Kuasa Pengampunan

Dalam pernikahanku, aku mengalami badai rumah tangga berbentuk hadirnya orang ketiga dalam hidup suamiku. Bersama suamiku, orang ketiga ini merencanakan untuk menjadi orang kedua (belakangan ternyata orang ketiga ini bukan satu-satunya; masih banyak orang ke 3a, 3b, 3c, 3d, dst.). Peristiwa itu terjadi di tahun ketujuh perkawinan kami. Saat itu merupakan saat gelap dalam hidupku, hancurlah semua impian memiliki keluarga utuh dan tak bercela. Yang muncul adalah bayangan perjuangan seorang diri menghidupi anakku yang masih kecil. Kelam dan menakutkan.

Di siang hari, aku disibukkan oleh segala macam usaha dan konsultasi untuk membenahi hidup perkawinan kami. Tapi bila malam tiba, aku terbaring kecapaian, lelah jasmani dan rohani dan tak mampu berbuat apa-apa. Badan terasa lemah tak bertenaga, tulang-tulang terasa kering tak mampu menopang tubuh. Aku bertanya-tanya apa sesungguhnya Tuhan tidak menghendaki dia sebagai suamiku? Mungkinkah aku memaksakan kehendakku sendiri dan kini aku harus menanggung akibatnya?

Tuhan mulai menyentuh dan menempa aku melalui peristiwa ini. Sedikit demi sedikit, lewat berbagai konsultasi dan pembicaraan dengan banyak orang -Romo, Suster, teman seiman, teman dekat, Tuhan menyingkapkan kepadaku kebenaran-kebenaran FirmanNya. Seakan-akan lampu di atas kepalaku tiba-tiba menyala, semua pertanyaan dan protesku kepada Tuhan mulai terjawab.

Disaat aku merenung sendirian di kapel, berbicara, bercerita, mengeluh dan menangis kepada Yesus, aku memperoleh penghiburan dan ketenteraman luar biasa. Aku mulai menyadari dan merasakan dengan sepenuh hati campur tangan Tuhan di dalam setiap peristiwa, menuntunku melewati jalan yang sukar dan membimbingku pada suatu jalan keluar. Jalan keluar ini tidak tampak begitu saja di depan mata seperti pintu yang terbuka. Tetapi melalui suatu proses yang panjang. Suamiku tidak dengan tiba-tiba menyesali kesalahannya dan kembali kepadaku dengan kasih sayang.

Yang aku alami lebih dahulu adalah penghiburan Ilahi yang berarti kekuatan baru bagiku. Penghiburan ini terutama lewat Yesus-sahabatku. Aku merasa dipeluk olehNya, didekap dengan penuh kasih, dilindungi dan diajak tertawa. Menyusul pengertian-pengertian akan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Awalnya dalam konteks perkawinan, dan akhirnya meluas ke semua aspek kehidupan.

Aku mulai mengerti dan percaya bahwa Sakramen Perkawinan yang kami terima bukanlah suatu kesalahan. Kelangsungan perkawinan kami harus diperjuangkan. Itu yang Tuhan kehendaki. Aku tidak boleh menyerah, sekalipun perjuangan ini masih sepihak karena suamiku belum menyadarinya.

Tuhan terus berkarya. Perlahan-lahan kehidupan keluarga mulai normal, sampai badai yang hampir sama terjadi lagi kurang lebih 7 tahun sesudahnya. Tapi kali ini, bagiku badai ini hanya merupakan proses penemuan jalan keluar juga. Kali ini, aku lebih kuat menghadapinya, kekuatan Tuhan telah menopangku. Dan aku bersyukur bahwa kuasa Tuhan sungguh dinyatakan, karena kali ini, suamiku justru merasa sangat menyesal. Dia juga telah berubah perlahan-lahan. Memang dia jatuh lagi, tapi justru kejatuhannya yang kedua ini menjadi suatu titik balik radikal dalam pertobatannya.

Sejak itu, kehidupan keluarga kami mulai dipulihkan. Kini kurang lebih 6 tahun setelahnya, dia telah menjadi kepala keluarga idaman, seorang suami yang takut akan Tuhan, seorang ayah yang sangat mengasihi anak-anaknya. Problema keluarga masih tetap ada, tetapi berbeda bentuknya. Kita berdua masing-masing semakin berkembang dalam iman sehingga dapat menghadapinya dalam kasih dan pengharapan.

Anggur perkawinan kami kini jauh lebih manis, dan cinta kami berdua sudah berubah menjadi kasih AGAPE, kasih dari Allah yang lebih kekal, karena kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8 : 28).

(CL – Mei 2009)