Mahkota Kehidupan

Saya dibesarkan dari keluarga Muslim dan berasal dari Jombang. Saudara saya ada sebelas orang. Dari sebelas orang ini, Tuhan memilih 2 di antaranya menjadi saksi Kristus. Saya anak kesepuluh sejak usia 13 tahun memilih menjadi Katolik dan adik saya, nomor sebelas menjadi seorang pendeta.

Sebagai seorang wanita Katolik saya berkeinginan mempunyai suami yang seiman, maka saya pun berdoa untuk itu. Puji Tuhan doa saya terkabul. Kami dikaruniai tiga orang anak.

Ketiga anak saya sering bergantian jatuh sakit padahal saya sering ditinggal oleh suami yang bertugas keluar kota sebagai anggota ABRI, disinilah awal mula saya mengalami pergumulan hidup yang keras. Peranan saya pun di rumah merangkap menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi anak-anak. Banyak sekali tantangan dalam membesarkan anak-anak saya apalagi iman saya yang masih belum bertumbuh, masih sangat kecil sehingga seolah-olah beban hidup amat sangat berat.

Anak saya yang kedua menderita polio dan saya hanya bisa berdoa dengan tak henti-hentinya dan berpuasa. Namun ajaib Tuhan sembuhkan dan jawab doa saya. Dan anak saya yang satunya terkena narkoba. Pada usia 7 tahun dia mencicipi barang terlarang itu dari kakak sepupunya tanpa sepengetahuan saya sehingga akhirnya dia terjerumus lebih dalam lagi. Saya lakukan segala macam upaya, mulai dari memasukkan ke tempat rehabilitasi, mencoba obat-obatan dari Jepang dan lain-lain, pokoknya apapun saya berusaha melakukannya, sampai sudah habis-habisan, tetapi belum membawa kesembuhan. Dan dampaknya dari semua beban yang menekan ini, saya kemudian mengalami pendarahan.

Pada suatu saat saya sadar dan mulai mendekat pada Tuhan. Saya bertobat. Saya mengikuti retret awal, retret luka batin dan retret mengenal Kehendak Allah dan kemudian masuk sekolah SEP. Disinilah iman saya mulai berkembang dan semakin bertumbuh. Saya sadar bahwa dibalik semua cobaan yang saya alami, ada rencana yang indah. Hal ini terjadi pada diri saya. Karena saya sudah tahan uji dan mengasihi Dia, saya diberi Mahkota Kehidupan (Yakobus 1 : 12 ).

Sekarang, Puji Tuhan, kedua anak saya benar-benar mengalami pemulihan. Mereka sudah menikah dan dikarunia anak. Semua itu adalah Anugerah Tuhan yang indah.

Dalam menghadapi cobaan, janganlah kita mengeluh, tapi kita belajar mengucap syukur. Sebab dibalik semua itu Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk kita semua.
(Muj.- kelas konseling 2 – September 09)