Keluarga Kristiani dan Evangelisasi Baru

Sebuah Tantangan Refleksi Biblis
PRAKATA
Dalam tulisan ini akan dibahas – dengan menggunakan metode pendekatan Kitab Suci – manakah peranan keluarga Katolik dalam Evangelisasi? Sejauh mana Kitab Suci dapat mendukung keluarga sebagai pangkal Evangelisasi yang diberi kata sifat ‘baru’? Dengan melihat realita yang ada dimana jumlah panggilan untuk menjadi Imam semakin berkurang dari tahun ke tahun, sementara tugas pewartaan Injil adalah tugas yang harus tetap dijalankan, maka mulai sekarang dan khususnya di masa depan evangelisasi dunia tidak lagi terutama ditangani oleh lembaga dan organisasi misioner yang khusus (tarekat-tarekat kaum religius dikalangan Gereja Katolik; lembaga-lembaga penginjilan di kalangan Gereja Reformasi); tetapi oleh keluarga-keluarga yang terpanggil untuk mengemban amanat tugas perutusan Tuhan Yesus:’…pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…’ ( Mat 28,19 ).

KAUM AWAM YANG BERKELUARGA TULANG PUNGGUNG JEMAAT KRISTEN

Paham Keluarga dalam Kitab Suci

Kiranya tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa selama 3 abad pertama, Injil dan kekristenan disebarluaskan terutama oleh para Awam, mereka yang biasanya hidup berkeluarga. Memang ada juga bentuk hidup lain, yakni hidup membujang atau wadat seperti yang dikisahkan dalam Mat 19,12; Kor 7,25 dst; 1Tim 5,9 dst; Luk 20,35; namun data yang ditampilkan dalam Perjanjian Baru pada umumnya mengandaikan bahwa orang Kristen menikah dan berkeluarga seperti orang-orang lainnya. Cara hidup membujang seperti itu – walau bukan pilihan yang dipilih kebanyakan orang – namun dinilai positif oleh Matius 19,12: dinilai sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Sejumlah teks, khususnya yang menyajikan semacam pedoman atau ‘tata tertib’ keluarga Kristen dapat dibaca dalam Ef 5,22-6, 9; Kol 3,18-4,6; Tit 2,1-10;1Ptr 2, 18-3,7). Para petugas jemaat diandaikan hidup berkeluarga (1Tim3,2.4.12; Tit 1,6; 1Kor9,5).

Secara umum, Perjanjian Baru dan Alkitab bila berbicara tentang ‘keluarga’ , maka apa yang dimaksud dengan keluarga adalah keluarga besar, bukanlah keluarga inti (suami-istri serta anak-anak yang belum dewasa). Keluarga inti semacam ini baru muncul pada abad XVII terutama di kawasan Barat. Yang biasa dalam Alkitab adalah keluarga besar yang mencakup suami-istri, anak-anak, kakek-nenek, pembantu dan orang-orang lain yang bergantung pada keluarga ini. Tatanan keluarga demikian bersifar patriarkhal: Bapa/kepala keluarga mempunyai wewenang penuh untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah keluarga; ekonomi, keamanan, relasi dengan sesama warga dan dengan penguasa. Walau model keluarga semacam itu yang melatarbelakangi Kitab Suci, namun tidak boleh dinilai sebagia satu-satunya model yang dapat diterima oleh umat beriman. Model keluarga lain seperti keluarga inti adalah suatu kemungkinan model yang mungkin pula diterima. Keluarga bukanlah ciptaan iman Kristiani melainkan adalah product dari suatu masyarakat tertentu dengan budaya tertentu yang senantiasa mengalami perubahan (inovasi) seiring dengan perkembangan zaman. Lambat laun model keluarga besar sudah mulai ditinggalkan dan masyarakat bergerak untuk menerima model keluarga inti sebagaimana nampak di kota-kota besar.

Keluarga sebagai tulang Punggung Jemaat

Kaum awam/mereka yang berkeluarga selama tiga abad pertama Kekristenan menjadi penyalur utama iman dan tradisi Kristen serta penyebar Injil dan penganjur Evangelisasi. Hal ini tentu bisa dimengerti mengingat situasi dimana jumlah ‘missionaris profesional’, seperti Paulus sangat langka. Suatu lembaga atau organisasi ‘missioner’ mirip dengan tarekat-tarekat kaum religius seperti yang ada sejak abad ke XVI belum ada dan belum terpikirkan pada waktu itu. Maka dalam situasi seperti itu, kaum awam sungguh tampil di garda depan sebagai missionaris. Di samping para awam ada juga sekelompok orang yang juga mempunyai perhatian khusus terhadap Kekristenan yang bertugas secara khusus untuk membela Kekristenan terhadap kritik yang dilontarkan oleh para cendekiawan kafir serta rasa curiga negara ataupun pengecam Kekristenan. Mereka bukanlah missionaris seperti halnya kaum awam, tetapi adalah ‘Apologer’, Pembela dan Penjaga ajaran Iman Kristen yang benar.

Dalam surat-surat ‘katolik’ (7 karangan yang agaknya muncul menjelang akhir abad I dan tercantum dalam Perjanjian Baru: surat Yakobus, surat Petrus pertama dan kedua, surat Yohanes pertama, kedua dan ketiga dan surat Yudas) tidak nampak lagi semangat/spirit missioner agresif yang menggerakkan Santo Paulus dalam misinya mewartakan Injil. Jemaat-jemaat yang dituju oleh 7 karangan tersebut diatas mengalami kesulitan baik yang sifatnya internal maupun external. Diskriminasi, fitnahan, gangguan dalam menghayati dan mewujudkan imannya adalah fakta yang sangat jelas menunujukkan bagaimana umat mengalami situasi external yang tidak akomodatif terhadap kehadiran mereka. Dalam situasi yang demikian itu ke 7 surat/karangan ‘katolik’ itu bermaksud untuk mendorong umat agar mereka berani memberikan kesaksian tentang Injil, menyebarkannya serta meresapkannya ke dalam kebudayaan melalui cara hidup Kristen sambil mempertahankan jati dirinya sebagai seorang dan jemaat Kristen. Sejumlah teks Kitab Suci dapat memberikan informasi mengenai hal ini, misalnya; 1Ptr 2,9.12.15.17; 3,1-2.9.13-16; 4,4.5.15-16. Surat-surat Pastoral (1dan2 Timotius, Titus) tentu saja tahu akan Paulus, sang missionaris (1Tim 2,7;2 Tim 2,9), tetapi tidak ditemukan suatu anjuran untuk meneruskan karya missioner dengan cara seperti yang telah dibuat oleh Paulus.Apa yang ditemukan adalah anjuran untuk membina jemaat menjadi semacam’mercu suar’ yang memancarkan Injil kedalam masyarakat sekitarnya.

1 Tim 3, 15-16 memakai suatu gambaran yang bagus. Jemaat Kristen disebut ‘rumah/keluarga Allah’. Rumah/keluarga Allah itu dibandingkan dengan suatu tugu tinggi (tiang) yang bertumpu pada suatu landasan yang lebar dan kokoh kuat. Pada landasan itu – menurut 2 Tim 2,9 – terpahat suratan : ‘ Tuhan Yesus mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘ Setiap orang(orang Kristen) yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan’. Di puncak tugu itu bertenggerlah ‘Kebenaran’, ialah Injil yang diringkas dalam 1Tim 3,16. Dengan demikian jemaat Kristen merupakan semacam mercu suar serentak kenisah Allah yang dengan Injil bagai lampu sorot menyinari masyarakat dan menarik orang luar untuk bergabung denganKristus (bdk Yoh 12,32) dan dengan paguyuban Kristen sama seperti jemaat Perdana di Yerusalem yang digambarkan dalam Kis 2, 46-47. Tentu saja agar dapat bertahan sebagai mercu suar jemaat harus mempertahankan dan memperkokoh identitasnya sebagai jemaat Kristen (1Tim 6, 3-4.20; 2 Tim1, 13-14; 2,2; 4,14; Tit 2,9 dst) agar berdampak dalam masyarakat. Tampak dengan jelas bagaimana dengan gaya hidupnya jemaat mempengaruhi masyarakat.

Meskipun surat-surat Katolik dan surat-surat Pastoral tersebut tahu akan adanya petugas jemaat, namun jemaat yang menjadi mercu suar itu terbentuk oleh kaum awam yang berkeluarga. Kebudayaan Yunani-Romawi di zaman Perjanjian Baru berpusat pada kota dan kota berpusatkan keluarga besar terkemuka. Demikian juga kekristenan di zaman Yunani-Romawi (sampai abad V) berpusatkan kota. Selama kekristenan merupakan minoritas dan dicurigai dalam masyarakat , jemaat-jemaat Kristen pun berpusatkan pada keluarga ( terkemuka), artinya jemaat-jemaat yang tidak mempunyai bangunan ‘gereja’ dan fasilitas lainnya terorganisasikan di sekitar salah satu keluarga (besar) terkemuka yang mempunyai rumah besar dan mampu menyediakan fasilitas lain yang perlu. Apa yang dikatakan dalam 1Kor 11,17dst. Tentang jemaat (mungkin beberapa jemaat) yang berkumpul di suatu tempat(bdk ay20) untuk mengadakan perjamuan Tuhan mempunyai latar belakang semacam ini. Seluruh jemaat Kristen di kota Korintus datang berkumpul di rumah seorang anggota terkemuka (dan kaya) yang mempunyai rumah cukup besar untuk menampung segenap umat serta menyediakan apa yang perlu untuk kepentingan ibadat termasuk makanan dan minuman. Paulus mengecam jemaat oleh karena dalam pertemuan itu nampaklah adanya perbedaan dan diskriminasi sosial (kaya-miskin, merdeka-budak dan sebagainya). Karena itu ia menyuruh agar acara makan-minum (pesta) dihentikan. Perbedaan dan diskriminasi semacam itu tidak sesuai dengan acara inti pertemuan, yakni perjamuan Tuhan.

Beberapa kali dalam Perjanjian Baru ditemukan ungkapan ‘jemaat di rumah orang tertentu’ (Rm. 16,5; 1Kor 16,19; Kol4,15; Flm 2). Terjemahan Latin mengalihbahasakan ungkapan itu dengan ‘ecclesia domestica’ (gereja rumah). Dari situ berasallah pandangan ( yang sebenarnya tidk tepat) bahwa suatu keluarga Kristen menjadi suatu ‘gereja kecil’ (ecclessiola). Gereja besar atau kecil pertama-tama berdasarkan pada iman, dibangun oleh iman dan bukan pada hubungan antar manusia. Konsili Vatikan II dan khususnya Paus Yohanes Paulus II suka memakai istilah ‘keluarga sebagai gereja kecil’.

Yang dimaksudkan oleh Perjanjian Baru dengan ungkapan tersebut adalah jemaat setempat yang kurang lebih besar, berkumpul di rumah/anggota keluarga yang terkemuka dan berada. Keluarga besar itulah yang menjadi pusat dan poros seluruh jemaat itu. Tuan rumah kiranya bertindak kurang lebih sebagai pemimpin perkumpulan jemaat itu. Filemon 2 paling jelas mengungkapkan soal ini. Demikian juga dalam Perjanjian Baru beberapa kali tercata statemen ‘ salah seorang dengan seisi rumahnya menjadi percaya’, artinya dibaptis dan menjadi Kristen. Yang dimaksudkan dengan seisi rumah adalah keluarga besar seperti yang sudah disebut dimuka : suami-istri, anak, sanak saudara, budak, pembantu dan sebagainya (bdk Kis 10,2.24.48; 11,14; 16,15.31; 18,8; 1 Kor 1,16). Kiranya ada pengandaian umum bahwa bila kepala keluarga masuk Kristen maka semua bawahannya ikut masuk Kristen sesuai dengan struktur patriarkhal keluarga Yunani. Tentu saja orang secara pribadi – lepas dari salah satu keluarga – dapat masuk Kristen dan kemudian menggabungkan diri dengan jemaat yang berpusatkan salah satu keluarga. Keluarga semacam itulah yang menjadi pusat, poros dan tulang punggung jemaat setempat.
Dengan demikian kaum awam yang berkeluarga mesti disebut ‘tenaga inti jemaat’ dan bukan ‘imam, suster dan bruder’ seperti biasa dikatakan tentang peranan mereka dalam Gereja Katolik di Indonesia.

Diambil dari Musafir MSF
Tulisan : Rm. DR. I Ketut Adi Hardana, MSF