Alumni SEP yang Berkarya


Perkenalan saya dengan gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik dimulai ketika saya di SMA. Sekolah saya, St. Albertus di Malang, mempunyai persekutuan doa untuk para murid setiap Sabtu siang, dan juga setiap murid baru disertakan untuk mengikuti retreat awal di Ngadireso.

Sejak itu saya cukup aktif dalam persekutuan doa di sekolah, dan kemudian juga di persekutuan doa muda/mudi St. Theresia Lisieux di Malang. Di PD ini saya mengalami pertumbuhan iman yang luar biasa di bawah bimbingan Romo moderatornya, yaitu Rm. Anton K. Gunawan O.Carm. Di dalam PD ini pula saya mempunyai komunitas yang sangat akrab.Bahkan, di PD ini saya berjumpa dengan calon suami saya, yang sangat mencintai Yesus dan GerejaNya. Setelah lulus kuliah, kami berdua pindah ke Surabaya. Pada tahun 1994, kami menikah di Surabaya. Rm. Anton Gunawan yang memberkati pernikahan kami, dan teman-teman dari PD St. Theresia Lisieux turut menyaksikannya.

Kehidupan pernikahan kami sangatlah berbahagia. Tetapi kesibukan bekerja dan kenikmatan materi yang ditawarkan oleh dunia membuat kami berdua mulai melupakan Tuhan dan gerejaNya. Hal ini terjadi sedikit demi sedikit, tanpa kami sadari. Kadang-kadang kami tidak pergi ke gereja pada hari Minggu dengan alasan karena capek, atau karena pergi ke luar kota. Mula-mula kami merasa sangat bersalah kalau tidak Misa hari Minggu, tapi lama-kelamaan kami menganggap itu hal yang biasa. Kami juga tidak menyediakan waktu untuk berdoa setiap hari. Namun Tuhan yang setia dan mengasihi kami ternyata tidak tinggal diam. Ia terus berusaha untuk memanggil dan mengingatkan kami kembali akan kehidupan kami yang semula.

Setelah lebih dari tiga tahun menikah, kami belum juga dikaruniai anak. Maka kami memutuskan untuk lebih sungguh-sungguh dalam menanganinya. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja, dengan harapan untuk menghilangkan stress dan supaya tidak terlalu capek, karena pekerjaan saya waktu itu sangat sibuk. Kami berobat ke dokter yang cukup ternama di Surabaya. Setiap bulan berobat, dan setiap bulan pula kami berharap, tetapi ternyata anak yang kami harap-harapkan tidak juga datang. Tanpa pekerjaan di rumah dan tidak ada kesibukan yang berarti sambil menunggu-nunggu kehadiran anak yang sangat kami dambakan menimbulkan stress yang baru dalam diri saya. Saya merasa kesepian. Saya mulai berdoa mohon agar Tuhan memberikan jalan keluar kepada saya.

Pada suatu hari Minggu dalam masa pra-Paskah, Tuhan menjawab doa saya. Pada saat pergi ke gereja, saya mendapat sebuah flyer mengenai Sekolah Evangelisasi Pribadi. Pada saat membaca flyer tersebut, saya langsung berpikir, “Inilah yang selama ini saya cari-cari. Hati saya hanya bisa dipuaskan oleh Tuhan sendiri.” Sekarang jika saya mengenang kembali kejadian itu, maka saya teringat akan kata-kata St. Augustine, “My heart is restless until it rests in you, O Lord.”

Segera saya mendaftarkan diri untuk ikut Sekolah Evangelisasi Pribadi. Di sana saya mengalami penghiburan yang luar biasa, saya mendapat komunitas baru. Juga dari PR KATA, membuat saya menjadi disiplin untuk setiap hari menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan melalui doa pribadi dan merenungkan firmanNya. Sampai-sampai saya merasakan seperti orang yang ketagihan akan doa dan firman. Jika sehari saja saya tidak menyediakan waktu untuk doa pribadi dan membaca firman Tuhan, hati saya langsung menjadi gelisah.

Di SEP sendiri, saya sangat menikmati setiap pengajaran yang diberikan. Iman saya yang tadinya lesu dan acuh tak acuh dikobarkan, dan kerinduan untuk melayani membara di dalam hati saya. Saya sering pergi ke Tumpang untuk mengikuti retreat. Suatu hari pada saat retreat di Tumpang, dan pada saat sedang doa Yesus, saya sungguh-sungguh mohon dengan penuh kerinduan kepada Tuhan untuk memberi saya kesempatan untuk melayani Dia. Setelah itu ada suster yang memimpin doa Yesus itu, bernubuat dan mengatakan bahwa ada seseorang yang sangat rindu untuk melayani Tuhan, dan Tuhan mendengar doanya, dan akan menjawabnya. Saya menerima sabda pengetahuan itu untuk saya, dan sangat bersyukur.

Tak lama setelah kembali dari retreat, saya dihampiri oleh seorang pengurus dari SEP, dan ia mengajak saya untuk membantu untuk menjadi singer dalam group pujian dan penyembahan. Saya langsung menerima undangan tersebut, dan bersyukur karena sungguh Tuhan menggenapi janjiNya.

Maka mulailah saya aktif di dalam kepengurusan SEP; selain menjadi singer, saya juga diajak untuk menjadi pemimpin pujian (worship leader), dan bahkan kemudian saya juga diberi kesempatan untuk memberi renungan (membawakan firman). Demikian Tuhan mendidik saya melalui SEP: saya menjadi cinta akan firman Tuhan dan juga disiplin dalam doa pribadi.

Pada tahun 1998 akhir, saya dan suami saya pergi ke Amerika, karena suami saya melanjutkan sekolah di sana. Di Amerika, tanpa saya rencanakan, saya mendapat kesempatan untuk mengambil kuliah S2 dalam bidang Theology. Rm. Anton Gunawan O.Carm, Ibu Judy Nuradi dan Pak Donny Vincent dengan murah hati memberikan surat rekomendasi untuk saya, sebagai salah satu syarat pendaftaran dalam program tersebut, sehingga saya bisa diterima. Semua Tuhan atur dengan luar biasa. Saya mendapat guru-guru yang luar biasa. Bukan hanya luar biasa dalam pengetahuan mereka, tetapi juga luar biasa dalam iman dan hubungan mereka dengan Yesus.

Melalui sekolah ini, saya mengalami pertobatan. Saya yang tadinya berpikir, “Kok, ikut Tuhan harus berpikir ini itu susah-susah amat. Mengapa iman harus dibuat begitu sulit, karena dalam program ini saya harus belajar banyak hal.” Tetapi kemudian saya disadarkan bahwa kita harus mencintai dengan segenap hati dan akal budi, dan bahwa iman dan reason itu tidak bertentangan. Saya mencintai Tuhan dengan lebih lengkap, bukan hanya dengan hati saya tapi juga dengan akal budi dan pikiran saya.

Melalui sekolah ini saya menjadi jatuh cinta habis-habisan dengan GerejaNya yang satu, kudus, katolik dan apostolik itu. Saya jatuh cinta dengan sakramen-sakramen gereja, terutama Sakramen Ekaristi dan Pertobatan. Saya jatuh cinta dengan BundaNya yang kudus. Saya jatuh cinta dengan para santo dan santa, saudara-saudara saya seiman yang sudah memberikan contoh kepada saya untuk setia mengikuti Yesus sampai mati, dan yang setia berdoa untuk saya. Saya jatuh cinta pada bapak Paus, para uskup dan para imam. Saya benar-benar mencintai Gereja Katolik, dan sangat kagum akan kekayaan gereja yang luar biasa. Through this program and by His grace, I can say wholeheartedly that the fullness of truth can only be found in the Catholic Church.

Pertobatan yang saya alami, kemudian juga dialami oleh suami saya. Betapa Tuhan sungguh baik kepada saya sekeluarga. Dan pada semester kedua waktu saya kuliah, tanpa pengobatan apa-apa, saya mengandung. Setelah 6 tahun menikah, kami akhirnya dikaruniai seorang anak. Saat ini putra kami sudah berusia 8 tahun dan sungguh membawa suka cita dalam hidup kami. Kami terus mengalami pertobatan. Benarlah bahwa it is an ongoing conversion. I need to have a conversion on a daily basis.

Saya lulus sekolah pada tahun 2004. Saat ini saya aktif melayani umat Katolik Indonesia di daerah Dallas-Fort Worth, TX, USA. Saya mengajar Katekismus, Bible Study dan sering memberikan pengajaran dalam persekutuan doa dan juga dalam retreat.

Saya menulis ini kisah saya ini pada saat saya sedang berkunjung di Surabaya bulan Desember 2008. Saat ini ibu mertua dan kakak ipar saya sangat aktif melayani di SEP. Mendengar cerita mereka mengenai SEP, dan para pengajar serta pengurus SEP yang setia, sayapun dikuatkan dan disemangati untuk tetap setia melayani Tuhan di manapun saya berada. I should bloom wherever I am planted.

(Kartika – Desember 2008)