In Memoriam Donny Vincent

IN MEMORIAM

Donny Vincent Soenjoto Tedjo

25 April 1956 – 27 April 2015

Ketika mengenang pengalaman-pengalaman bersama Donny, seakan aku sedang memunguti potongan puzzle satu persatu dan meletakkannya dalam suatu rangkaian yang akan membentuk sebuah lukisan.

Tahun 1991, kami mengikuti retret 5 hari di Bintang Kejora Pacet bersama Romo Sugiri SJ dan Suster Imaculata Osu. Pada waktu itu kami belum terlalu mengenal satu sama lain.  Namun tampaknya materi retret Misi Evangelisasi telah memberi pengaruh yang sama terhadap kami. Semangat evangelisasi terkobarkan.

Setiba di Surabaya, BPK PKK Surabaya  memutuskan untuk mengadakan Kursus Evangelisasi secara insidentil. Dalam proses yang berlangsung, para pengurus BPK melihat semangat, komitmen dan kesungguhan hati Donny terhadap kursus tersebut, maka dia diminta untuk menjadi koordinator pelayanan kursus evangelisasi pribadi.

Dalam perguliran waktu, bulan berganti bulan,  tahun berganti tahun, semakin tampak jelas kecintaan Donny terhadap pelayanan tersebut. Seiring dengan penataan-penataan yang dilakukannya, semakin berkembang pula kursus itu, sehingga status pun diubah menjadi sekolah. Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) telah diputuskan menjadi Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) pada tahun 1994.

Sekalipun tidak secara langsung terlibat dalam struktur kepengurusan SEP, namun Donny sering berkomunikasi denganku, baik menceritakan gerak dinamika SEP, maupun membuat perundingan untuk rencana-rencana pengembangannya.

Sekarang aku menyadari bahwa ketika itu Tuhan sedang menumbuhkan semangat evangelisasi di hatiku melalui Donny.

Aku sering melihat bagaimana dia mengajarkan Bab 1 Introduksi dan Orientasi dengan gaya dan cara yang khas. Kadang-kadang dia naik ke kursi, kadang-kadang dia masukkan mikrofon ke kantong baju, atau bahkan pernah menggantungkannya di leher dengan tali rafia, agar kedua tangannya dapat bergerak bebas mengekspresikan apa yang dia ajarkan. Dan kekhasan itu tidak dapat ditiru oleh orang lain. Namun ternyata yang lebih penting daripada cara penyampaiannya adalah bahwa Donny telah berhasil menanamkan semangat evangelisasi kepada para murid SEP dan KEP sehingga mereka dikobarkan. Dan hal inilah yang harus dilanjutkan oleh semua pengajar SEP sampai kapanpun.

Dalam perkembangan waktu, kami juga mendapat kesempatan untuk melayani KEP-KEP di luar pulau. Dengan semakin meningkatnya frekuensi komunikasi dan perjumpaan dalam pelayanan, kami pun menjadi semakin saling mengenal. Aku menganggapnya sebagai adik yang heboh, yang selalu menyegarkan dan menyeriakan suasana dalam forum-forum kebersamaan, termasuk dalam Forum Guru.

Saat-saat ceria itu takkan terulang lagi di dunia ini.

Suatu hari Donny menghubungiku melalui telpon dan menceritakan bahwa dia merasa sakit yang menusuk di bagian tubuhnya. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa itulah awal pergumulannya terhadap penyakit kanker. Berawal dari operasi otak di Surabaya, Donny menjalani berbagai pengalaman untuk memperoleh kesembuhan. Di sela-sela kurun waktu itu, kami bertemu. Dari setiap kali perjumpaan, aku selalu menyaksikan imannya yang teguh, tidak goyah dan tidak pernah bergeser pada pengharapannya akan Injil yang telah dia dengar dan telah dia wartakan ke mana-mana. Dalam setiap perjumpaan, Donny banyak berbicara tentang imannya kepada Tuhan, dan dia tidak pernah mencurigai Tuhan sebagai penyebab atas keadaannya. Suatu hari kami bertemu dan sebagaimana biasa perjumpaan selalu diakhiri dengan berdoa bersama. Pada waktu itu aku tidak tahu bagaimana harus berdoa, namun aku merasakan suatu dorongan kuat untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Ternyata Donny mengatakan bahwa pada masa-masa itu dia tidak lagi mohon apa-apa selain hanya mengucapkan syukur atas cinta Tuhan yang dia alami. Hanya hati yang mengasihi Allah yang mampu bersyukur sekalipun dia harus merasakan kesakitan yang tidak tertahankan.

Melalui Donny, aku mengerti makna surat Rasul Paulus kepada umat di Roma :

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang- orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat- malaikat, maupun pemerintah- pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa- kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:35, 37-39).

Pertemuan kami terakhir terjadi ketika dia tidak lagi dapat berbicara karena gangguan di tulang rahangnya. Aku bertanya kepadanya, apakah ada yang dipikirkan? Tanpa suara dia menggoyangkan tangan,  menunjuk dada dan dahinya kemudian dia menunjuk ke atas. Aku paham bahwa Donny mengatakan, “Hati dan pikiranku sudah tertuju kepada Tuhan Yesus, tidak ada lagi yang membebani. Aku siap bersatu kembali dengan Allah Bapa yang memiliki aku.”

Menyaksikan Donny tidak bersuara, aku merasa kehilangan bunyi yang biasa menggelegar dan penuh luapan semangat.

Tetapi semangat itu sendiri tidak pernah hilang dan menjadi sunyi.

Kini aku memandang lukisan puzzle yang telah selesai terjalin satu sama lain. Ternyata yang kulihat adalah lukisan iman dan semangat evangelisasi  seorang Saudara sepelayanan dan seperjuangan dalam suka dan duka.

Donny, Sahabat dan Saudara dalam Keluarga Besar SEP St. Yohanes Penginjil, telah berhasil menaburkan benih berpuluh tahun silam. Kini, benih itu telah bertumbuh menjadi pohon besar. Setiap orang boleh menikmati keberadaan pohon berkat ini sambil memetik buah imannya.

“Kitab kehidupanmu di dunia ini telah ditutup, namun apa yang  kautuliskan di dalamnya tidak akan pernah lenyap dan tetap hidup dalam kenangan kami. Sekarang engkau telah menerima kitab kehidupan kekalmu, yang tak akan pernah berakhir dan selalu berisi kebahagiaan karena persekutuanmu dengan Tuhan Yesus Kristus yang kauimani.

Selamat jalan, Sahabat dan Saudara!

Surabaya, 29 April 2015

Judy Nuradi

4 thoughts on “In Memoriam Donny Vincent

  1. Bp Guru Donny adalah GURU Sejati.
    Beliau teladan untuk menjadi seorang murid, sekaligus patron gembala bagi kawanan ternak.
    Selamat jalan GURU-ku, mahkota kebenaran tersedia bagiMu. Dan nikmatilah pelukan Bapa dalam peristirahatan yang abadi.
    REST IN PEACE.
    medio2015.

  2. Terima kasih pak Donny. Karena ketaatanmu pada pimpinan Roh Kudus maka SEP Surabaya bisa berdiri dan berkembang mempersembahkan banyak jiwa kepada Tuhan, salah satunya adalah diriku. Teladan semangat evangelisasimu, terutama ketika engkau menderita, sungguh menggugahku untuk lebih berkomitmen lagi dalam melakukan tugas-tugas perutusanku. Selamat jalan pak Donny, doakanlah kami agar setia melanjutkan karyamu.

  3. Sosok teladan dan pejuang iman dalam melawan penyakit kanker, salah satu penyakit yg msh ditakuti sampai skrg… Selamat jalan om Donny, berbahagialah bersama Bapa di surga… Semangat juangmu tak akan pernah kulupa.. Sampai skrg msh segar di ingatan saya pengajaran om Donny di ME, Mat 28: 18-20, lengkap dengan gaya dan suaranya… Terima kasih Om…

  4. Selamat Jalan om Donny.. terima kasih atas teladan yg engkau berikan somoga kami dapat meneladaninya. Amin.

Comments are closed.