Kerinduan Menyambut Sakramen Ekaristi

Suatu hari saya bermimpi melihat sebuah piala dan hosti suci. Setelah saya bangun saya mencoba memikirkan dan bertanya dalam hati apakah pesan Tuhan melalui mimpi tersebut. Apakah Tuhan menginginkan saya datang ke misa harian? Kemudian saya mengambil berkomitmen untuk setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis saya akan datang ke misa harian.

Saya menjalani komitmen saya dengan perasaan yang biasa-biasa saja dan menjadi seperti rutinitas biasa. Setiap jam 3 sore saya berdoa koronka dan juga merenungkan peristiwa-peristiwa dimana Bunda Maria merasakan kerinduan untuk berjumpa dengan puteranya. Tanpa terasa air mata saya mengalir. Namun saya heran dan bertanya dalam hati, mengapa saya menangis, apa yang harus kulakukan Tuhan ? Lalu hati saya seolah ditegor bahwa selama ini saya hanya datang ke misa tanpa kerinduan, biasa-biasa saja. Setiap mau menyambut komuni saya bertanya pada diri saya adakah kerinduan dalam hati saya untuk menyambut Yesus, ternyata tidak ada. Kemudian saya selalu berdoa agar mohon diberikan kerinduan yang besar untuk datang pada misa.

Tuhan Yesus selalu baik dan memperhatikan sikap anak-anakNya. Dia ingin saya bertumbuh dalam iman yang benar. Saat itulah saya diajarkan bagaimana kerinduan yang benar itu.

Suatu hari saya berkenalan dengan seseorang dan kami berjumpa kira-kira 3 kali. Namun tiba-tiba saya kepingin sekali ketemu dia, setiap hari, setiap jam, setiap saat rasanya selalu ingat dia. Saya telpon dia untuk janjian mau ketemu. Setelah bertemu, kami berbincang-bincang, seperti rasa rindu yang sudah terobati.

Kini saya menyadari bahwa kalau pergi ke misa saya juga harus punya rasa rindu yang besar yang seperti itu, seperti ingin ketemu dengan pacar yaitu Tuhan Yesus. Tuhan juga rindu untuk bertemu dengan saya, Dia rindu untuk memberikan berkat dan rahmatNya yang melimpah bagi orang yang datang merindukanNya.

September’09 (Hln – kelas konseling 2)