Pengalaman Saya di Retret SEP 2015

Awalnya saya tenang-tenang saja waktu semua teman KEP saya sibuk mendaftar, saya pikir tahun depan kan masih ada, kalau misalnya saya tidak ikut tahun ini. Saya hanya berdoa sama Tuhan, “Tuhan kalau Kau memang benar mau memakaiku, maka Kau sendiri yang akan bukakan jalan supaya bisa ikut retret.” Ternyata memang semua dibereskan Tuhan, pimpinan saya mengijinkan, keluarga juga mengijinkan, bahkan saya ikut gratis karena kakak saya yang menguruskan. Puji Tuhan, saya berangkat dengan hati yang percaya ini memang kehendak Tuhan.

Hari pertama tiba di sana, saya pergi ke kios karena dititip kakak kelas di KEP untuk membelikan medali wasiat St. Benedictus. Lalu secara tidak sengaja ada seorang romo turun dari mobil. Ketika saya berada di didekatnya, saya berinisiatif untuk meminta berkat untuk kedua benda rohani tadi. Beberapa perempuan berlarian ke tempat romo itu waktu romo memberkati benda rohani saya. Saya merasa heran mengapa perempuan-perempuan itu berlarian ke romo itu, karena mereka membuat permintaan ke romo itu supaya menyembuhkan pinggang yang sakit, ada yang mengatakan tidak bisa menoleh dan macam-macam.

Saya bingung melihat keadaan itu. Seseorang melihat saya bingung dan memberitahu bahwa itu adalah Romo Yohanes. Saya terkejut karena 10 tahun lalu saya ke Cikanyere ingin bertemu Romo Yohanes dan tidak bertemu, sekarang malah bertemu tanpa sengaja. Lalu Romo Yohanes memberkati saya juga dan menanyakan apa penyakit saya dan lalu dia langsung pergi lagi. Saya bersyukur Puji Tuhan setelah saya bertemu beliau. Terimakasih Tuhan Yesus yang sungguh luar biasa.

Lalu retret SEP yang saya ikuti sesi demi sesi benar-benar seperti memperbaharui pemikiran saya dan menunjukkan apa saja kesalahan saya selama ini. Puji-pujian yang dibawakan tim pujian benar-benar membuat saya penuh sukacita. Sungguh retret yang sangat memberkati saya dan saya yakin juga buat semua peserta lainnya yang datang dengan membuka hati buat Tuhan.

Sepulang retret, saya mulai bersemangat di tempat kerja. Saya begitu bersemangat menginjili anak buah saya untuk selalu bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan. Sekarang giliran anak buah saya yang bingung.

Terima kasih Yesus, Kau sudah buka hatiku, Kau selalu ada untukku.

Terima kasih banyak untuk panitia retret dan SEP yang sudah bersusah payah menyelenggarakan retret yang penuh berkat ini. Semoga Tuhan selalu memberkati dengan kasih dan berkatNya yang tidak pernah habis. Amin.

Warni, KEP Kristus Raja