata, karena semuanya itu dikaruniakan pada saat itu juga, dan karena pekerjaan itu adalah supernatural maka Dia ingin agar orang-orang yang mempraktikkan karunia itu menunggu sampai Tuhan menggerakkan hati mereka dan pada saat itu menjadikan mereka sebagai pekerja-Nya (Mat 10 : 19 ; Mrk 13 : 11).

Hanya dengan kekuatan yang berasal dari Allah saja, orang boleh mempraktikkan karunia itu. Di dalam Kisah Para Rasul, murid-murid Yesus mohon agar Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menyembuhkan orang dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat melalui mereka sehingga iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus masuk ke dalam hati (Kis 4 : 29-30).” (Mendaki Gunung Karmel Buku Ketiga, Bab 31, paragraf 7)

Kesimpulannya adalah Yohanes meminta agar kita tidak memadamkan karunia karismatik yang berasal dari Roh Kudus, tapi menguji keaslian dari pekerjaan itu agar tujuan untuk orang yang mempraktikkan karunia itu serta orang yang menerima karunia itu dapat tercapai. Sekarang, jawaban apa yang dapat kita berikan untuk pertanyaan di depan? Apakah Yohanes Salib mengutuk penggunaan karunia karismatik?

Tidak, sebaliknya, dia banyak memberi nasihat yang berguna mengenai bagaimana seharusnya karunia itu dipraktikkan sehingga tujuan Tuhan memberikan karunia itu dapat tercapai. Jelas sekali ajaran Yohanes mengenai pengalaman rohani di buku-bukunya yang lain, dan secara khusus, pengajarannya mengenai karunia karismatik dalam buku Mendaki Gunung Karmel yang kita bicarakan di artikel ini, akan sangat besar manfaatnya bagi mereka yang terlibat dalam Pembaharuan Karismatik Katolik. Beberapa tahun terakhir ini saya banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan ajaran kebijaksanaan para Karmelit kepada gerakan pembaharuan karismatik.

Di lain pihak, apakah kesatuan antara dimensi kontemplatif dan dimensi karismatik dari pekerjaan Roh Kudus, yang dipertahankan oleh beberapa kalangan Karmelit, perlu dibahas lagi? Tidak hanya ajaran Yohanes dari Salib, dari Ordo Karmelit, yang saat ini kita bahas, tapi Paus Yohanes Paulus II dengan bersemangat meminta agar seluruh Gereja terbuka terhadap pekerjaan karismatik yang berasal dari Roh Kudus (seperti yang dilakukan terhadap doa kontemplatif).

Pada hari raya Pentakosta tahun 1998, Paus meminta wakil-wakil dari Gerakan Pembaharuan Gereja untuk bergabung bersamanya merayakan pesta itu. Lebih dari 500,000 orang dari lebih dari 50 gerakan pembaharuan berdatangan. Apa yang Paus lakukan adalah mempelajari bersama-sama mengenai injil dan Konsili Vatikan II sehubungan dengan karunia yang berasal dari Roh Kudus dan menyatakannya dengan penuh semangat. Paus memulai dengan: Keberadaan Gereja berdasarkan Yesus Kristus sungguh hidup, bekerja pada saat ini dan mengubah kehidupan. Melalui Konsili Vatikan II, Roh Penghibur memberikan kepada Gereja sebuah Pentakosta baru, dengan dinamika yang baru dan tak terlihat. Ketika Roh Kudus berkarya, dia membuat orang-orang terpesona. Roh Kudus membawa keajaiban-keajaiban dengan caranya yang baru; Roh Kudus mengubah orang dan sejarah secara radikal. Ini merupakan pengalaman yang tidak terlupakan selama Konsili Vatikan II, di mana atas bimbingan Roh yang sama, Gereja menemukan kembali dimensi karismatik sebagai salah satu dari elemen-elemen pokoknya: ‘Tidak hanya melalui sakramen dan pejabat Gereja bahwa Roh Kudus dapat menguduskan orang-orang, memimpin mereka dan memperkaya mereka dengan berbagai kebajikan. Roh Kudus memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya (1 Kor 12 : 11), Roh Kudus juga memberi karunia itu kepada umat beriman di segala lapisan. Dia membuat mereka cocok dan siap untuk ikut ambil bagian dalam berbagai tugas dan kegiatan demi pembaharuan dan pembangunan Gereja’ (Lumen gentium, n.12).

Dengan kata-kata itu, Paus Yohanes Paulus II secara jujur menyetujui apa yang para teolog, sarjana kitab suci, dan sejarahwan gereja demonstrasikan dalam pelajaran mereka bahwa pekerjaan karismatik dari Roh Kudus merupakan hal yang penting dan melengkapi dimensi sakramental dan hirarki Gereja. Paus juga secara jujur mengakui bahwa dimensi karismatik penting namun sering terlupakan atau dialihkan karena terlalu menekankan segi sakramen dan hirarki sehingga dibutuhkan aksi khusus dari Roh Kudus dalam Konsili Vatikan II agar Gereja sadar akan pentingnya dimensi “konstitutif” ini. Paus secara eksplisit mengatakan: “Aspek institusi dan karismatik adalah hal penting yang saling melengkapi bagi undang-undang Gereja. Mereka memberi sumbangan, walau dengan cara berbeda, bagi kehidupan, pembaharuan, pengudusan hamba-hamba Tuhan. Sudah merupakan rencana Tuhan bahwa dimensi karismatik gereja sebelum dan setelah Konsili, dinyatakan secara luar biasa bagi gerakan-gerakan gereja dan komunitas-komunitas baru. Kehadiran kalian di sini merupakan bukti nyata dari adanya ‘pencurahan’ Roh Kudus”.

Paus meminta kepada semua umat Kristiani, bangkit dari kenyamanannya, dengan berkata: “Hari ini, saya ingin berteriak kepada kalian yang ada di Aula St. Petrus ini dan kepada semua umat Kristiani: bukalah hati kalian dengan tulus terhadap karunia Roh Kudus! Terimalah dengan penuh syukur dan kepatuhan tanpa henti atas karisma yang dianugerahkan Roh Kudus itu! “ Pengajaran yang luar biasa dari Yohanes Salib mengenai bagaimana karunia-karunia ini dapat dilakukan secara murni dan otentik adalah tanggapan kita atas permintaan Paus dan Roh Kudus mengenai membuka hati terhadap karunia-karunia ini, bukan terutama untuk diri sendiri melainkan untuk Gereja dan dunia.

Ralph Martin
President, Renewal Ministries
Instructor in Theology
Sacred Heart Major Seminary
rcpmartin@earthlink.net