Doa Yang Mengubah Pribadi

Apabila kita melihat judul tulisan ini, pemikiran kita akan ditarik kepada suatu pemahaman bahwa ada suatu bentuk doa yang dapat membuat orang berubah, tentunya dari sesuatu yang negatif (buruk) menjadi positif (baik).

Sebenarnya, setiap doa yang dihayati dan dilakukan dengan benar mempunyai kuasa. ‘Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya’ (Yak.5:16). Kuasa Allah tentunya tidak hanya terbatas pada suatu hal tertentu saja, melainkan dalam segala hal, antara lain bahwa doa pasti mampu untuk mengubah pribadi manusia. Dalam surat Santo Paulus kepada umat di Roma bab 8 ayat 29, kita menemukan dengan jelas apa sebenarnya panggilan kita sebagai orang Kristen : ‘…. semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang.sulung di antara banyak saudara’. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam kubangan dosa (Kej. 3), maka semua orang menjadi manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rom.3:23).

Namun, oleh karena kasih karunia dan rahmat Allah, melalui penebusan Kristus Yesus, manusia dipulihkan kembali dalam perdamaian dengan Allah. Dengan demikian kita disadarkan kembali akan besarnya kerinduan Allah untuk kembali mengadakan persatuan dengan manusia yang diciptakanNya sejak maksud awal segambar dengan DiriNya. Gambaran jelas terungkap nyata melalui hidup Yesus Kristus sendiri, Anak Allah Bapa yang dikasihi dan dikenanNya. Salah satu jalan yang diajarkan oleh Gereja untuk mencapai tujuan panggilan itu adalah doa.

Uskup Ireneus dari Lyons-Perancis (+202) membuat suatu pernyataan:
‘Kemuliaan Allah adalah pribadi manusia yang sepenuhnya hidup. Hidup bagi manusia adalah memandang Allah’. Dan konteks yang jarang disebutkan adalah : ‘Kemuliaan Allah memberi kehidupan. Mereka yang mengontemplasikan Kristus memperoleh bagian dalam kehidupan itu’

Pandangan ini didasarkan kepada Kitab Kejadian 1 : 26-27. Gereja Timur menyambut teks ini dengan sungguh-sungguh sehingga menjadikannya sebagai dasar doa umat beriman demi martabat panggilannya sebagai manusia yang mulia : Aku tetaplah ikon dari kemuliaanMu yang tak terkatakan, biarpun wajahku rusak tercakar oleh dosa.

Karl Rahner, seorang teolog besar di zaman ini, mengatakan : ‘Di masa mendatang seorang Kristen harus seorang mistikus atau dia tidak akan ada sama sekali’.

Orang-orang Kristen statistik berbahaya akan lenyap. Apabila orang berdoa, apakah di dalam gereja, di biara, di rumah masing-masing, atau dalam kumpulan umat seiman, hanya untuk bertahan dalam status atau statistiknya, tidak akan tertolong. Bilamana doa hanya dinilai sebagai suatu penjadwalan yang harus ada bersamaan dengan penjadwalan jam kerja, serta memandang bahwa keduanya mempunyai kedudukan yang sama penting, maka suatu saat, orang akan memenangkan jam kerja dan mengalahkan jadwal jam doa jika betul-betul terjebak di dalam kesibukan. Di sini terbukti akan adanya suatu penilaian praktis bahwa kerja tidak dapat ditinggalkan sedangkan doa dapat.

Yesus dan kehidupan DoaNya

Belajar dari pengalaman Yesus sendiri tentang kehidupan doaNya, kita melihat bahwa ternyata doa merupakan yang utama, yang harusnya menjadi dasar penggerak dari seluruh kehidupan manusia. Injil membeberkan kepada kita bahwa Yesus memandang doa kepada Allah BapaNya merupakan tugas tertinggi dan utama, yang menentukan gerak dan arah hidupNya.

Sebelum mulai dengan pelayanan, sesudah dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis, setelah selama empat puluh hari empat puluh malam berdoa dan berpuasa. Di sinilah ujian pertama dihadapi oleh Yesus dan dapat dimenangkannya dengan gemilang.

Markus 1 : 35, sebelum hari terang, pagi sekali, Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa, demikian pula sesudah selesai melakukan pelayanan seharian, Dia menyuruh murid-muridNya untuk lebih dulu menyeberangi danau, ke Betsaida, sedangkan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa (Mrk. 6 : 45-46).

Ketika menghadapi ketakutan dan kegentaran yang hebat sebelum kematianNya di kayu salib, yang dilakukanNya : bukan melarikan diri dari kematian itu, melainkan lari kepada BapaNya di sorga dalam doa dan memperoleh kekuatan ilahi sehingga Dia berani menerima kehendak BapaNya dan menghadapi kematian bagi keselamatan umat manusia. (Mat. 26 : 36-46).

Doa yang sungguh-sungguh

Apabila kita tidak mempunyai hidup doa pribadi, maka keadaan rohanipun akan menjadi dangkal, dan demikian pula dengan bagian hidup yang lain, akan menjadi datar-datar saja. Tidak mungkinlah kita akan menang dalam perjuangan melawan kedagingan, apalagi untuk menjadi seperti Yesus, Ibu Maria dan orang-orang kudus dalam Gereja Katolik yang sungguh diakui kesucian mereka karena begitu mencintai Allah dan rela untuk memperkenankan hanya kehendak Allah Bapa yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Belum cukuplah jika kita hanya berusaha hidup dalam kesalehan, bersikap baik-baik saja, tanpa pernah di dalam doa mengalami perjumpaan dengan Tuhan, yang sungguh akan mempengaruhi hidup kita. Seringkali kita tergoda untuk mencapai suatu prestasi dalam doa, misalnya : bangga karena telah berhasil selama bertahun-tahun dengan setia tanpa henti berdoa dalam beberapa jam sehari.

Apakah tujuan doa hanya terbatas sampai di situ? Bila tidak berhati-hati, maka mengejar prestasi dalam doa malah akan melahirkan kesombongan rohani dan bukannya kerendahan hati sebagaimana merupakan salah satu sifat Yesus yang terpenting.

Yang terpenting dalam doa, bukan metode-metode yang harus dilakukan, tehnik-tehnik yang menarik, melainkan apakah doa kita sungguh-sungguh merupakan suatu pengalaman relasi dengan Allah yang semata-mata dipenuhi oleh nuansa kasih yang indah, sebagaimana halnya bila terjadi perjumpaan antara dua orang kekasih yang saling mencintai, membutuhkan dan menghargai.

Bilamana hal itu yang terjadi, maka doa akan mempunyai nilai yang sangat kaya dan bermanfaat untuk mempengaruhi perubahan pribadi kita.

Dalam pertemuan kelompok Marriage Encounter, sepasang suami istri sedang membagikan pengalaman pribadi mereka. Sang istri mengatakan : ‘Pada saat suamiku memandangku, aku merasa lebih luhur dan lebih berharga daripada kalau aku memandang diriku sendiri. Aku merasa diriku jauh lebih mampu.’ Lalu, suaminya menambahkan : ‘Ketika mengalami tatapan penuh cinta dari istriku, aku merasakan adanya perkembangan batin yang sepertinya tak pernah muncul kalau aku memandang diriku di cermin.’

Menurut Jean Vanier, cinta ‘menampakkan kepada seseorang keindahannya sendiri’. Memang sebagai manusia, kita membutuhkan bantuan orang lain untuk menemukan keindahan dalam diri kita.

St. Ignatius menekankan hal ini, saat menganjurkan kita untuk mengawali doa dengan hening dan merenungkan bagaimana Allah memandang kita dengan tatapan mata penuh kasih. Sedangkan Nabi Zefanya menggambarkan inti doa adalah bahwa Tuhan memandangku dengan cinta dan senang hati, bahwa Dia bersukaria karena kehadiranku sebagai berikut :
‘Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan perang yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasihNya, Ia bersorak sorai karena engkau dengan sorak sorai, seperti pada hari pertemuan raya.’ (Zef. 3 : 17-18a).

Hagar, yang karena ditindas oleh Sarai tuannya pada waktu mengandung anak dari Abram, melarikan diri ke padang gurun dan berjumpa dengan Malaikat Tuhan di dekat mata air di jalan ke Syur, akhirnya menamakan Allah dengan sebutan El-Roi (Allah yang melihat), dan katanya:

‘Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?’ (Kej. 16). Pengalaman bahwa Allah selalu memandangnya dengan kasih, memberikan kekuatan baru kepadanya untuk meneruskan hidupnya.

Penulis Mazmur 139 melukiskan pandangan Allah yang memberikan hidup secara lebih intim lagi
‘Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku …….Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu ……… MataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.’ (ayat 13-16).

St. Agustinus berdoa dengan penuh keyakinan : pandanglah aku, agar aku mencintai Engkau.

Allah selalu memandang kita dengan terang cinta tanpa batas, karena itu beranilah kita berdoa dengan penuh kejujuran dan apa adanya, tidak menyembunyikan kekurangan-kekurangan diri maupun kelemahan yang ada, karena Dia melihat dan memahami kita sebagai mahluk ciptaanNya dan milik PribadiNya.

Doa yang membentuk pribadi

Doa yang murni inilah yang sangat berguna bagi pembentukan pribadi kita apabila dengan terbuka dan rendah hati kita mau menerima rahmat terang kasih Allah yang membuat kita mampu memahami betapa masih perlunya kita dibentuk menjadi semakin murni dan kemudian dengan memohon rahmat Allah dan mau bekerja sama dengan Allah sendiri untuk mengalami perubahan diri, sebagaimana yang tertulis di dalam 1 Ptr 1 : 14-16. ….. menjadi kudus dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus ……. Dan di dalam pandangan Allah kita menemukan cintaNya : cinta Allah yang menciptakan kita menjadi indah, serupa dengan GambarNya dan serupa dengan Gambar PutraNya, yaitu Yesus Kristus.

St. Agustinus (354-430) Pujangga Gereja yang mengajar mencari kesempurnaan dengan penguasaan diri dan melakukan keutamaan ilahi : iman, harapan dan kasih (1 Kor. 13 : 13), mengatakan : orang yang tahu berdoa dengan baik, sungguh tahu berhidup baik. Dalam kesadaran bahwa manusia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencapai kesempurnaannya, maka doa-lah satu-satunya jalan untuk meningkatkan tahap demi tahap menuju kesempurnaan.

Macam-macam doa yang diajarkan oleh para Pendoa Besar dalam Gereja, misalnya :

1. Rumusan mengenai tingkatan doa (St.Yohanes Damscenus : 675-749)
– doa badan/doa lisan.
– doa hati/doa batin.
– doa budi dan hati.
– doa rohani : istilah yang dipergunakan untuk kontemplasi.

2. Doa tak henti-hentinya, yang kita temukan antara lain dalam doa Yesus.

3. Doa kontemplasi lewat lectio divina.

4. Empat tahap perkembangan doa yang diajarkan oleh St. Theresia Avila (1515-1582):
a. Meditasi diskursif, dengan merenung, menimbang-nimbang, diibaratkan sebagai menyiram
tanaman dengan menimba air, susah payah namun hasil sedikit.
b. Doa afektif (hening), diibaratkan dengan usaha mendapatkan air dengan kincir, lebih ringan hasil lebih banyak.
c. Doa istirahat dalam Tuhan, menemukan sumber air yang mengalir sendiri dengan limpah, susah payah.
d. Doa persatuan dengan Tuhan, ibarat turunnya hujan, tinggal mengalami kenikmatan.

5. Latihan rohani (St. Ignatius Loyola).

Bukan hanya sejumlah inilah kekayaan doa dalam Gereja. Masih banyak lagi macam ragamnya.

Namun yang terpenting adalah bagaimana kita berani memilih arah, satu dan dengan mantap ditekuni, betapa besarnyapun pengorbanan yang harus dilakukan, tetap diikuti dan dilaksanakan dengan setia.

Doa pada akhirnya memberikan kesadaran kepada manusia bahwa dirinya adalah alat yang digerakkan dalam tangan Tuhan. Dalam setiap doa akan diusahakan unsur pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan, adanya sapaan, dialog, sentuhan, atau sekurang-kurangnya kesadaran penyerahan diri kepada Tuhan akan selalu ada, walaupun kadang-kadang hal itu tidak dapat dirasakan.

Dalam doa, kita berusaha menyambut rahmat Allah yang membebaskan kita dari dorongan kuat untuk mengutamakan dan meninggikan diri sendiri, serta membiarkan kita diantarkan ke dalam relasi cinta sempurna antar ketiga Pribadi : Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pertumbuhan dan keberhasilan hidup kita sangat bergantung kepada keterbukaan terhadap rahmat yang dianugerahkan secara cuma-cuma kepada kita.

Pada akhirnya kita menyadari bahwa agar dapat berdoa dengan benar, sungguh-sungguh membutuhkan rahmat dan kasih karunia Allah semata, dan tidak akan dapat tercapai jika hanya melulu mengandalkan usaha manusia, sebagaimana Paulus dapat berkata :
‘Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.’ (1 Kor. 15 : 10).

Sumber :
PERKEMBANGAN HIDUP DOA, A.Soenarja, SJ. : Penerbit Kanisius Jogjakarta, 1987.
BIARLAH KEMULIAAN ALLAH TERPANCAR, Peter G. van Breemen, SJ. : Penerbit Kanisius Jogjakarta, 2000.

Ditulis oleh : MHM Judy Nuradi