Tuhan Kumau Menyenangkan-Mu

Tahun 1995 saya mengalami kekecewaan luar biasa terhadap beberapa orang oleh karena itu saya berniat untuk membalas dendam. Saya sengaja belajar ilmu hitam selama tujuh tahun. Kalau saya tidak senang dengan seseorang tidak segan-segan saya menghajar dia sampai babak belur.

Saya mulai membalas dendam. Satu orang saya buat tidak bisa jalan. Setelah saya cek melalui telpon memang benar dia tidak bisa berjalan, ternyata dokterpun tidak tahu penyebabnya. Tetapi setelah dua hari, tiba-tiba timbul rasa kasihan saya kepada orang itu, kemudian saya tarik kembali penyakit orang tersebut. Seketika itu juga dia pulih kembali seperti semula.

Tetapi saya masih sakit hati pada dua orang lain. Saya masih ingin balas dendam. Melalui ilmu hitam, saya buat mereka berdua bangkrut dalam bisnisnya. Apa yang terjadi? Benar usaha mereka berdua tak lama kemudian bangkrut.

Lama kelamaan saya merasa sedih dan hampa dalam hidup ini. Tahun 1996 sampai tahun 2000 saya tidak bekerja. Isteri saya kena stroke dan harus dirawat selama dua bulan di rumah sakit. Puluhan juta uang yang harus saya keluarkan, padahal sesungguh saya tidak punya. Tapi ternyata Tuhan menyadarkan saya melalui peristiwa ini. Teman-teman datang menolong bersama-sama membantu biaya, padahal saya bukan orang yang istimewa buat mereka tapi mereka semua membantu dengan tulus dan menguatkan serta menghibur saya. Saya didoakan. Di sinilah saya mulai tersentuh dan mulai diproses oleh Tuhan. Saya juga didoakan pelepasan. Tahun 2000 sampai 2002 saya mulai membuang jimat-jimat dan meninggalkan ilmu hitam. Sifat-sifat jelek seperti cuek, kejam dan tidak ragu memukul orang yang tidak saya sukai mulai saya tinggalkan. Dengan ilmu hitam tersebut saya dapat cuci muka dengan air panas tanpa melepuh, dan saya juga kebal terhadap pedang yang digores-goreskan ke tubuh saya, namun semua itu perlahan-lahan saya tinggalkan. Dan saya mulai rajin ikut Persekutuan Doa.

Tiba-tiba saya terpilih menjadi ketua RT. Rasanya tidak masuk akal sebab saya ini orang yang tertutup sulit berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi akhirnya, di sini saya belajar berkomunikasi dengan orang lain.

Selama menjabat sebagai ketua lingkungan saya benar-benar diproses oleh Tuhan melalui konflik-konflik yang saya alami, tetapi hati nurani saya berkata “Kembalikan semuanya pada Tuhan”, dan saya belajar untuk membawa semua permasalahan ini pada Tuhan, saya tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri.

Tahun 2006 saya terpilih menjadi Asisten Imam sampai periode 2009. Pelayanan saya juga mengirim komuni kepada orang sakit. Saya merasakan sukacita. Saya ingin menyenangkan orang lain karena saya pikir siapakah orang yang mau ‘tepo seliro’ atau merasakan penderitaan orang lain. Inilah filosofi yang menjadi pegangan hidup saya yaitu menyenangkan orang lain terutama keluarga lebih dulu, melayani isteri saya yang terkena stroke dan menjaga cucu-cucu saya. Sungguh saya merasakan buah-buah pertobatan saya.

(disaksikan oleh TH – alumni SEP 2005, ditulis oleh redaksi)